Loading...

Berkunjung ke Kebun Durian Monthong di Pekanbaru, by pejuang pertanian rumbai

Berkunjung ke Kebun Durian Monthong di Pekanbaru, by pejuang pertanian rumbai
Batang dan dahan pepohonan dengan daun lancip itu menjulang ke udara. Tutupannya yang tak terlalu rimbun memberi ruang untuk tempias cahaya matahari siang itu. Pada beberapa pohon terlihat buah-buah durian dengan ukuran lebih besar dari buah kelapa berjuntaian. Buah-buah itu seolah menunggu saat untuk diambil. Namun, hal tersebut urung dilakukan sang pemilik, karena, idealnya, panen dilakukan setelah buah gugur ke tanah. Siang itu, permintaan akan buah durian itu cukup banyak. Apalagi, saat itu, ada kunjungan beberapa pihak, termasuk mantan Wali Kota Pekanbaru H Herman Abdullah bersama tim suksesnya yang khusus dilakukan untuk menikmati potensi baru wisata agro Kota Bertuah. ‘’Belum, belum waktunya dipanen. Kalau dipaksakan juga tidak bagus. Lebih baik menunggu buahnya jatuh baru dinikmati. Itu pun idealnya kita menunggu dua hari agar buahnya benar-benar siap disantap,’’ ungkap sang pemilik, H Jamaluddin saat Riau Pos berkunjung ke kebun durian miliknya di kawasan Palas, Rumbai Bukit, Kecamatan Rumbai Pekanbaru, awal pekan lalu. Sebenarnya, dijelaskan Jamal, pihaknya sudah menyiapkan stok buah cukup banyak untuk memenuhi kunjungan masyarakat. Tapi, seakan tak pernah cukup. Setiap ada buah yang jatuh, lantas sudah ada yang memesan. ‘’Kalau peminatnya banyak sekali. Kadang mereka hrus menunggu untuk bisa membeli. Padahal, tiap hari itu, biasanya ada saja buah yang jatuh,’’ papar lelaki yang sudah berusia kepala enam itu. Dengan langkah yang masih tegap dan semangat, Jamaluddin membawa Riau Pos untuk berkeliling kebun seluas 16 hektare yang dimilikinya. ‘’Tadi pagi saya ada menyimpan di semak belukar, coba kita lihat dulu. Kalau ada, dibawa saja,’’ ungkapnya bersemangat. Benar saja, baru beberapa saat berjalan, sambil membongkar semak belukar, Jamal membawa sebuah durian monthong yang gugur dari pohonnya. ‘’Nah, yang ini, baru bisa dimakan dua hari ke depan. Kalau sekarang masih keras, nanti kurang enak,’’ tuturnya. Ulah Pedagang Tak pernah terpikir sebelumnya oleh Jamaluddin untuk memiliki kebun buah durian seluas apa yang dimilikinya sat ini. Apalagi, dengan kemampuan ekonominya yang pas-pasan karena berprofesi sebagai pegawai negeri. Semua berawal dari kekesalannya oleh polah para pedagang durian yang kesannya sangat tidak menghargai masyarakat biasa saat hendak membeli durian. ‘’Tahun 1980-an itu, buah kita kan dipasok dari luar Riau, Sumbar terutama. Dulu mereka berjualan di sekitaran Harapan Raya (Imam Munandar kini, red). Tapi, karena buah yang masuk juga terbatas, akhirnya, ketika orang-orang biasa hendak membeli, mereka tak hendak menjualnya. Mereka hanya menjual pada orang-orang yang menggunakan mobil atau kendaraan mewah. Saya sempat kecewa, sehingga bergumam dalam hati: Suatu saat, saya akan menimbun buah-buah durian di jalan ini dari kebun saya,’’ kenang Jamal soal pengalaman masa lalunya. Tak diduga, ternyata, perjalanan waktu membuat mantan pegawai Badan Lingkungan Hidup ini mulai merintis minat bertaninya dengan menanam pohon-pohon durian monthong. ‘’Saya merealisasikannya sekitar tahun 90-an. Waktu itu ditanam 30-an batang, ada yang hidup, tapi banyak juga yang mati karena keterbatasan pengetahuan dan diinjak gajah. Tapi, terus disisip, sehingga, saya sendiri tak tahu, sudah berapa banyak riilnya tanaman durian yang pernah ditanam,’’ kenang lelaki yang rambutnya sudah memutih ini. Kebun itu dikelola langsung oleh Jamal. Mulai dari menanam, sampai pembersihannya. ‘’Sepulang dari kantor, saya selalu ke tempat ini. Membersihkan, memelihara, hingga, sekarang sudah setinggi ini, saya juga masih ikut membersihkan. Karena, saya senang berada di tempat ini,’’ungkap Jamal. Meski buah yang dihasilkan dari pohon-pohon durian ini belum terlalu maksimal, namun, Jamal menjelaskan kalau hal tersebut cukup memuaskannya. Apalagi, saat ini, cukup banyak permintaan akan buah-buah durian monthon ini. Ada beberapa faktor yang menyebabkan produksi buah belum maksimal. Salah satunya adalah hama lalat buah dan pencurian buah. ‘’Dulu, lalat buah banyak membuat buah gugur. Sekarang, seperti yang terlihat. Kalau ada yang gugur, yang masih bertahan di pohon saat ini adalah 50 persennya. Buahnya sebenarnya banyak kalau tak diserang hama. Tapi beberapa waktu terakhir, selepas mengikuti pelatihan di Jambi, ada trik baru yng dilakukan untuk mengurangi laju gangguan hama lalat buah,’’ ungkapnya. Hanya saja, diakui dia, persoalan pengelolaan kebun durian miliknya itu juga terkait aksi pencurian buah. Karena itulah, beberapa waktu terakhir, pihaknya melakukan pemasangan pagar berduri di sekeliling kebun dan membuat pondok-pondok pengawas di sejumlah titik. ‘’Mudah-mudahanlah, kalau pencurian buah sudah berkurang. Dulu pernah kita tangkap dan kita proses secara hukum,’’ ujar dia. Selain itu, Jamal juga menyebutkan, pihaknya melakukan pengembangan untuk jenis buah durian, tidak hanya sebatas burian monthong, namun juga untuk durian-durian lokal yang umumnya dibeli dari Kampar. ‘’Cuma untuk bibit durian lokal ini, saya memang sempat kurang selektif, sehingga, hasilnya banyak tak maksimal. Yang ini, pohonnnya sudah setinggi ini, tapi belum juga berbuah. Tapi, saya ber- positif thinking saja, mungkin karena pemupukannya kurang, jadi hasilnya kurang maksimal,’’ jelasnya. Kebun buah durian milik Jamal ini, mungkin termasuk sebagai salah satu kebun durian terluas yang ada di wilayah Kota Pekanbaru. Apalagi, jaraknya yang hanya beberapa kilometer dari kawasan wisata alam Taman Hutan Raya Sultan Syarif Kasim dan Hotel Rindu Sempadan. Dengan posisinya yang relatif dekat dijangkau dari pusat Kota Pekanbaru, hamparan kebun durian yang pada beberapa sisinya juga disisipi dengan jenis tanaman buah lainnya seperti rambutan, manggis, pepaya, juga berbagai jenis tanaman lainnya, termasuk kolam ikan ini diharapkan Jamal bisa menjadi potensi wisata baru untuk warga Pekanbaru. ‘’Saya sendiri sebenarnya belum terlalu siap untuk membuka agenda wisata di sini. Karena itulah, saya tak pernah terlalu menginformasikan. Tapi, saya sendiri memang punya harapan suatu sat kelak, tempat ini bisa bermanfaat untuk potensi agro wisata masyarakat Pekanbaru,’’ tutur Jamal tentang kebun yang dia miliki. ‘’Sudah banyak juga yang datang ke sini. Ada pelajar, ada juga kantor banyak juga warga di sekitar tempat ini. terutama masyarakat Tionghoa. Mereka kan suka durian ini, karena bisa menghangatkan tubuh. Tapi, kalau yang datang ke sini, biasanya saya tak mau pungut mahal-mahal, bahkan kalau mau makan di tempat, tidak ada patokan biayanya,’’ ungkap Jamal. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru, Sentot Prayitno yang diwawancara beberapa waktu lalu menjelaskan, potensi pertanian seperti apa yang ada di Rumbai maupun beberapa kawasan di dalam kota, idealnya harus dipertahankan. Karena, memiliki potensi strategis dalam mengatasi ketersediaan pasokan pangan dan buah-buahan bagi warga kota. ‘’Kalau untuk padi, mungkin kita tak bisa berharap terlalu jauh karena lahan kita terbatas. Tapi, untuk buah, terutama untuk tanaman holtikultura hendaknya bisa terus dikembangkan,’’ lugas Sentot. Pekanbaru sendiri, dijelaskan dia, sebenarnya sudah cukup banyak memiliki sentra pertanian penghasil buah. Diantaranya adalah, di kawasan Palas, Rumbai, maupun Tebingtinggi Okura dan Jalan Kartama, Marpoyan Damai. ‘’Memang tak terlalu luas, hanya berkisar 5.000 hektare. Tapi, untuk buah, saya pikir kita sudah bisa atasi. Seperti semangka, melon, cabai, sayuran, seperti bayam, kangkung, itu sudah produk lokal. Kita upayakan juga untuk peternakan juga bisa ditingkatkan lagi,’’ gugah Sentot lagi. Dipertahankan Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Dr Tantan R Wiradarya dalam kesempatan terpisah menuturkan, potensi pertanian yang dimiliki Kota Pekanbaru ini, hendaknya dipertahankan. Memang, diakui Tantan, permasalahan utama perkembangan potensi pertanian di Riau adalah peralihan fungsi lahan. ‘’Saya tak tahu persis seperti apa dan bagaimana awalnya sampai terjadi perubahan paradigma pertanian di daerah ini hingga kemudian sekarang hampir mayoritas petani memilih bercocok tanam sawit,’’ ungkap Tantang. Tantan tetap berpikir positif terhadap perkebunan yang saat ini menjadikan Riau sebagai sentra perkelapasawitan terbesar di dunia ini. ‘’Sawit itu juga bagus, potensial untuk mengembangkan ekonomi masyarakat di pedesaan. Tapi, tidak serta merta seluruh kebun rakyat harus beralih fungsi menjadi kebun sawit,’’ jelas dosen yang direkrut dari IPB ini. ‘’Sentra pertanian seperti holtikultura itu penting untuk mencegah ketergantungan terhadap sumber daya pertanian dari luar. Karena, riskan juga bila kita tak punya sentra pertanian. Termasuklah untuk potensi agro wisata,’’ ungkap dia. Hanya saja, dipaparkan Tantan lebih jauh, yang harus dilakukan oleh semua pihak adalah bagaimana memaksimalkan fungsi lahan yang dimiliki Riau untuk fungsi kawasan yang beragam. ‘’Lahan kita ini kan mayoritasnya gambut. Tapi, kita masih belum maksimal untuk menemukan pola-pola baru untuk pengembangan potensi pertanian di lahan gambut. Saya sendiri malah menekankan para peneliti di Fapertapet UIN untuk banyak meneliti keunggulan lahan gambut sehingga bisa dijadikan percontohan. Tak perlu jauh-jauh, kita bisa mengelola gambut dengan baik itu sudah keunggulan, karena memang mayoritas lahan kita adalah gambut tersebut,’’ papar dia lagi. Semakin tinggi disparitas jenis tanaman yang bisa dikembangkan, khususnya yang berkaitan dengan keperluan masyarakat, dijelaskan Tantan, akan semakin baik. ‘’Kita juga harus perpikir realistis. Kalaupun kita berorientasi hasil akhir dari menanam sawit, yakni peningkatan kesejahteraan petani, namun juga tetap harus dipertimbangkan bahwa keperluan pangan menjadi nilai tukar yng tak bisa dielakkan. Kita perlu bahan makanan, buah-buahan, ternak yang juga banyak. Karenanya, mengapa tidak kita juga berpikir untuk mengembangkan potensi pertanian lainnya, selain juga untuk mencegah dampak negatif dari terbatasnya potensi pertanian yang dikelola,’’ tantang dia. sumber, dokumentasi riau pos