Itik merupakan salah satu penghasil telur selain ayam. Beternak itik lebih mudah daripada ayam karena itik tahan terhadap penyakit sehingga resiko kematian rendah disbanding dengan ayam. Pada umumnya itik dipelihara secara tradisional yaitu dengan pengembalaan berpindah-pindah tempat. Dengan semakin sempitnya areal pengembalaan dan tingginya pemakaian pestisida dilahan-lahan pertanian sehingga resiko kematian tinggi karena keracunan maka pemeliharaan secara tradisonal tidak menguntungkan lagi. Salah satu alternative pemeliharaan yaitu dengan system intensif atau semi intensif yaitu pemeliharaan yang dilakukan secara terkurung dengan dukungan pemberian pakan yang cukup jumlah maupun zat gizinya serta tatalaksana kandang yang baik, pemeliharaan dan pengawasan kesehatan ternak yang baik. Pemeliharaan dengan system ini dapat dilakukan di samping atau dibelakang rumah dengan di lengkapi pagar keliling setinggi 0,75 – 1 m dimana didalamnya terdapat umbaran dan kandang tempat naungan.Tahapan pemeliharaan diwali dengan pemilihan bibit, bibit itik petelur harus memiliki persyaratan yaitu pertumbuhan badanya cepat, besarnya seragam serta tidak cacat, pertumbuhan bulunya cepat, dan warnanya seragam, cepat mencapai dsewasa kelamin, mempunyai daya hidup yang tinggi, lebig efisien dam penggunaan pakan dengan angka konversi 2-2,5 yang artinya untuk menghasilkan 1 kg telur dibutuhkan 2-2,5 kg pakan. Untuk memperoleh bibit itik bermutu peternak dapat membeli dari tempat pembibitan yang sudah terkenal dengan ciri-ciri fisik yaitu tidak cacat, warna bulu kering dan mengkilap. Tahapan berikutnya adalah kandang itik dengan persyaratan kandang yaitu mempunyai luas yang cukup dengan jumlah itik yang dipelihara dengan perbandingan 1x1 m dapat menampung anak itik 10-20 ekor, remaja 5-6 ekor, dan dewasa 3-4 ekor, mempunyai ventilasi udara yang cukup, mudah dibersihkan, lantai kandang harus lebih tinggi dari tanah, dan tinggi kandang harus cukup bagi peternak untuk bekerja didalamnya.Pakan itik merupakan biaya terbesar yaitu sekitar 60-70% dari biaya produksi. Untuk mencapai produksi telur yang optimal maka pemberian pakan yang murah dan memenuhi kebutuhan zat gizi sangat diperlukan. Beberapa jenis pakan itik dari bahan local untuk sumber energy yaitu dedak padi, dedak jagung, sagu, dan singkong sedangkan untuk sumber protein yaitu tepung ikan, bekicot, bungkil kedelai dan ikan rucah (ikan teri) dan untuk sumber vitamin seperti genjer, enceng gondok, rumput mudah, dan kangkung. Pemberian pakan jangan sampai ada yang sisa karena dapat menjadi tengik dan berpengaruh terhadap kesehatan itik. Penyediaan sarang (tempat bertelur) sangat diperlukan untuk mencegah agar telur yang dihasilkan tidak pecah dan kotor, selain itu pencahayaan untuk menerangi itik dewasa harus minimal 14 jam per hari. Sumber: Sinar Tani, edisi 14-20 Mei 2014 No. 3557 Tahun XLIV. Merubah Pekarangan menjadi Ladang Uang. Ir Ermidias (Penyuluh BPTP Sumatera Barat) Penulis:Adyakbar, S.TP,M.Si (Penyuluh Pertanian Muda) BPP Dampang Kec. Gantarangkeke Kab. Bantaeng