Belik, Kamis 2 Oktober 2014 berlangsung kegiatan Pengembangan Sida Kabupaten/Kota Inovatif dalam rangka pengembangan teknologi pupuk organic cair Kabupaten Pemalang bertempat di Balai Penyuluhan Kecamatan Belik. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari kesimpulan kegiatan Forum Discusion Group (FGD) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Bappeda Kabupaten Pemalang dengan melibatkan seluruh stakeholders Rintisan Pengembangan Kawasan Agropolitan Waliksarimadu Kabupaten Pemalang. Kegiatan tersebut di buka oleh Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang Ir. Supriyantopo di dampingi oleh Kabid Praswil Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah Dra. Siti Sulami, MM mewakili Kepala Balitbang Provinsi Jawa Tengah. Dalam sambutannnya KepalaDipertanhut Kabupaten Pemalang Ir. Supriyantopo menyatakan" Pemerintah Kabupaten Pemalang sangat senang adanya fasilitasi pengembangan teknologi pupuk organik cair oleh Balitbang Provinsi Jawa Tengah dengan harapan kedepan Petani semakin mandiri dan effisien dan ekonomis dalam usahataninya". Lebih lanjut disampaikan " petani saat ini sangat berlebihan dalam penggunaan pupuk dan pestisida kimia sehingga dampaknya tanah semakin kurus, lapar pupuk dan hama penyakit yang semakin resisten". Selanjutnya Kabid Praswil Dra. Siti Sulami, MM membacakan sambutan Kepala Balitbang Provinsi Jawa Tengah menyampaikan" memasuki AFTA atau MEA tahun 2015 yang tidak lama lagi datang, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk bersaing dengan masyarakat ASEAN, jangan sampai kita kebanjiran produk yang kita sendiri mampu memproduksinya seperti kita kebanjiran produk-produk pertanian. Lebih lanjut disampaikan " Mari kita persiapkan diri kita dengan menghasilkan produk yang sehat dan aman sehingga produk kita mampu menjadi tuan di negeri sendiri". Kegiatan yang berlangsung selama satu hari penuh tersebut menghadirkan narasumber unsure birokrasi seperti Dinas Pertanian dan Kehutanan dan Bappeda Kabupaten Pemalang serta praktisi dari Kelompok Tani Bangkit Merbabu Desa Batur Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Adapun stakeholder seperti petani sebanyak 30 orang berasal dari 13 kelompok tani se Kecamatan Belik , para penyuluh pertanian serta Dinas/Intansi terkait yang keseluruhan berjumlah 40 orang. Sebelum menutup kegiatan tersebut Kabid Praswil Balitbang Provinsi Jawa Tengah Dra. Siti Sulami, MM menyerahan bantuan satu paket unit peralatan pengolahan berupa jembung, mixer, jeligen dan bahan dasar pembuat pupuk organic cair (POC) seperti bawang putih, susu segar, tuak, telur dan sebagainya serta botol-botol untuk tempat penyimpanan dan pendistribusian. Dalam kesempatan acara penutupan tersebut Dra. Siti Sulami, MM berpesan" kami minta tolong peralatan tersebut digunakan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya serta dikembangkan kepada seluruh petani sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia terkurangi". Pintanya. Sementara itu Sahlan selaku ketua kelompok dari Desa Gunungtiga Kecamatan Belik mewakili petani dan kelompok tani se kecamaan Belik menyampaikan " kami berterima kasih atas kepedulian Balitbang provinsi Jawa Tengah yang memberikan informasi teknologi POC serta bantuan peralatan dan bahan pembuatan POC, kami berjanji akan memanfaatkan bantuan tersebut sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia" Pemerintah sejak tahun 2008 telah mengalokasikan anggaran untuk subsidi pupuk organik dan non organik, yang pada waktu itu mencapai Rp. 17,53 triliun. Kebutuhan pupuk organik mencapai 17 juta ton, yang dipenuhi dari empat industri pupuk utama (Sriwijaya, Kaltim, Petrokimia Gresik dan Kujang) sebesar 450 ribu ton, sedangkan sisanya dipasok oleh produsen swasta dan petani sendiri. Untuk mengembangkan penggunaan pupuk organik ditingkat petani, pemerintah melalui Departemen Pertanian telah memfasilitasi bantuan berupa Alat Pembuat Pupuk Organik (APPO), Rumah Percontohan Pembuatan Pupuk Organik (RP3O) , UPPO (unit Pengolahan Pupuk Organik) dan bahan dekomposer kepada kelompok tani untuk mendorong pengembangan penggunaan pupuk organik padat maupun cair di masing-masing wilayah dengan memanfaatkan kearifan lokal berasal dari bahan-bahan yang tersedia seperti kotoran hewan, sisa tanaman maupun buah-buahan atau jerami sebagai bahan baku. Penulis : Nurul Ashar (Penyuluh Pertanian Madya Dipertanhut Kab. Pemalang).