Penyakit yang muncul pada tanaman sejak benih ditanam sampai panen disebut penyakit sebelum panen atau disebut pre harvest disease, sedangkan penyakit yang muncul dari saat panen sampai hasil panen dikonsumsi disebut penyakit pasca panen /lepas panen atau post harvest disease. Gangguan hasil pertanian dapat langsung terjadi pada buah, daun. biji dan bunga yang berakibat berkurangnya produksi setelah dipanen, namun dapat juga terjadi pada bahan yang disimpan khususnya biji-bijian, yang tidak selalu dapat terlihat karena kerusakan hanya dalam bentuk kualitas, namun dapat juga gangguan tersebut terjadi pada produk yang mampu menghasilkan toksin dan sangat berbahaya bagi hewan maupun manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerusakan kualitas dapat dilakukan dengan pengelolaan, pengeringan dan pengangkutan yang baik. Penyimpanan yang kurang baik dapat berakibat berkembangnya jasad renik, dimana serangan jasad renik tersebut akan menimbulkan perubahan kima di dalam biji.Kerusakan yang terjadi dapat berupa: a) perubahan warna biji-bijian yang disimpan; b) terjadi susut berat dan volume dari biji-bijian yang disimpan; c) daya tumbuh biji yang disimpan menurun; d) terjadi perubahan biokimia di dalam biji –bijian yang disimpan; e) kemungkinan timbulnya toksin dari biji-bibjian yang disimpan.Selain kerusakan-kerusakan tersebut, penyakit-penyakit di tempat penyimpanan yang khususnya disebabkan oleh jamur juga patut mendapat perhatian karena: a)jamur terdapat di mama-mana; b) jamur cepat tumbuh; c) jamur bersifat juga sebagai pengurai.Keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan pencegahan terhadap kerugian hasil akan berakibat: a) lebih banyak bahan pangan yang dikonsumsi oleh petani; b) lebih banyak bahan pangan yang dapat dijual oleh petani; c) standar hidup petani lebih baik; d) lebih banyak bahan pangan yang diperlukan oleh non petani; e) kualitas tinggi dan adanya persaingan ekspor dalam dunia perdagangan; f) ekonomi negara menjadi sehat dan dapat memperrbaiki standar internasional.Kehilangan hasil dapat terjadi pada berbagai tingkatan dari lapang sampai konsumen dan kerusakan dapat terjadi di tempat pengangkutan, pengolahan dan tempat penyimpanan. Kehilangan hasil dapat berupa kehilangan kualitas maupun kuantitas dimana terjadinya dapat terpisah atau secara bersama-sama. Kehilangan atau kerusakan kualitas sangat berpengaruh terhadap produsen karena selain harga turun, kerusakan juga sangat berpengaruh terhadap nilai giji dari biji-bijian tersebut. Penyakit dalam simpanan pada komoditas jagung dan kedelai perlu mendapat perhatian yang searius karena: a) Masalah penyimpanan biji jagung. Pada mulanya biji-biji jagung disimpan dengan kandungan air 15,5 % adalah aman dari kerusakan untuk beberapa tahun penyimpanan. Namun selanjutnya penyimpanan tersebut menjadi tidak aman, karena tergantung pada suhu jagung yang disimpan tersebut dan tingkat infeksi awal dari jagung tersebut oleh jamur simpanan. Selain faktor-faktor di atas, ditentukan juga oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan penyimpanan.b) Masalah penyimpanan kedela. Kedelai merupakan bahan pangan yang sukar untuk disimpan. Penyimpanan dengan kandungan air diatas 11% akan menurunkan kualitas kedelai, sebab kedelai tersebut akan mudah untuk diserang jamur simpanan dan menjadi busuk. Kandungan air kedelai untuk jenis 1,2,3 dan 4 yang diberikan oleh Official Grain Standards of the United State adalah 13%, 14%, 16% dan 18% sedang suhu penyimpanan cocok untuk pertumbuhan jamur, maka bahan kedelai tersebut akan diserang secara lambat oleh jamur simpanan, sedang kalau disimpan dengan kandungan air 14% atau lebih, kedelai tersebut akan cepat terserang dan rusak oleh jamur simpanan dalam beberapa minggu, kecuali suhu yang rendah sehingga jamur tidak dapat tumbuh cepat. Jadi bibji-biji kedelai akan aman disimpan jika kondisi penyimpanan yaitu suhu dan kandungan air kedelai tidak mendorong untuk pertumbuhan jamur.Masa sebelum penyimpanan, baik dimulai dari saat pertanaman, saat pemanenan, saat pengangkutan, saat pengolahan dan saat penyimpanannya sendiri perlu sekali diadakan pengawasan baik terhadap patogennya sendiri maupun terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit tersebut. Sebagai contoh, dalam masa pertanaman perlu diperhatikan biji-biji yang akan ditanam, apakah perlu diadakan perawatan biji, begitu pula bijibiji yang akan ditanam diperlukan biji-biji dari varietas yang tahan terhadap hama maupun pathogen. Perawatan tanaman perlu dilakukan misalnya dengan pemupukan maupun dengan penyemprotan hama dana pathogen. Saat panen perlu juga difikirkan cara-cara yang praktis sehingga kehilanagn hasil tidak terlalu tinggi. Begitu juga pengangkutan, pengolahan dan penyimpanannya perlu difikirkan kebersihan dari biji-biji yang akan disimpan sehingga biji-biji tersebut mudah terkontaminasi dengan benda-benda asing lain yang nantinya akan memudahkan biji-bijitersebut terserang jamur-jamur simpanan. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanan pada Pusluhtan)/Sumber: Penyakit-penyakit Pasca Panen Tanaman Pangan oleh Prof. Dr Ir. SIti Rasminah Chailani.2010