Suatu bangsa sapi akan dapat berkembang dengan baik di suatu daerah apabila keadaan iklimnya sesuai dan ketersediaan pakannya mendukung. Pada kondisi demikian pemeliharaan bangsa sapi tersebut mampu memberikan keuntungan tertentu dibandingkan dengan bangsa sapi lainnya. Perlu diketahui, tidak ada bangsa sapi yang sempurna, masing-masing bangsa sapi memiliki sifat-sifat tertentu yang hanya cocok untuk suatu keadaan tertentu dan barangkali tidak cocok untuk keadaan atau lingkungan tertentu lainnya. (Blakely dan Bade, 1989).Penentuan pilihan bangsa sapi untuk suatu usaha tidak hanya tergantung pada kesukaan pemelihara/peternak saja, tetapi juga perlu memperhitungkan keadaan lingkungan, kemampuan adaptasi, efisiensi badan, laju pertambahan berat badan, dan sifat-sifat spesifik lainnya. Di Indonesia saat ini terdapat berbagai bangsa sapi. Sapi-sapi yang dipelihara umumnya bukan lagi ternak asli, akan tetapi telah mengalami perkawinan silang dengan ternak sapi yang sudha berkembang sebelumnya. Keturunan sapi yang telah dikawin silangkan secara alami maupun dengan Inseminasi Buatan (IB) biasa disebut dengan Peranakan. Berdasarkan asal-usulnya, bangsa sapi yang sudah berkembang di Indonesia secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bangsa sapi sub tropis dan bangsa sapi tropis. Bangsa Sapi Sub Tropis Bangsa sapi yang sub tropis yang sudah berkembang di Indonesia adalah Simental, Limousine, Angus, Brahman, Hereford, Shorthorn, Santa Getrudis, Beefmaster (Susilorini et al., 2008). Dari semua jenis sapi tersebut yang sudah banyak diternakan dan sipelihara oleh peternak dan berkembang ditingkat pedesaan ada;ah sapi Peranakan Simental, Limousine, Angus dan sapi Brahman. Karakter dari jenis sapi-sapi tersebut (Bangsa sapi Sub Tropis) yaitu, 1). Sapi Simental, adalah jenis sapi yang terkenal di Switzerland dan Prancis, merupakan salah satu bread yang tertua di dunia. Simental adalah sapi dengan dual purpose yaitu selain diperuntukan untuk sapi potong tetapi produksi susunya hampir menyamai sapi perah. Warna kulitnya berwarna kuning sampai merah, sedangkan bagian muka, dada dan rambut ekor berwarna putih. Untuk ukuran tanduknya relative kecil sampai tidak memiliki tanduk. Kemampuan menyusui anaknya sangat baik dengan berat lahir tedet relative tinggi, mempunyai sifat jinak, tenang dan mudah dikendalikan. 2). Sapi Limousine, berasal dari Perancis yang merupakan sapi potong yang berkualitas baik. Saat lahir ukuran pedet relative kecil sehingga proses kelahiran lancer. Kulit berwarna keemasan dengan bagian perut berwarna seperti jerami. Ukuruan tubuh sedang. Tingkat efisiensi pakan terbilang bagus dan persentase daging dalam karkas cukup tinggi. 3). Sapi Angus, berasal dari Aberdenshire dan Angushire, Scotlandia. Jenis sapi ini banyak digunakan pada crossbreeding dan grading up untuk menghasilkan sapi potong yang baik. Jika sesame jenis sapi Angus dikawinkan dengan seperempat dari keturunannya, maka warna kulitnya akan berubah menjadi merah dan tidak bertanduk (red angus). Seluruh kulit nya sapi Angus berwarna hitam dengan bulu halus. Sapi jenis ini tidak bertanduk. Sifat ini dominan sehingga sapi Angus banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan keturunan yang tidak bertanduk. Bentuk tubuh panjang dan kompak serta sifat keibuannya tinggi dan tidak ada kesulitan saat beranak. Masa pubertas dicapai dalam umur relative dini. Mempunyai kemampuan dalam menurunkan marbling (perlemakan dalam daging) ke anak-anaknya. Sapi Angus di Indonesia sudah dikawin silangkan dan biasa disebut sapi Brangus (persilangan anatara sapi Angus dan Sapi Brahman). 4). Sapi Brahman, berasal dari India, tetapi dikembangkan di Amerika Serikat dengan mencampurkan darah 3 bangsa sapi India yaitu bangsa-bangsa Gir, Guzerat dan Nellore. Sapi Brahman merupakan bangsa sapi berukuran medium, pedetnyapun berukuran berat medium. Terdapat punuk pada punggung di belakang kepala yang merupakan kelanjutan dari otot-otot pundak. Warna bulu bervariasi mulai dari abu-abu muda sampai hitam. Sapi tahan terhadap kondisi tatalaksana yang sangat minimal, toleran terhadap panas dan daya tahan tinggi terhadap kondisi yang jelek seperti penyakit dan parasit. Bangsa Sapi Tropis Bangsa sapi tropis umumnya mempunyai ciri-ciri mencolok yang mudah dibedakan dengan kelompok sapi lain (Sugeng, 1998) adalah sebagai berikut : 1). Bahunya pendek, halus dan rata 2). Garis punggung pada bagian tengah berbentuk cekung dan bagian tingginya miring, 3). Timbunan lemak, baik yang ada dibawah maupun didalam kulit, otot-ototnya rendah, 4). Kulitnya longgar dan tipis, kurang lebih 5-6 mm, kelenjar keringatnya besar, 5). Kepala panjang dengan dahi sempit, 6). Bagian ujung telinga meruncing, 7). Kakinya panjang sehingga gerakannya lincah, 8). Lambat dewasa karena pertumbuhannya lambat sehingga pada umur 5 tahun baru bisa dicapai berat maksimal, 9). Bentuk tubuh sempit dan kecil serta berat timbangan sekitar 250-650 kg, 10). Ambingnya kecil sehingga produk susu rendah, 11). Tahan terhadap suhu tinggi dan kehausan, 12). Toleran terhadap berbagai jenis pakan dengan kandungan serta kasar tinggi atau pakan berkualitas rendah, 13). Pada umumnya tubuhnya tahan terhadap gigitan nyamuk dan caplak.Beberapa bangsa sapi tropis yang sudah cukup berkembang dengan baik dan terkenal di Indonesia (susilorini et al., 2008; Sugeng, 1998; Hosen et al., 2010). Bangsa sapi tropis ini selanjutnya lebih dikenal sebagai sapi-sapi Indonesia (sapi lokal Indonesia). Beberapa jenis sapi lokal Indonesia adalah sapi Bali, sapi Madura, sapi Ongole, sapi Pesisir dan sapi Jabres.1). Sapi Bali, merupakan sapi keturunan Bos sondaicus (Bos Banteng) yang berhasil dijinakkan dan mengalami perkembangan pesat di Pulau Bali. Sapi Bali asli mempunyai bentuk dan karakteristik sama dengan banteng. Sapi Bali termasuk sapi dwiguna (kerja dan potong). Sapi bali terkenal karena keunikan dan keunggulannya di banding sapi jenis lain. Sapi Bali adalah sapi yang memiliki banyak sifat unggul diantaranya reproduksi sangat baik, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, tahan terhadap penyakit, dapat hidup di lahan kritis, memiliki daya cerna yang baik terhadap pakan dan persentase karkas yang tinggi. Tidak heran bila Sapi Bali merupakan jenis sapi terbaik diantara sapi-sapi yang ada di dunia. Maka begitu banyak permintaan untuk daging sapi bali ini sendiri. 2). Sapi Madura, merupakan hasil persilangan antara sapi Bali (Bos sundaicus) dengan sapi Zebu (Bos indicus), Oleh karena itu sebenamya sapi Madura merupakan sapi persilangan. Sapi Madura termasuk sapi potong yang memiliki kemampuan daya adaptasi yang baik terhadap stress pada lingkungan tropis, keadaan pakan yang kurang baik mampu hidup dan berkembang dengan baik, serta tahan terhadap caplak. Sapi Madura menunjukkan respon yang cukup baik dengan perbaikan lingkungan. Sapi Madura sebagai sapi potong tipe kecil memiliki variasi berat badan sekitar 300 kg dan pemeliharaan yang baik dengan pemenuhan kebutuhan pakan dengan pakan yang baik mampu mencapai berat badan ? 500 kg, ditemukan pada sapi Madura yang menang kontes (Soehadji, 2001) Performans berat badan sapi Madura mempunyai keragaman yang cukup luas, didapatkan berat badan yang tinggi (± 500 kg) dan didominasi oleh berat badan yang cukup rendah (± 300 kg). 3). Sapi Ongole, berasal dari Madras, India. Di Indonesia bangsa sapi Ongole diternakan secara murni di pulau Sumbasehingga disebut sapi Sumba Ongole dan di Jawa disebut sapi Benggala. Type sapi Ongole merupakan type kerja yang sangat baik karena tenaganya kuat dan ukuran tubuhnya besar. Persilangan sapi Ongole dan sapi lokal setempat, terutama sapi-sapi jawa secara grading up menghasilkan sapi yang mirip dengan sapi Ongole yang popular dengan sebutan sapi Peranakan Ongile (PO). Sapi PO ini sudah lama berkembang dan populasinya di jawa cukup banyak. Warna putih kelabu atau kehitam-hitaman dengan kakinya berukuran panjang. Kepala relative pendek dengan profile melengkung. Punuknya besar dan terdapat lipatan-lipatan kulit dibawah leher dan perut. Sapi Ongole tahan terhadap panas dan kulaitas pakan yang jelek. 4). Sapi Pesisir, Karakteristik sapi Pesisir menurut Saladin (1983) memiliki tanduk pendek yang mengarah ke luar seperti tanduk kambing. Jantan memiliki kepala pendek, leher pendek dan besar, belakang leher lebar, punuk kecil, kemudi pendek dan membulat. Betina memiliki kepala agak panjang dan tipis, kemudi miring, pendek dan tipis, tanduk kecil yang mengarah ke luar. Sapi Pesisir memiliki keragaman warna bulu yang tinggi. Menurut Sarbaini (2004), warna bulu sapi Pesisir memiliki pola tunggal yang dikelompokkan atas lima warna utama, yaitu merah bata (34,35%), kuning (25,51%), coklat (19,96%), hitam (10,91%) dan putih (9,26%). Sapi Pesisir dikenal memiliki temperamen yang jinak sehingga lebih mudah dikendalikan. 5). Sapi Jabres, Sapi Jabres (Jawa Brebes) adalah sapi lokal asli Indonesia yang tersebar di sekitar Kabupaten Brebes. Sapi ini memiliki ciri-ciri mirip dengan sapi bali. Yang membedakan sapi ini dengan sapi bali adalah jika sapi bali memiliki warna putih di bagian kaki dan pantat yang kontras dengan warna merah kecokelatan tubuhnya, pada sapi jabres warna tersebut memiliki gradasi dan tidak terlihat batas antara warna merah kecokelatan dan putihnya. Sapi ini memiliki keunggulan yaitu mampu bertahan pada kondisi iklim yang ekstrim dengan pakan yang sangat kurang. Sapi ini juga memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan tidak mudah terserang penyakit. (Dani Medionovianto) Sumber : Lolit Sapi Potong Pengembangan SDG, Budi Utomo, BPTP Jawa Tengah