Akibat serangan yang ditimbulkan, membuat rasa gelisah. Bahkan akibatnya, berdampak pada diderita kerugian ekonomi. Jika tidak diwaspadai, bukannya meraup keuntungan, tapi malah "buntung", alias rugi total. Tingkah laku si "Downey mildew", memang harus diwaspadai sejak dini. Biasanya, tanaman yang terserang sulit mencapai fase berproduksi, bahkan resiko tanaman mati sebelum berproduksi. Jika sudah mewabah, akan menyebabkan kehilangan hasil minimal 30 % bahkan tanaman tidak akan menghasilkan sama sekali. Gejala Si Downey mildew , adalah nama keren penyakit bulai pada tanaman jagung. Penyakit bulai pada jagung yang disebabkan oleh cendawan jenis Peronosclerospora sp. Penyakit bulai, merupakan penyakit jagung yang paling berbahaya. Oleh karenanya, tingkah polahnya selalu menjadi momok bagi petani jagung di Indonesia. Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik, biasanya memanjang sejajar tulang daun, dengan batas yang jelas, dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik, tampak dengan jelas pada pagi hari. Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuknya anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berbuah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek. Tanaman jagung mengalami periode kritis antara umur 1 – 5 minggu, apabila selama masa periode kritis tersebut tanaman tidak menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa menghasilkan tongkol. Siklus hidup Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji, namun tidak begitu penting sebagai sumber inokulum. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. Apabila bijinya yang terinfeksi, maka daun kotiledon selalu terinfeksi, tapi jika inokulum berasal dari spora daun kotiledon tetap sehat. Yang perlu diketahui petani adalah penyebarannya. Kelembaban dan suhu udara merupakan faktor yang berpengaruh kuat dalam perkembangan penyakit bulai. Kelembaban lebih 80%, suhu berkisar 28 – 30 derajat celcius yang disertai embun ternyata dapat mendorong perkembangan penyakit. Tanaman inang Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat), Digitaria spp. (jampang merah), Euchlaena spp. (jagung liar), Heteropogon contartus, Panicum spp.(millet, jewawut), Setaria spp.(pokem/seperti gandum), Saccharum spp.(tebu), Sorghum spp., Pennisetum spp.(rumput gajah), dan Zea mays (jagung). PenyebabBeberapa penyebab mewabahnya penyakit bulai diantaranya: pertama; penanaman varietas jagung rentan bulai, kedua; penanaman jagung yang berkesinambungan, ketiga; efektivitas fungisida rendah akibat dosis dikurangi atau dipalsukan, keempat; tidak adanya tidakan eradikasi, kelima; adanya resistensi bulai terhadap fungisida metalaksil, keenam; peningkatan virulensi terhadap inang tanaman jagung. PengendalianTeknologi pengendalian penyakit bulai pada jagung yang umum diterapkan adalah penggunaan varietas tahan, pemusnahan tanaman terinfeksi, pencegahan pada fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil, pengaturan waktu tanam agar serempak, pergiliran tanaman. Usaha yang dilakukan bekerjasama dengan petugas hama dan penyuluh lapangan. Untuk kegiatan pemusnahan tanaman terinfeksi dengan mencabut tanaman jagung yang terindikasi dijangkit penyakit bulai, saat di kebun jagung siapkan karung. Cabut tanaman jagung yang sakit, segera masukkan ke dalam karung, jangan diletakkan pada parit, atau ditumpuk disekitar tanaman sehat, apalagi diberi makan untuk ternak. Setelah terkumpul penuh, bikin lubang, masukkan bersama karung dan timbun. Ditulis Kembali : Dani Medionovianto Sumber : BPTP Bali