Kudus --- Berawal dari hobi, Nurmawati, seorang ibu beranak empat kebanjiran rezeki. Bagaimana tidak, hobinya merawat tanaman kini berbuah menjadi uang. Aneka jenis sayuran, dikembangkan dengan menggunakan sistem hidroponik. Kangkung, sawi sendok (pokcoy), dan aneka tanaman dalam pot seperti daun mint, tomat, cabe, jeruk nipis, seledri, dan lain-lain memenuhi pekarangan rumahnya. Urban farming adalah praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di atau sekitar kota. Urban farming merupakan konsep menyulap lahan perkotaan yang terbatas seperti tempat tinggal (balkon, atap, atau lahan pekarangan), pinggir jalan, bahkan tepi sungai menjadi tempat berkebun yang produktif. Dalam sistem urban farming, semua proses praktik budidaya, mulai dari penanaman bibit hingga panen dan distribusi hasil bisa dilakukan di dalam kota. Nurmawati, pemillik Nurma Farm adalah salah satu contoh petani yang telah berhasil menerapkan urban farming. Usaha budidaya hidroponik yang sudah dimulainya sejak tahun 2016, kini produknya sudah mulai banyak diminati oleh banyak kalangan. Berawal dari modal hanya sebesar dua ratus ribu rupiah dan kemudian terus dikembangkan hingga belasan juta, sudah bisa kembali dalam jangka waktu 3 tahun. Sebagaimana yang lain dalam memulai sebuah usaha, hambatan dan permasalahan pasti ada. Tapi Nurmawati mampu mengatasi dan mensiasatinya menjadi sebuah peluang. Terlebih lagi di saat pandemi covid 19 seperti sekarang ini. Usahanya pun ikut terdampak, namun Nurmawati terus menanam, karena menanam adalah hobinya. “Suatu saat nanti ingin memiliki kios/toko pertanian yang menyediakan aneka ragam kebutuhan pertanian,” itulah impiannya. Ilmu menanam yang dimilikinya tidak diperoleh dari bangku sekolah, namun hasil dari belajar kepada beberapa praktisi juga media sosial. Semangat belajarnya yang tinggi membuat Nurmawati tidak sungkan membagikan ilmunya kepada siapapun. Ia sangat terbuka kepada siapa saja yang ingin belajar dan bersedia membagikan ilmu yang dimilikinya. Terbukti beberapa rombongan pernah berkunjung ke Nurma Farm, mulai dari anak-anak sekolah, hingga ibu-ibu jama’ah pengajian maupun PKK. Di saat pandemi covid 19 ini, Nurmawati mulai melirik tanaman lain untuk dikembangkan. Kaktus dan aneka bunga menjadi fokus usahanya sekarang, disamping sayuran hidroponik yang juga masih terus ditanamnya. Sayuran hidroponik yang biasa menjadi produk unggulannya menjadi terdampak karena sebagian konsumen langganannya sudah mulai banyak yang menanam sendiri di rumah. Ia justru bahagia, karena berarti akan banyak yang bisa meniru apa yang sudah dilakukannya.. “Semoga virus menanam bisa semakin menyebar kepada lebih banyak kalangan, memanen hasil yang kita tanam sendiri itu sensasinya berbeda, ada kepuasan tersendiri, ditambah lagi jika bisa menghasilkan uang,” pungkasnya. Choirotun Salafiah, S.Pt. Penyuluh Pendamping Desa Ngembalrejo Penyuluh Pertanian Pertama di BPP Bae Dinas Pertanian dan Pangan Kab.Kudus