Loading...

BAGAIMANA PENGGUNAAN PESTISIDA YANG BENAR DAN BAIK

BAGAIMANA  PENGGUNAAN  PESTISIDA YANG  BENAR  DAN BAIK
Salah satu unsur yang dapat mempertahakan produksi padi adalah pengendalian hama secara terpadu. Namun justru banyak para petani yang salah kaprah dalam memandang pestisida sebagai obat dan sembarangan dalam penggunaannya, sehingga tidak jarang pula petani mengalami pusing-pusing dan bahkan beberapa kasus meninggal dunia pada saat menyemprot seperti yang terjadi di Desa Lombang Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu. Untuk mengantisipasi jatuhnya korban-korban berikutnya Balai Pengkajian Teknologi Lembang bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu pada tanggal 24 Maret 2017 melakukan sosialisasi penggunaan pestisida yang baik dan benar. Pada kesempatan itu Kepala Bidang Tanaman Pangan mewakiliKepala dinas Pertanian menjelaskan bahwa secara nasional beras sudah surplus program selanjutnya adalah pengembangan palawija jagung dan kedele. Kabupaten Indramayu ditargetkan jagung dan kedele di Tahun 2018. Areal yang direncanakan harus di lahan yang baru tanam (perluasan areal tanam/PAT). Bahkan nasional mengisyaratkan Tahun 2018 adalah tahun kedele. Ditambahkan pula bahwa angka luas tanam baik padi,jagung dan kedele antara kaUPT, Koordinator Penyuluh dan Danramil tidak boleh berbeda. Penanganan penggunaan pestisida sudah sejak lama diinformasikan, namun tetap saja petani masih menggunakan caranya sendiri. Sementara ituKepala Balai Pengkajian Lembang menginformasikan bahwa mengapresiasi Kabupaten Indramayu yang mampu melaksanakan PAJALE pada tahun 2016 melebihi 10 % dari rencana. Namun untuk okmar sekarang baru 88,75 % karena sasarannya ditambah lagi. Pada 2 bulan terakhir Kabupaten Indramayu mendapat sorotan masalah pertanian baik di Jawa Barat maupun nasional tentang hama wereng coklat. Padahal kenyataan di lapangan hanya berupa spot-spot saja.Ditambahkan pula oleh Kepala BPTP Lembang bahwa penggunaan pestisida ada budaya yang keliru. Bila suaminya tidak atau belumenyemprot malah istrinya yang memarahi suaminya, padahal hama di lapangan tidak ada. Petani menggunakan pestisida 50 % lebih dari kebutuhannya. Lebih Tragis lagi banyak petani yang mengoplos pestisida secara sembarangan. Penggunan pestisida bukan kebutuhan tapi keharusan dan terbius pada brosur-brosur yang diterbitkan perusahaan. Ir.Tonny K Moekasan, Peneliti Ahli dari Balai Penelitian Sayuran Lembang menerangan bahwa pestisida adalah bahan untuk membunuh hama penyakit tanaman. Bahkan menurut PP No.7, Tahun 1973, pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk : Mengendalikan atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian, Mengendalikan rerumputan atau gulma, Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman, Mengendalikan atau mencegah hama-hama pada hewan peliharaan, Mengendalikan hama-hama air, dan Mengendalikan atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungiDijelaskan lebih jauh bahwa penggunaan pestisida harus memenuhi 6 tepat yaitu 1. Tepat Sasaran harus berdasarkan jenis OPT yang menyerang dan berdasarkan engamatan untuk mengetahui jenis OPT yang menyerang.Setiap pestisida hanya mampu untuk mengendaliakan hama tertentu saja. 2. Tepat Mutu, harus bermutu baik, yaitu pestisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Komisi Pestisida. Jangan menggunakan pestisida yang tidak terdaftar. 3. Tepat Jenis, dipilih jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan suatu jenis OPT pada suatu jenis tanaman. 4. Tepat Waktu Penggunaan, Waktu penggunaan pestisida harus tepat, yaitu pada saat OPT mencapai ambang pengendalian dan penyemprotannya harus dilakukan pada sore hari (pukul 16.00 atau 17.00) ketika suhu udara Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat penyemprotan yaitu Peralatan Pompa semprot, Nozzle (Spuyer), Pembuatan larutan semprot, Volume larutan semprot, Pencampuran pestisida, Pengaruh faktor lingkungan, Suhu, Kelembaban udara, Kecepatan angin, Arah semprotan dan keamanan.Peralatan semprot seperti tangki semprot dan perlengkapannya dipastikan dalam kondisi baik dan tidak bocor. Di samping persyaratan tersebut, penyemprot punggung harus memiliki tekanan semprot minimal 3 bar dan penyemprot mesin 8-12 bar. Begitu juga dengan ukuran nozzlenya, butiran semprot yang ideal untuk penyemprotan pestisida adalah 150 – 200 mikron, 200 mikron, butiran semprot cepat luruh dan Nozzle atau spuyer harus diganti setiap 6 bulan.Kualitas air pelarut harus Jernih, EC Volume semprot Volume semprot adalah banyaknya air yang diperlukan untuk melarutkan pestisida yang akan digunakan untuk menyemprot pertanaman pada suatu area tertentu dan Volume semprot disesuaikan dengan kemampuan tanaman menampung larutan semprot. Jadi volume semprot berbeda menurut umur tanaman.Pencampuran pestisida dapat bersifat sinergistik,antagonistik dan netral. Supaya lebih bermanfaat bilamau mencampur ambillah yang bersifat sinergistik. Pencampuran dapat dilakukan jika berdasarkan hasilpenelitian atau rekomendasi.Pencampuran seperti insektisida dengan fungisida dan perekat perata.Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari karena menjelang suhu stabil, jangan dilakukan penyemprotan pada saat suhu terus naik danlakukan penyemprotan 2 jam sebelum turun huan. Penyemprotan dilakukan pada saat kecepatan angin 3-6 km/jam dengan tanda-tanda Lambaian bendera membentuk sudut 450,, Hembusan angin terasa secara perlahan menerpa wajah dan daun-daun bergoyang secara perlahan. Bila kecepatan angin diatas 6km /jam butiran semprot terbawa angin dan mubazir.Arah semprot yang benar adalah dari bawah keatas karena hama pada umumnya berada di bawah daun dengan sudut nozzle 45 derajat dan jarak nozzle dengan tanaman sekitar 30 cm.Selain itu menurut Ir.Tonny perlu Strategi pergiliran pestisida yang bertujuan untuk menghambat terjadinya resistensi (kekebalan) hama dan penyakit terhadap pestisida, Pergiliran penggunaan pestisida harus dilakukan berdasarkan pada cara kerja (Mode of Action/ MoA) pestisida yang berbeda. Cara kerja atau Mode of Action (MoA) adalah mekanisme kerja pestisida dalam mematikan hama atau penyakit sasaran melalui target pada bagian tubuh OPT. Cara kerja pestisida ditetapkan dengan kode angka dan huruf.Langkah-langkah untuk menetapkan pestisida yang akan digunakan yaitu : identifikasi OPT sasaran dengan tepat, Lihat daftar pestisida yang diijinkan untuk OPT sasaran tersebut, Pilih merk dagang pestisida yang diijinkan, Lihat dan catat kode cara kerjanya, Gunakan pestisida dengan kode cara kerja yang sama selama 3 minggu, Pada minggu ke-4 s.d. ke-6, gunakan pestisida dengan kode cara kerja yang berbeda dengan langkah ke-4, Pada minggu ke-7 s.d. ke-9 gunakan pestisida dengan kode cara kerja yang berbeda dengan langkah ke-4 dan ke-6 dan Pada minggu ke-10 s.d. ke-12 dan seterusnya gunakan pestisida yang sama dengan langkah ke-4.Keamanan pestisida merupakan faktor utama oleh karena itu hindari kontak pestisida dengan tubuh kita terutama lengan bawah, telapak tangan, telapak kaki, perut, kepala, dahi, daerah alat kelamin, dan mata. Gunakan alat-alat pelindung dalam melakukan penyemprotan.Ketika Ketika mengisi tangki semprot, letakkan tangki di pematang atau dianjurkan menyediakan bangku untuk alas tangki. Hal itu dilakukan agar ketika tangki diangkat, cairan pestisida tidak meluber dan membasahi punggung penyemprot. Pada waktu memasang tangki semprot, posisi punggung sejajar dengan tangki.Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam penanganan pestisifda yaitu : Jangan makan, minum, merokok atau menyeka keringat selama melakukan aktivitas penyemprotan pestisida, Jangan menyentuh tanaman yang baru disemprot, Sarung tangan harus harus dicuci terlebih dulu sebelum dicopot/dibuka agar tangan tidak terpapar oleh pestisida, Semua perlengkapan penyemprotan dan pakaian kerja harus segera dicuci tetapi harus dipisahkan dari pakaian biasa, Mandilah setiap selesai menangani pestisida dan Simpan pestisida yang telah digunakan pada lemari atau tempat khusus yang jauh dari jangkauan anak-anak,Macam-macam gejala keracunan adalah sebagai berikut: : Gejala keracunan ringan: sakit kepala, berkeringat, air liur keluar, pening, Gejala keracunan sedang: mual, muntah mata berkunang-kunang, jantung berdebar kencang, sesak nafas, perut kejang dan badan gemetar dan Gejala keracunan berat: kejang, pingsan, sulit bernafas, nafas berhenti, dan detak jantung berhenti. Pertolongan pertama pada keracunan. Kulit/mulut : Jauhkan penderita dari sumber keracunan. Cucilah badan penderita yang terpapar pestisida dan Jika yang terpapar mata, bukalah mata penderita sambil diguyur air bersih selama 15 menit dan kepalanya dimiringkan ke arah mata yang terpapar pestisida. Mulut : Jika penderita sadar, ikuti petunjuk pada label kemasan, apakah pemuntahan boleh dilaksanakan. Secara umum pemuntahan dapat dilakukan dengan perangsangan yaitu buka rahang penderita menggunakan satu tangan dan tangan yang lain menggelitik pangkal tenggorokan dan Jika penderita tidak sadar, jangan memberikan sesuatu atau melakukan pemuntahan. Bawalah penderita ke rumah sakit dan tunjukkan kemasan pestisida yang menyebabkan keracunan. Pernafasan : Letakkan penderita ke tempat terbuka dan berudara segar, Longgarkan pakaiannya, Lepaskan pakaiannya yang terpapar pestisida, bersihkan badan yang terpapar pestisida menggunakan sabun, Bersihkan mulut atau hidung penderita dari kotoran atau pestisida dengan menyekanya menggunakan kain dan Jika perlu, berikan nafas buatan dengan cara menutup hidung penderita dan penolong meniupkan udara melalui mulut. Dada penderita akan menggembung. Setelah itu lepaskan mulut dan hidung penderita agar udara yang ditiupkan keluar. Lakukan pernafasan buatan sebanyak 10-15 kali per menit.Semoga dengan pengtahuan bagaimana penggunaan pestisida yang benar ini tidak ada lagi korban keracunan apalagi korban yang meninggal dunia. (Edi Harnadi)