Loading...

BERTANAM BAWANG MERAH BERMUTU BAIK DAN AMAN DIKONSUMSI

BERTANAM BAWANG MERAH BERMUTU BAIK DAN AMAN DIKONSUMSI
Saat ini di Indonesia, peluang pengembangan agribisnis bawang merah masih besar, mengingat potensi lahan yang masih luas pada kawasan bawang merah.bawang merah menjadi salah satu komoditas strategis, karena termasuk komoditas ekspor dan banyak digunakan oleh masyarakat. Meskipun dalam jumlah sedikit setiap hari setiap rumah tangga pasti menggunakan bawang merah sebagai bumbu masak. Untuk mendapatkan bawang merah bermutu baik dan amam dikonsumsi masyarakat Indonesia maupun untuk peningkatan daya saing pasaran luar negeri, bawang merah perlu ditanam secara organik. Bertanam secara organik adalah proses produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis untu pupuk, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan. Bertanam bawang merah secara organik mulai dari pengolahan tanah, pemilihan serta perlakuan benih, penanaman benih, dan sampai perawatan tanaman. Pengolahan TanahPengolahan tanah dimulai dengan mencangkul agar struktur menjadi remah. Selanjutnya buatlah bedengan dengan lebar 90 – 120 cm, tingginya 20 – 30 cm pada tanah kering atau 50 – 60 pada tanah sawah, panjang 10 – 15 m atau sepanjang lahan, dan jarak antar bedeng sekitar 40 cm. Pada tanah miring, bedengan dibuat tegak lurus dengan kemiringan lahan untuk mengurangi erosi. Lalu bedengan diberi pupuk kandang sebanyak 20 – 30 ton per hektar dan diratakan. Jika memungkinkan, bedengan yang telah siap disiram dengan air limbah ternak atau air septic tank untuk menambah unsur N, S, dan P. Pemilihan dan Perlakuan BenihBenih bawang merah yang digunakan harus cocok dengan kondisi setempat, tahan terhadap hama dan penyakit, berasal dari produk pertanian organik, tidak berasal dari produk GMO (Genetically Modified Organism/rekayasa genetik atau sifat keturunan yang direkayasa). Jika tidak ada benih organik, dapat digunakan benih bebas dari penggunaan bahan kimia sintetis atau benih dengan perlakuan bahan-bahan yang direkomendasikan untuk produksi pertanian organik. Varietas bawang merah dipilih yang sesuai dengan kondisi lahan, untuk dataran tinggi menggunakan varietas Maja, Sembrani,dan Trisula. Sedangkan untuk dataran rendah dapat menggunakan varietas Bima, Kuning, Pikatan, Katumi, Pancasona, dan Mentes. Umbi bawang merah yang akan digunakan sebagai benih dipilih yang sudah disimpan 6 bulan setelah panen, sehat, bebas hama penyakit, keras dan kering. Sebelum ditanam ujung umbi dipotong sekitar seperlima panjang umbi untuk mempercepat pertumbuhan. Benih bawang merah siap ditanam. Penanaman BenihBawang merah dapat ditanam sepanjang tahun, namun waktu tanam yang baik pada akhir musim hujan. Sebaiknya dilakukan rotasi dengan tanaman lainnya untuk mencegah hama dan penyakit. Sebelum benih bawang ditanam, tanah disiram dahulu untuk memudahkan penanaman. Buatlah lubang tanam dengan tugal yang jarak antar lubang 15 – 20 cm x 15 -20 cm. Lalu benih bawang merah yang siap ditanam di lubang tanam dan tanah bagian kanan dan kiri umbi ditekan agar umbi berdiri tegak dan kuat. Bagian umbi bekas potongan tidak ditutup dengan tanah, melainkan ditutup dengan abu bakar atau tepung belerang, bertujuan untuk menghindari hama dan penyakit serta menambah unsure kalium dan belerang. Perawatan TanamanSetelah benih ditanam, lakukan perawatan sebagai berikut: 1) Saat musim kemarau, penyiraman dilakukan 2 hari sekali, tetapi jika udara terlalu panas disiram setiap hari; 2) Jika ada tanaman yang mati, segera disulam atau diganti; 3) Tanah yang padat segera digemburkan secara hati-hati untuk menjaga akar tidak rusak; 4) Setelah tanaman berumur 4 (empat) minggu, diberi pupuk susulan berupa pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektar; 5) lakukan penyiangan jika tumbuh gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman; 6) Bunga yang muncul sebaiknya dipotong agar unsure hara digunakan untuk pembentukan anakan dan pembesaran umbi; 7) Jika umbi sudah terlihat, penyiraman dikurangi dan beberapa har menjelang panen tidak perlu dilakukan penyiraman; dan 8) Jika ada hama dan penyakit, segera ditanggulangi dengan cara mekanis atau disemprot dengan fungisida atau insektisida alami. Selamat mencoba ! Penulis: Susilo Astuti Handayani (Penyuluh Pertanian Pusluhtan) Sumber informasi:1. Prospek Pertanian Organik di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2002. 2. Sayuran Organik. Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian. 2008.3. Pracaya. Bertanam Sayur Organik. Cimanggis-Depok, Jawa Barat. 2009.4. Ahsol Hasyim dan Liferdi L. Inovasi Teknologi dalam Peningkatan Produksi dan Produktivitas BawangMerah (Apresiasi Pengembangan Apresiasi Pengembangan Jejaring dan Kemitraan Usaha Kelembagaan Petani Komoditas Bawang Merah di Cirebon, 25 – 28 Maret 2014). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.