Loading...

Atabela, Solusi Jarwo Hemat Biaya

Atabela, Solusi Jarwo Hemat Biaya
Atabela, Solusi “Jarwo Hemat Biaya” Tanam merupakan proses awal dari budi daya tanaman padi, dalam proses tanam ini masalah yang timbul terutama di daerah perkotaan adalah tenaga kerja tanam. sistem pertanian di kecamatan babulu sangat jauh sangat berbeda dengan daerah Jawa pada umumnya. Disini rata-rata petani memiliki sawah 3 ha lebih dan jarang sekali ada petani yang memiliki lahan dibawah 1 ha. Kondisi itulah yang membuat sistem pertaniannya sangat jauh berbeda, contohnya untuk sistem tanam, rata-rata di Pulau Jawa menggunakan sistem tanam pindah (tapin) sedangkan di sini kebanyakan petani menggunakan sistem tanam tabur benih langsung (tabela). Tabela ini dipilih oleh banyak petani karena waktu tanam yang cepat, harga jauh lebih murah karena tidak ada sewa buruh tanam, dan efektif (tidak banyak perawatan). Namun dalam perjalanannya, sistem atau pola tanam tersebut disamping memiliki banyak kelebihan, ternyata menyimpan beberapa kekurangan yang dapat dianggap cukup fatal bagi para petani, dimana ternyata sistem tabela ini membuat jarak tanam menjadi sangat rapat antara rumpun padi yang satu dengan yang lainnya, karena dengan kondisi seperti ini membuat kelembaban pada tanaman semakin tinggi. Tingginya kelembaban ini sangat disukai oleh beberapa jenis hama maupun penyakit tanaman padi diantaranya hama jenis wereng cokelat dan panyakit yang disebabkan oleh jamur seperti blast. Hal ini pula yang mendorong masyarakat khususnya petani padi untuk melakukan inovasi-inovasi, dimana saat ini telah dikembangkan alat bantu tabela atau sering disebut a-tabela (alat tabela) yang bertempat di kecamatan waru, kabupaten Penajam Paser Utara Kaltim. Alat tabela yang awalnya bekerja dengan menggunakan pipa paralon yang diberi lubang-lubang kecil sebagai tempat jatuhnya benih padi, lalu di bagian ujung kanan dan kirinya ditambahkan roda, saat ini produsen atabela di kecamatan waru tersebut mengubahnya menjadi atabela yang lebih cerdas dan praktis, dimana tempat benih diganti dengan potongan botol 1 liter-an yang dipasang terbalik, disusun pada kayu dengan panjang sekitar 120 cm dengan menyesuaikan pola tanam jarwo 4-1, lalu bagian bawah di tutup dengan pelat besi yang dapat dibuka dan tutup dengan cara menggeser menggunakan tuas kayu yg dihubungkan ke bagian kemudi. Penggunaannya pun sangat mudah, karena petani hanya perlu mengatur langkah ketika menarik alat tersebut untuk membuat jarak yang tepat atau tidak terlalu rapat antara benih yang jatuh ke tanah. Benih yang telah jatuh ke tanah akan menempel pada tanah becek d sawah, sehingga akan membentuk jalur tanam jajar legowo dengan pola 4-1 dengan sendirinya. Setiap melangkah, operator menarik tuas pembuka botol penampung bibit, sehingga langkah tersebit akan menentukan jauh atau dekatnya jarak tanam yang terbentuk. Semakin lebar jarak langkah maka semakin lebar pula jarak tanam antara rumpun padinya. Dengan adanya alat tersebut diharapkan para pelaku utama atau petani semakin terdorong untuk melakukan tanam dengan pola jajar legowo, yang tentu saja dengan jarak yang tepat akan meningkatkan hasil produksi hingga 25%. Selain itu perawatannya juga lebih mudah dilakukan karena adanya jarak atau legowo sebagai tempat jalan petani ketika melakukan penyiangan, pemupukan dan penyemprotan. Oleh : Faizal Rahman, S.TP. Penyuluh PertanianPertama BPP Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara Provinsi Kaltim Referensi : Abdillah, H. 2016. www.agrindoculture.com/2016/02/11/alat-tabela-khas-petani-sulawesi- selatan/amp/. Diakses pada 21 Agustus 2016 Anonim. 2011. www.sulteng.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/diseminasi/2009/328/-alat- tanam-benih-langsung-atabela-jajar-legowo-21. Diakses pada 21 Agustus 2016 Wahyono, Sam. 2016. www.krenovabalitbangjateng.com/alat-tanam-benih-padi-tabela/. Diakses pada 21 Agustus 2016