Loading...

BEBERAPA JENIS BAHAN PAKAN LOKAL UNTUK PAKAN TERNAK

BEBERAPA JENIS BAHAN PAKAN LOKAL UNTUK PAKAN TERNAK
Upaya menyediakan pakan yang berkesinambungan dapat memanfaatkan seoptimal mungkin lahan pertanian, melalui pola integrasi maupun diversifikasi. Limbah pertanian sebagai sumber pakan berbasis bahan baku lokal sangat bermanfaat dan menguntungkan. Tidak hanya dari sisi harga yang lebih murah, juga mudah dalam pengumpulan bahan. Kesinambungan ketersediaan pakan pun dapat terjaga dengan baik. Berikut beberapa macam bahan pakan lokal yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. AMPAS SAGU. Pada pengolahan sagu dijumpai limbah/hasil ikutan yang berupa kulit batang, ampas clanelod. Ampas yang dihasilkan dari proses extraksi ini sekitar 14% dari total berat basah batang sagu. Nutrien yang terkandung dalam ampas sagu umumnya sangat rendah karena rendahnya protein kasar dan tingginya serat kasar. Walaupun kandungan nutrien terutama protein kasar rendah berkisar antara 2,30-3,36%, pati dalam ampas sagu masih cukup tinggi yaitu 52,98%. Hal ini memungkinkan ampas masih bermanfaat sebagai pakan ternak. Ampas sagu dapat dipergunakan sebagai bahan pakan untuk sapi Peranakan Onggol sampai tingkat 45% dalam ransum. Selain itu untuk meningkatkan kualitas ampas sagu dilakukan biofermentasi ampas sagu menggunakan kapang Aspergillus niger.BUNGKIL KEDELAI. Bungkil kedelai digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan proteinnya yang tinggi serta kandungan asam aminonya yang lengkap. Bungkil kedelai mengandung Protein Kasar lebih dari 41%, terdegradasi 60% di rumen. Di balik kelebihan-kelebihan tersebut bungkil kedelai diketahui memiliki beberapa antinutrisi, salah satunya adalah asam fitat. Fermentasi bungkil kedelai dengan bakteri penghasil enzim fitase dapat dilakukan sebagai salah satu usaha untuk menurunkan kadar asam fitat pada bungkil kedelai.KULIT KAKAO. Kulit kakao mengandung 22% protein dan 3--9 % lemak dengan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40 %. Limbah kulit buah kakao perlu difermentasikan terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin yang sulit dicerna oleh hewan dan untuk meningkatkan kadar protein dari 6-8 % menjadi 12--15 %. Kulit kakao dapat diolah dengan cara dilakukan fermentasi terlebuh dahulu maupun tanpa perlakukan fermentasi. Fermentor yang dapat digunakan untuk proses fermentasi dapat menggunakan Aspergillus Niger. AMPAS TAHU. Ampas tahu mudah didapat dan masih mempunyai gizi yang baik. Bahan yang berasal dari kacang tanah dan kacang kedelai mempunyai kadar protein yang tinggi dengan asam amino yang cukup lengkap. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro. Protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, karena bahan ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Kandungan ampas tahu yaitu protein 8,66%; lemak 3,79%; air 51,63% dan abu 1,21%. Namun ampas tahu memiliki kelemahan berupa kandungan serat kasar yang tinggi, lemak tinggi, dan mudah ditumbuhi jamur. DEDAK PADI. Dedak padi merupakan bahan pakan yang telah digunakan secara luas oleh sebagian peternak di Indonesia. Sebagian bahan pakan yang berasal dari limbah agroindustri. Dedak mempunyai potensi yang besar sebagai bahan pakan sumber energi bagi ternak. Nutrisi dedak padi sangat bervariasi bergantung pada jenis padi dan jenis mesin pengiling. Protein dedak berkisar antara 12-14%, lemak sekitar 7-9%, serat kasar sekitar 8-13% dan abu sekitar 9-12%. TETES TEBU. Molasses atau tetes tebu adalah limbah utama industri pemurnian gula yang berasal dari tanaman tebu. Tetes tebu merupakan sumber energi yang esensial dengan kandungan gula didalamnya. Tetes tebu dapat dijadikan alternatif campuran pakan sapi. Selain nilai gizi yang dikandungnya, tetes tebu juga mudah diperoleh. Tetes tebu memiliki kandungan protein kasar 3,1 %; serat kasar 0,6 %; BETN 83,5 %; lemak kasar 0,9 %; dan abu 11,9 %.ONGGOK. Onggok adalah pakan sumber energi yang berasal dari sisa pengolahan singkong menjadi tepung tapioka. Onggok mempunyai kadar energi yang tinggi, hampir menyamai jagung akan tetapi rendah protein maupun asam amino, tergolong karbohidrat yang mudah dicerna. Permasalahan utama yang ada pada onggok adalah karena onggok memiliki kandungan protein yang rendah sekitar kurang dari 15 % dan memiliki kandungan serat kasar yang tinggi. Salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas dari onggok tersebut adalah dengan fermentasi. KULIT KOPI. Kulit kopi cukup potensial untuk digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia. Kopi termasuk tanaman yang menghasilkan limbah hasil sampingan yang cukup besar dari hasil pengolahan. Limbah sampinhan tersebut berupa kulit kopi yang jumlahnya berkisar antara 50 - 60 persen dari hasil panen. Dalam pengolahan kopi akan dihasilkan 45% kulit kopi, 10% lendir, 5% kulit ari dan 40% biji kopi. Pemanfaatan kulit kopi sebagai pakan ternak pada usaha pembibitan dapat menggantikan konsentrat komersial hingga 20%. Kulit kopi diberikan langsung dalam bentuk basah, kadar air yang cukup tinggi sehingga mudah rusak dan kurang disukai ternak. Namun selain itu tingginya kandungan serat kasar dan adanya kandungan tanin, cafein dan lignin pada kulit kopi non fermentasi yang dapat mengganggu pencernaan ternak jika diberikan dalam jumlah banyak. Salah satu cara untuk meminimalkan faktor pembatas tersebut, kulit kopi diolah terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak. Salah satu proses pengolahan yang dapat dilakukan adalah teknologi fermentasi. (Ir.Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. Efendi, Zul & Linda Harta. Kandungan Nutrisi Hasil Fermentasi Kulit Kopi (Studi Kasus Desa Air Meles Bawah Kecamatan Curup Timur) (http://bengkulu.litbang.pertanian.go.id, diakses 29 Mei 2016) 2. Supriyadi. 2013. Macam Bahan Pakan Sapi dan Kandungan Gizinya (yogya.litbang.pertanian.go.id, diakses 28 Mei 2016)