Loading...

BERKEBUN SAYUR DI TENGAH KOTA

BERKEBUN SAYUR DI TENGAH KOTA
Kota dibedakan secara kontras dengan desa ataupun kampung. Perbedaannya yaitu berdasarkan ukuran luasnya, kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukumnya. Desa atau kampung didominasi lahan terbuka, sedangkan kota dijejali pemukiman. Kota mempunyai tiga ciri utama, yang pertama memiliki kepadatan penduduk tinggi, lalu kedua adalah pusat segala aktivitas dan ciri ketiga yaitu kegiatan utama di dalam kota adalah non-pertanian (Pengertian kota berdasarkan halaman Wikipedia). Raut wajah lelaki itu tampak kelelahan, namun semangatnya masih ada. Segera diambilnya selang air ukuran panjang yang tergeletak di tanah, ujungnya dihubungkan ke mesin pompa. Ditariknya tuas agar mesin berputar. Tidak berapa lama, air pun mengalir ke akar tanaman cabai yang ditanamnya. Pak Saputra nama petani tersebut, terlahir di sebuah desa di Kabupaten Siak, tempat ia tumbuh menjadi petani yang terbiasa menanam sejak usia muda. Jagung Manis, Kacang Panjang, dan Cabai adalah idola untuk ditanam, segala seluk beluk budidaya sayuran tersebut sudah dipahaminya. Begitu menikah dengan gadis idamannya, ia ikut istri pindah dari Siak ke Kabupaten Bengkalis. Rumah sederhana yang ditinggalinya terletak di Dusun Kampung Jawa, Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu. Begitu pindah, Pak Saputra tidak lantas larut dalam romantika. Kehidupan masih terus berjalan, olehnya itu ia mesti pandai mencari cara bertahan hidup. Menggarap tanah untuk dijadikan kebun sayur adalah salah satu adaptasinya kala masih baru tinggal di kampung. Saat kesibukan sebagai tukang bangunan menghabiskan lebih dari separuh harinya, dia masih menyisihkan waktu luang untuk bertani. Aktivitas tani dilakukannya di sebidang lahan di Jl. Bandes, Kelurahan Sungai Pakning. Tanah tersebut adalah lahan milik perusahaan negara. Ia tahu tanah yang ada di dekat lokasi peternakan sapi tersebut sekarang bisa ditanami, meskipun “tidak begitu subur dibandingkan yang di Airport sana,” katanya sembari menunjuk ke arah sebuah Bandara Udara milik Perusahaan Minyak Negara yang sudah lama tidak digunakan. Pak Sap, begitu biasanya orang menyingkat nama Saputra, menceritakan bahwa sebagaimana umumnya penduduk kampung, pekerjaan mereka adalah membuat rumah, memasang keramik, memperbaiki atap, mendirikan pagar, dan lainnya. Rata-rata warga di kampung tersebut adalah tukang batu. Diantara mereka sudah sampai ke tempat yang jauh, seperti Batam, Selat Panjang, Pekanbaru, bahkan ada yang sampai dipanggil ke Malaysia. Penduduk tidak memilih pekerjaan, yang penting kebutuhan dapur terpenuhi dan anak-anak mereka bisa sekolah. Pengalaman bertahan hidup di tengah kesukaran mendapatkan pekerjaan, membuat mereka mengembangkan kemampuan masing-masing, memanfaatkan potensi memperoleh pendapatan yang ada di depan mata. “Untuk memenuhi kebutuhan dapur, kami harus bekerja bangunan. Kalau fokus kebun sayur saja, bisa melayang periuk di rumah.” Ungkapnya sambil tersenyum canda. Ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa penghasilan menanam sayur belum bisa dijadikan sandara utama dalam kehidupan rumah tangganya. “Dalam mengurus kehidupan sehari-hari, warga kampung sudah punya skill masing-masing. Kadang bukan hanya bangunan, kerja di kebun sawit juga biasa dilakukan.” Tuturnya lagi. Lalu dikatakannya bahwa untuk menjadikan bertani sayuran sebagai sandaran utama dalam menopang ekonomi keluarga, dibutuhkan lahan milik sendiri seluas dua sampai tiga hektar. Menurut Pak Sap, itu adalah persyaratan minimal agar peran petani sebagai tulang punggung keluarga bisa stabil. Petani bisa konsentrasi penuh untuk menanam di kebun saja, tidak perlu kerja yang lain untuk menafkahi keluarga. Pada Tahun 2016 Pak Saputra bergabung dengan Kelompok Tani (Poktan). Dia diajak oleh tetangga dekatnya bernama Pak Suryanto. Pak Suryanto sendiri adalah wakil ketua dari Kelompok Tani Maju Bersama. Poktan Maju Bersama ini beranggotakan 10 orang dengan ketua Darmawan, Sekretaris Andi dan Bendahara Mardiana. Melalui Penyuluh Lapangan dari Dinas Pertanian Kabupaten Bengkalis Penumbuhan dan pengembangan Poktan dilakukan. Dengan suara yang datar, dikisahkan oleh Pak Saputra bahwa awal tercetusnya ide membuat kebun sayurnya adalah saat beberapa kendaraan berat milik Perusahaan sedang melakukan pekerjaan menggali parit. Hampir dua minggu, pekerjaan menggali perbatasan tanah itu pun selesai. Kendaraan masih terparkir dekat lokasi lahan yang telah Poktan pinjam dari PT. Mereka pun melakukan koordinasi dengan perusahaan dan pemimpin proyek penggalian tersebut. Akhirnya kesepakatan tercapai, sebelum dikembalikan ke workshop, kendaraan akan membuka lahan untuk ditanami oleh Poktan. Setelah lahan terbuka, kelompok tani masuk untuk membersihkan dan mendirikan pagar di sekelilingnya. Para petani yang tergabung dalam Poktan Maju Bersama melakukan pengolahan lahan dengan membajak tanah menggunakan hand traktor. Salah satu fungsi dari membalikkan tanah ini adalah untuk memastikan lahan bebas dari gulma atau rumput pengganggu. Perlu waktu dua minggu pekerjaan tersebut karena tunggul tanaman masih tersisa, jadi mesti dibersihkan satu persatu. Setelah lahan bersih dan terbajak merata, petani mulai mengerjakan pemupukan dasar. Fase ini mereka lakukan dengan mencampur pupuk dasar, dolomit atau kapur pertanian dan pupuk kandang merata pada lahan. Tahap terakhir pada pengolahan tanah petani membuat bedengan yang mereka sesuaikan dengan arah sinar matahari agar tanaman mendapat pencahayaan maksimal. Proses fotosintesis tanaman berlangsung lebih sempurna dan mencegah hama dan penyakit yang hendak menyerang. Benih cabai sendiri didatangkan ketua kelompok Maju Bersama dari seorang kawan di Kotamadya Dumai. Perkawanan sebagai bagian dari sesama kelompok tani memberikan kepercayaaan, bahwa benih tersebut bermutu baik. Persyaratan umum dari kualitas benih adalah diambil dari tanaman yang bebas hama dan penyakit. Persemaian dilakukan dalam polybag yang diisi tanah halus dan pupuk kompos. Kemudian setelah cukup umur, bibit dipindahkan ke lahan tanam dengan mulsa plastik sudah terpasang. Pada tahap ini, yang harus diperhatikan adalah jarak tanam, lalu pengendalian hama tanaman sesuai prinsip Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Berdasarkan keputusan kelompok tani, mereka membuat jadwal penyiraman setiap hari, pagi sekitar pukul tujuh dan sore hingga petang menjelang. Pagi berikutnya, Pak Sap kembali mendapat giliran menyiram tanaman. Selang dan pipa air telah diulurkan ke tiap bedengan, mempermudah proses penyiraman. Di sela kesibukannya menyiram bersama beberapa anggota Poktan yang lain, mereka juga memperhatikan rumput yang mulai tumbuh di sekitar tanaman cabai. Mereka menyiangi gulma tersebut lalu merapikan mulsa yang lepas dari patoknya, mungkin ikatannya kurang kencang atau akibat tertiup angin. Cuaca memang kurang bagus akhir-akhir ini, terutama angin laut yang datang dari arah pesisir di waktu malam. Pak Saputra mengisahkan bahwa perubahan cuaca sangat mempengaruhi jadwal tanam sayuran. Dari pengamatan budidaya aneka buah dan sayuran yang pernah ditanamnya, Pak Sap memperoleh pengalaman bahwa untuk Bulan Maret sebaiknya menanam Semangka, Juni giliran Budidaya tanam Jagung Manis, Bulan Juli Budidaya Cabe Keriting dan Bulan Desember Budidaya Kacang Panjang. Kelompok tani Maju Bersama Kelurahan Sungai Pakning, mengatasi masalah menghadang dengan segala sumber daya yang bisa mereka jangkau. Mulai dari penggunaan mesin hand traktor menggantikan tenaga hewan dan cangkul, pemupukan dengan bahan organik, hingga teknologi jarak tanam dan penyiraman. Era industri mengharuskan transfer teknologi pertanian ke segala aspek budidaya tanaman. Kelompok tani menerapkan teknologi anjuran pemerintah, menyesuaikan kondisi lahan dan cuaca lokal hingga menghasilkan pertanian spesifik lokalita. Beberapa bulan kemudian tanaman cabai pun berubah warna menjadi merah, artinya sudah masuk waktu panen. Pelanggan pertamanya adalah tetangga-tetangganya sendiri. Mereka senang karena tidak perlu pergi jauh mencari cabai, dan tentu saja harganya lebih murah. Keberhasilan ini kemudian memicu permintaan penduduk akan jenis sayuran lain. Kelompok tani mulai menyusun rencana untuk menanam sayuran jenis berbeda yang sesuai dengan selera masyarakat setempat. Kerasnya persaingan lahan di perkotaan terjadi saling himpit antara pemukiman, pabrik dan gedung-gedung pencakar langit. Namun lain halnya dengan tangan-tangan kelompok tani yang berusaha menumbuhkan tanaman pangan. Dengan menanam kebutuhan cabai, sayur dan lainnya, kelompok tani telah menjadi pelayan masyarakat yang sebenarnya. Mereka menginspirasi agar kita mengambil peran dalam pemenuhan kebutuhan dapur sehari-hari. Mereka memutus rantai distribusi pangan yang panjang, hingga sumber makanan lebih dekat ke meja makan. Kelompok tani memberi manfaat kepada keluarga, sanak saudara dan penduduk setempat. Ditengah kampanye pembangunan yang semakin akut, masih ada jemari yang bercocok tanam, bahkan jika itu mesti dilakukan di tengah padatnya perkotaan.