Loading...

Bertanam Sayuran Organik

Bertanam Sayuran Organik
Perkembangan Pertanian Organik di IndonesiaPertanian organik mulai muncul di Indonesia pada tahun 1984, Yayasan Bina Sarana bakti mulai mengembangkan pertanian organik di Cisarua, Bogor pada lahan seluas 4 hektar. Dari Cisarua ini, banyak orang belajar mengenai pertanian organik, kemudian mengembangkannya di daerahnya. Sekarang ini, pertanian organik telah banyak diterapkan seperti di Lembang (Bandung), Kaliwiro (Wonosobo), dan Salatiga. Di tempat-tempat tersebut, tanaman organik diusahakan dalam hamparan atau ditanam di lahan. Karena kebanyakan tanaman yang diusahakan berupa tanaman sayuran, maka di Jakarta pun telah banyak pengusaha tanaman organik yang menanam di pot atau polybag. Jenis tanaman yang ditanam secara organik tidak terbatas hanya tanaman sayuran saja, tetapi telah diusahakan tanaman buah (walaupun tidak dalam skala luas), tanaman padi, dan tanaman obat. Produk tanaman organik masih terbatas dikonsumsi oleh orang-orang yang sadar akan kesehatan. Namun dengan munculnya produk pertanian organik di setiap pameran dan didukung dengan promosi mengenai pentingnya kesehatan, maka tidak menutup kemungkinan di tahun mendatang banyak orang yang beralih ke produk tanaman organik. Sebelum memulai bercocok tanam secara organik, perlu diketahui jenis tanaman yang dapat diusahakan secara organik dan cara atau upaya meningkatkan kesuburan tanaman. Jenis Sayuran OrganikPada umumnya, semua tanaman dapat diusahakan secara organik karena pada mulanya tanaman tumbuh secara alami, tanpa tambahan (pemupukan) dari luar. Hanya saja, ada tanaman yang peka terhadap hama dan penyakit sehingga perlu pemeliharaan yang intensif. Selain itu, bila bertanam secara organik diarahkan untuk bisnis, pemilihan jenis tanaman harus mempertimbangkan jenis yang laku di pasaran, misalnya bawang merah, dan tomat. Sedangkan upaya meningkatkan kesuburan tanaman ditentukan oleh beberapa faktor, seperti kesuburan tanah, iklim, hama dan penyakit, serta benih. Kesuburan TanahKesuburan tanah dapat dilihat dari kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah.1. Faktor Fisik Dari segi fisik, tanah yang subur dicirikan dengan keadaannya yang gembur. Untuk menggemburkannya, perlu dilakukan pembalikan tanah, baik dicangkul maupun dibajak. Pembalikan tanah memberikan dampak yang positif, yaitu:a. Terjadi pertukaran udara (aerasi) di dalam tanah, gas racun akan menguap dan diganti dengan oksigen;b. Adanya oksigen menyebabkan jasad renik aerob dapat berkembang dengan baik sehingga menambah kesuburan tanah, misalnya bakteri Rizobium, Azobacter, dan Nitrobacter;c. Air mudah meresap sehingga tanah tidak mudah tergenang dan kelembaban air tanah berkurang; dand. Bibit penyakit, hama, dan gulma mati karena terkena sinar matahari atau terkena cangkul. Selain pembalikan, tanah yang berat perlu diberi pupuk organik dan pasir agar gembur. Tanah yang gembur akan mudah ditanam, disiangi, dan dipupuk. Akar tanaman pun akan mudah menembus tanah dan menyerap unsur hara. Pada waktu musim kemarau, tanah bagian atas yang gembur dapat berfungsi sebagai mulsa sehingga dapat mengurangi penguapan air tanah. 2. Faktor KimiaUnsur kimia yang diperlukan tanaman disebut unsur hara. Kebutuhan unsur hara dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu dalam jumlah banyak (makro), sedang (madya), dan sedikit (mikro).a. Unsur hara makro (banyak) seperti: Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O);b. Unsur hara madya (sedang) seperti: Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Kalium dan Belerang (S); danc. Unsur hara mikro (sedikit) seperti: Besi (Fe), Seng (Zn), Mangan (Mn), Boron (B), Molibdin (Mo), dan Klor (Cl), Kobalt (Co), dan Silisium (Si). Jumlah unsur hara di dalam tanah umumnya terbatas. Penambahan unsur hara dapat dilakukan dengan pemberian pupuk organik, misalnya pupuk kandang atau kompos. Penyerapan unsur hara oleh tanaman tergantung dari derajat keasaman tanah (pH - Power Hidrogen). Untuk mengetahui atau mengukur pH tanah, dapat digunakan pH meter atau kertas pH. Berbagai skala reaksi tanah berdasarkan hasil pegukuran pH, yaitu (a) sangat asam dengan pH 9,1.Pada kondisi pH yang berbeda, ketersediaan unsur hara pun berbeda. Beberapa keadaan unsur hara dengan pH yang berbeda yaitu:a. Pada tanah asam, unsur besi, tembaga, mangan, dan aluminium banyak tersedia, padahal kalau tersedia banyak, unsur-unsur tersebut akan meracuni tanaman;b. Pada pH tanah rendah dan tinggi, unsur Fosfor banyak terikat pada komponen tanah sehingga sulit diserap oleh akar; danc. Pada tanah netral dan Alkalis, unsur Kalium, Magnesium, Kalsium, dan Molibdin banyak tersedia dan mudah diserap akar tanaman. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan