Oleh : Med Nurhindarno, SP (Penyuluh Pertanian BPP Kec. Gunungwungkal) Pada Hari Sabtu (12/05/2018) petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Wana Mulya Lestari Desa Sidomulyo, Kec. Gunungwungkal, Kab. Pati melakukan kegiatan Bimbingan Teknis (Bintek) terkait Penanganan Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian Tanaman Kopi. Bintek ini merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kab. Pati. Tanaman Kopi saat ini mendapat perhatian dari Dinas Pertanian Kabupaten Pati karena memiliki potensi yang lumayan besar. Berdasarkan data, luas lahan kopi milik masyarakat di Kabupaten Pati seluas 2.100 ha dimana 90% nya merupakan jenis robusta. Apabila potensi produksinya 700 kg/ha hingga 2.000 kg/ha maka hasil tanaman kopi di Kabupaten Pati sebesar 1.470.000 kg hingga 4.200.000 kg, dengan potensi keuangan Rp. 36,7 miliar hingga Rp. 105 miliar. Tanaman kopi merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang banyak dibudiddayakan oleh petani di Desa Sidomulyo. Jenis kopi yang banyak dibudidayakan petani ialah jenis robusta. Bintek yang diselenggarakan di Kelompok Tani Wana Mulya Lestari ini bertujuan untuk merubah sikap dan keterampilan petani kopi dalam kegiatan pasca panen dan pengolahan. Sebagaimana biasanya, petani di Desa Sidomulyo khususnya yang tergabung di Kelompok Tani Wana Mulya Lestari melakukan pengolahan kopi secara alami yakni dengan pengolahan kering (dry process).Menurut salah satu pemateri pada acara Bintek ini, Bp. Muttaqin, harga jual kopi sangat ditentukan oleh cara pengolahan. Menurutnya ada beberapa jenis pengolahan kopi yakni natural process (dry process), washed process (full washed process) , semi washed process dan hoey (miel) process. Pemateri yang juga merupakan pelaku utama di usaha per-kopi-an mendorong petani untuk mulai melakukan pengolahan kopi minimal dengan cara washed process supaya keuntungan yang di dapat petani lebih banyak. Setidaknya ada selisih minimal Rp. 10.000 per kg dibanding kopi yang diolah secara biasa. Berdasarkan penjelasannya, cara washed process adalah mengupas kulit kopi yang baru dipetik dengan dialiri air. Proses ini biasanya dengan menggunakan mesin khusus yang disebut depulper (pengupas). Setelah dilakukan pengupasan, biji kopi yang masih ada lapisan arinya ini kemudian di rendam/difermentasi ke dalam air selama kurang lebih 24-36 jam. Setelah fermentasi, biji kopi kemudian dijemur di atas meja pengering. Meja pengering ini disyaratkan memiliki ketinggian 50-100 cm dari permukaan tanah dan sebaiknya pengeringan tidak langsung terbuka tapi dibuat tudung plastik. Tujuannya supaya biji kopi tidak menyerap aroma-aroma disekitarnya sehingga citarasa kopi akan enak. Selain diajarkan tentang teknik pasca panen dan pengolahan, peserta Bintek juga diajarkan tentang perawatan tanaman kopi. Petani dilatih teknis pemangkasan cabang pada tanaman kopi. Praktek teknik perawatan langsung dilakukan di kebun milik salah satu petani. Pada kegiatan Bintek ini petani juga diajak ke gudang pengolahan milik kelompok tani Bp. Muttaqin. Di tempat ini, petani bisa melihat mesin pengolahan full washed, alat roasting untuk men-sangrai kopi, meja pengeringan, dsb. Diakhir acara, peserta Bintek diajak Bp. Muttaqin untuk minum kopi produksi kelompoknya. (MN)