Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lampung Selatan, Ir Zailani, membuka Bimtek Pengendalian Hama dan Penyakit Kelapa di Aula Negeri Baru Resort, Kalianda, Lampung Selatan pada Hari Selasa tanggal 14 Agustus 2018. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa Lampung Selatan harus mempertahankan kelapa sebagai komoditas unggulan. Berkurangnya luasan dan menurunnya produksi disebabkan banyaknya pohon kelapa yang ditebang untuk keperluan lain maupun meluasnya serangan hama dan penyakit.Untuk itu, perlu dilakukan upaya seperti mengendalikan hama dan penyakit tanaman kelapa, utamanya dari serangan Arthona catoxantha dan Oryctes, yang dapat mengakibatkan penurunan produksi. Diharapkan dengan mengikuti bimtek ini, petugas dan petani dapat melakukan pengamatan secara dini dan pengendalian hayati sehingga serangan tidak meluas.Nara sumber pada Bimtek ini adalah petugas POPT dari UPTD Perlindungan Tanaman Perkebunan Provinsi Lampung, dan diikuti oleh 20 orang peserta yang terdiri dari petugas dan petani kelapa.Pada acara ini diperkenalkan berbagai macam hama dan penyakit yang menyerang tanaman kelapa, mulai dari siklus hidup sampai kepada pengendaliannya. Teknik pengendalian diutamakan bertahap, tidak langsung secara kimiawi dengan menggunakan insektisida, tetapi secara biologi dengan menggunakan musuh alami.Selain itu para peserta juga dibekali dengan pengetahuan mengenai gejala serangan, sehingga dapat menentukan langkah yang efektif dalam melakukan pengendalian.Disamping pengetahuan yang cukup komprehensif tentang hama dan penyakit tanaman kelapa, peserta bimtek juga diberi keterampilan melakukan pengendalian hama khususnya Arthona catoxantha. Apabila serangan sudah eksplosif, maka tidak ada pilihan selain membasminya dengan insektisida. Peserta diberi bekal keterampilan kapan saat yang tepat untuk melakukan pengendalian dan bagaimana caranya, yaitu melubangi batang kelapa yang terkena serangan dan memasukan insektisida di dalamnya. Pada bimtek ini juga peserta diajak untuk membuat perbanyakan agen hayati metharizium sebagai musuh alami Oryctes. Metharizium dibuat dari pipilan jagung kering yang dikukus kemudian dicampur dengan starter metharizium. Campuran pipilan jagung dan metarizium kemudian ditutup dengan plastik berbentuk kerucut. Kemudian diinokulasi/disimpan selama satu minggu dan dihindarkan dari cahaya matahari dan binatang. Campuran yang sudah jadi bisa dipakai untuk menjadi bahan campuran "sarang jebakan" Orytes.Menurut salah seorang peserta pelatihan, Rumiem, Bimtek Hama dan Penyakit Kelapa ini sangat bermanfaat bagi pengendalian hama kelapa dilapangan. Antisipasi terhadap serangan hama pada tanaman perkebunan sangat penting untuk menghindari ledakan hama. Semoga silaturahmi peserta dan pelatih bisa berlanjut, sehingga jika ada masalah dilapangan bisa berkomunikasi."Hendaknya petani dan petugas memiliki grup WA untuk memberikan informasi dini bila ada serangan hama khususnya kelapa". Dari Bimtek ini diharapakan tidak ada lagi ledakan serangan artona dll pada tanman kelapa yang sangat merugikan petani tanaman kelapa. Penulis : Toto Haryanto, (Penyuluh Pertanian Lampung Selatan).