Loading...

BERCOCOK TANAM KEDELAI SECARA INTENSIF (BAGIAN I)

BERCOCOK TANAM KEDELAI SECARA INTENSIF (BAGIAN I)
Kedelai merupakan komoditas pangan tanaman polong-polongan yang kaya akan protein nabati yang sangat penting bagi tubuh. Kedelai sangat berkhasiat begai pertumbuhan dan menjaga kondisi sel-sel tubuh. Di Indonesia, kedelai umumnya dikonsumsi dalam bentuk pangan olahan seperti tahu, tempe, susu kedelai dan berbagai makanan olahan lainnya. Dilihat dari kandungan gizi, kacang kedelai banyak mengandung protein dan lemak. Kandungan lemak kedelai antara 16-20% dan kandungan proteinnya cukup tinggi yaitu 75 – 80% dan asam-asam amino yang menyusun protein kedelai serupa dengan yang terdapat pada Casein. Karena proteinnya yang tinggi, kedelai dapat menggantikan peranan protein hewani. Kedelai adalah tanaman beriklim tropik. Dia akan tumbuh subur di daerah yang berhawa panas. Kedelai kebanyakan ditanam di daerah yang terletak kurang dari 400 m di atas permukaan laut. Dapat dikatakan kedelai akan tumbuh baik, jika ditanam di daerah beriklim kering. Untuk mendapatkan kedelai yang berkualitas baik haruslah dengan mengusahakan cara bertanam yang benar. Berikut petunjuk cara bercocok tanam kedelai : A. PERSIAPAN TANAM. Terdapat dua cara dalam mempersiapkan penanaman kedelai yaitu perisiapan tanpa pengolahan tanah (ekstensif) dan dengan pengolahan tanah (intensif). Dalam penanaman kedelai tanpa pengolahan tanah dapat dilaksanakan kalau syarat tumbuh kedelai terpenuhi. Penanaman kedelai tanpa didahului pengolahan tanah bisanya dilakukan disawah bekas ditanami padi rendheng. Adapun syarat yang dimaksud adalah stuktur tanah, unsur hara di dalam tanaha pada saat itu, drainase dan sebagainya yang memungkinkan kedelai tumbuh dengan baik. Penanaman tanpa olah tanah biasanya struktur tanah masih bagus, kandungan unsur hara dan air masih cukup. Keuntungan penanaman kedelai sistem TOT (Tanpa Olah Tanah) lebih hemat dalam penggunaan tenaga kerja, biaya dan waktu. Selain itu penanaman kedelai sesudah padi tidak memerlukan pupuk dengan takaran yang lebih tinggi. Pada persipan dengan pengolahan tanah, hal tersebut bertujuan agar dapat meningkatkan produksi kedelai semaksimal mungkin. Areal yang ditanami tidak harus tanah yang subur, kedelai dapat juga ditanam di daerah yang tanahnya kering (tegalan), sawah tadah hujan atau di daerah lain sejauh terjangkau air. B. PENYEDIAAN BENIH.Jumlah benih yang digunakan tergantung pada luas areal, jarak tanam, varietas kedelai dan cara bertanam. Pada penanaman yang teratur yakni sistem penanaman dengan mengunakan jarak tanam dan tugalan, jumlah benih yang dibutuhkan bisa dihitung berdasarkan perkalian jumlah lubang dan berat per seribu butir biji.Untuk setiap hektar dibutuhkan 30-50 kg kedelai varietas biji kecil dan 60-70 kg kedelai varietas biji besar.Benih yang bermutu baik mempunyai sifat : daya tumbuh lebih dari 90% ; kecepatan tumbuh baik ; biji sehat ; mumi (tidak tercampur varietas lain, gulma maupun herba) ; biji bernas, mengkilat dan tidak keriput ; biji tidak terluka bekas gigitan serangga atau ulat. C. PENGOLAHAN TANAH. Walaupun kedelai dapat ditanam tanpa pengolahan tanah terlebih dahulu, namun sebaiknya mengolah tanah tetap dilakukan. Hal ini bertujuan memperoleh struktur tanah yang gembur, drainase dan aerasi tanah yang cukup baik, sehingga akar-akar kedelai dapat tumbuh sempurna, terutama pada penanaman di tanah teglan pada awal musim penghujan. Seperti yang diketahui,tanaman kedelai sangat peka terhadap kandungan air sehingga harus memperhatikan daerah tanam dan macam lahan yang di tanam. Pengolahan tanah sangat baik dilakukan, dengan tanah yang diolah dan dibolak-balik selain dapat menyuburkan tanah, hal ini dapat juga membinasakan tumbuhan pengganggu atau gulma. Secara garis besar, pengolahan tanah bertujuan untuk : 1) memperbaiki kemampuan tanah menyimpan dan menyediakan hara, 2) memperbesar volume perakaran, 3) pelestarian (konservasi). Pengolahan tanah dapat lebih sempurna dengan pembajakan atau pencangkulan satu atau dua kali, baru kemudian tanah diratakan. Namun perlu diperhatikan pengolahan tergantung dari tipe lahan, kandungan air tanah, untuk lahan kering dengan keadaan areal tanpa pengairan di musim kemarau yang terik harus diadakan pengolahan tanah. Tanah tegalan yang bertekstur berat pada awal musim penghujan seperti grumosol pengolahan tanah harus dilakukan. Untuk lahan kering dengan tanah podsolik pengolahan tanah tidak boleh sering dilakukan. D. PENYUBURAN TANAH. Penanamn kedelai pada lahan yang subur tidak menimbulkan masalah karena unsur hara pada lahan tersebut telah mencukupi untuk perkembangan tanaman. Namun bila lahan kurang subur, atau belum pernah ditanami kedelai sama sekali maka akan mengakibatkan pertumbuhan kedelai kurang sempurna. Warna daun dapat menjadi kurang segar yakni hijau kekuninagn karean kurang unsur Nitrogen yang disebabkan tidak adanya aktivitas bakteri Rhizobium japonicum. Perlu diketahui, pemanfaatan rhizobia sebagai inokulan pupuk hayati dapat meningkatkan ketersediaan N bagi tanaman, yang dapat mendukung peningkatan produktivitas tanaman kacang-kacangan. Untuk merangsang bakteri tersebut dengan inolukasi tanah dilakukan dengan cara mencampur biji-biji kedelai dengan tanah yang mengandung bakteri Rhizobium. Tanah tersebut dicampur air agar tanah dapat melekat dengan biji, kemudian biji dianginkan sebelum ditanam. Perbandingannya 9 kg biji : 1 kg tanah. Cara selanjutnya dengan penularan bakteri dimana keberhasilan cara ini sekitar 85%. Penularan bakteri dilakukan dengan mencampur biji kedelai dengan Legin (zat perangsang bakteri Rhizobium yang berfungsi merangsang akar supaya dapat menyimpan unsur N dalam bintil akar). Biji kedelai mula-mula dibasahi di ember plastik, kemudian Legin dituang dan diaduk hingga rata. Lebih baik lagi bila ditambah campuran tanah hauls bekas ditanami kedelai. Campuran ini kemudian diangin-anginkan di tempat teduh hingga kering. Tidak boleh lebih dari 6 jam dan tidak boleh kena sinar matahari. Perbandingannnya 9 kg kedelai : 1 kg tanah. Oleh : Ir. Amirudin Aidin Beng, MM (Penyuluh Pertanian)Sumber : 1. Herdy Frimanto, Bagus. 2012. Praktis Bercocok Tanam Kedelai Secara Intensif. Bandung : Angkasa2. Raintung, Jeane SM. 2010.Pengolahan Tanah dan Hasil Kedelai- Soil Environment Volume 8 .(http://repo.unsrat.ac.id/, diakses 25 Maret 2015)