Loading...

BASMI ULAT GRAYAK FRUGIPERDA (UGF) JAGUNG, GAPOKTAN NGEPER MAJU DAN PT PETROKIMIA KAYAKU ADAKAN GERDAL

BASMI ULAT GRAYAK  FRUGIPERDA (UGF) JAGUNG, GAPOKTAN NGEPER MAJU DAN PT PETROKIMIA KAYAKU ADAKAN GERDAL
Dimana ada kemauan disitu ada jalan, kalimat bijak itu nampaknya memang betul adanya. Para petani yang tergabung di Gapoktan Ngeper Maju Desa Ngeper Kecamatan Padangan Kabupatan Bojonegoro, sudah hampir 1 tahun ini mengalami penurunan produksi jagung yang di sebabkan oleh hama ulat grayak jenis baru, yaitu Ulat Grayak Frugiperda (UGF). Hampir semua cara dan macam pestisida telah mereka pakai, akan tetapi masih belum membuahkan hasil yang efektif untuk membasmi UGF tersebut. Hingga akhirnya setelah berkonsultasi dengan PPL dan PHP Kecamatan Padangan serta berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, akhirnya Gapoktan Ngeper Maju dapat bekerjasama dengan PT. Petrokomia Kayaku untuk melakukan Gerdal UGF dalam rangka membasmi UGF yang menyerang pertanaman jagung di Desa Ngeper. Rabu, 24 Juni 2020 bertempat di lahan jagung Desa Ngeper dilaksanakanlah Kegiatan gerakan pengendalian (Gerdal) ulat grayak dengan nama latin Spodoptera Frugiperda. Acara tersebut dihadiri oleh Ibu Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Kasi Perlintan, Koord PHP Kab Muspika Padangan, PPL, PHP, dan anggota Gapoktan Ngeper Maju. Kegiatan diawali dengan penjelasan singkat dari tim teknis PT. Petrokimia Kayaku selaku penyedia obat dengan merk dagang “Fenite” yang akan di aplikasikan pada gerdal kali ini. Kemudian dilanjut penyemprotan massal di lahan yang terserang UGF. Setelah kegiatan penyemprotan, peserta kembali kelokasi yang telah disediakan untuk berdiskusi. “Kita selalu melakukan pendampingan dalam gerakan pengendalian hama/penyakit apapun yang menyerang tanaman, termasuk ulat grayak Spodoptera Frugiperda yang telah meresahkan petani jagung di Desa Ngeper,” ungkap Koorluh Pertanian Kec Padangan di sela kegiatan tersebut. Dikatakanya bahwa areal pertanaman jagung yang terserang UGF kurang lebih 200ha merupakan lahan yang benihnya merupakan hasil bantuan dari APBN 2020, sehingga kita harus bergerak cepat agar program tersebut tetap bias sukses dan tidak menggangu hasil produksi jagung. Ibu Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro, Helmy Elisabeth, SP, MM.dalam sambutanya sangat mengapresiasi kegiatan ini, beliau menjelaskan bahwa Gerdal ini terlaksana berawal dari laporan PHP dan PPL di lapangan diteruskan ke Dinas Pertanian dan kemudian ditindaklanjuti dengan menjalin kerja sama dengan PT. Petrokimia Kayaku selaku penyedia pestisida. Dalam kegiatan inii bu Kadis juga mensosialisasikan secara singkat Program KPM dan PPM yang merupakan Program andalan Pemkab Bojonegoro, beliau berharap semua petani Desa Ngeper dapat memperoleh program tersebut meskipun secara bertahap. Acara kemudian dilanjut dengan penjelasan dan diskusi dari tim teknisPT. Petrokimia Kayaku. Jajang dalam pemaparanya menjelaskan, Spodoptera Frugiperda (UGF) berasal dari benua Amerika. Serangan pertama kali di Indonesia ditemukan di Kab. Pasaman Barat, Prov. Sumatera Barat pada bulan Maret 2019, dan dalam waktu 10 bulan, pada Desember 2019 UGF telah menyebar ke 22 Provinsi di Indonesia. Penyebaran yang cepat di dikarenakan Kemampuan reproduksi UGF yang tinggi, daya jelajah tinggi, dan kondisi iklim yang sesuai.Ditambahkan pula bahwa UGF di Indonesia memiliki inang yang sangat banyak mencapai ratusan jenis, menyerang fase vegetative dan generative, mampu terbang jauh yang mencapai ratusan kilometer dalam semalam dan kerusakan parah terjadi pada tanaman paling muda / telat tanam.UGF hewan sejenis kupu-kupu yang berterbangan di sekitar areal pertanaman jagung. Setelah menemukan tanaman yang disukainya, hewan tersebut kemudian seperti bermetamorfosis, yaitu suatu proses pertumbuhan pada hewan yang melibatkan perubahan struktur fisik sejak menetas hingga tumbuh dewasa. “Kupu-kupu akan bertelur di tanaman jagung dan menetas menjadi larva atau ulat, sebelum kemudian berubah lagi menjadi kepompong dan akhirnya menjelma menjadi kupu-kupu lagi,” sebutnya dihadapan puluhan petani. Saat menjadi ulat, kata Jajang, daun jagung bakal dimakan sampai habis bila tidak segera dicegah. Apalagi, ulat grayak jenis furgiperda tergolong rakus, sehingga tanaman yang terserang harus segera dilakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida. Sementara Lilik Suharto, Koord PHP Kab. Bojonegoro, mengingatkan para petani untuk menerapkan enam tepat dalam pengendalian hama tanaman, yakni tepat jenis dalam penggunaan pestisida, tepat dosis, tepat waktu penyemprotan, tepat cara dan penggunaan alatnya, serta tepat mutu produk yang digunakan. Ditambahkannya, para petani harus melakukan pengamatan rutin terhadap tanaman yang terserang untuk memastikan hama/penyakit apa yang menyerang dan pestisida jenis apa yang akan digunakan. Setelah penjelasan dari narasumber, acara dilanjut dengan diskusi dan Tanya jawab oleh peserta untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang cara pengendalian UGF yang tepat. Oleh :DedyHaryono, S.Pt. (PPL Kec. Padangan)