Rumah Kompos yang dikelola oleh Sutikno pada kelompok tani Mekar Sari Kampung Tualang Kecamatan Tualang Kabupaten Siak sudah berjalan selama enam tahun. Produk yang dibuat pada rumah kompos adalah pupuk organik berupa granular dan urine cair. Bahan baku berasal dari kotoran sapi yang berjumlah tiga puluh tiga ekor posisi bulan sekarang. Adanya keinginan untuk mencoba menerapkan teknologi biogas sudah lama terniatkan oleh sutikno baik melalui konsultasi dengan penyuluh maupun pihak dinas teknis terkait yang sering berkunjung ke tempat usahanya tetapi karena belum terkabulnya permohonan sutikno ditambah lagi karena keterbatasan dana maka keinginan tersebut redup dulu buat sementara waktu. Setelah mendapat pencerahan dari seorang koleganya yang sudah pengalaman membuat biogas dari pulau jawa, bermodalkan penasaran sutikno mulai konsep biogas sederhana dengan menggunakan tangki air warna putih ukuran 1000 liter yang selama ini digunakan untuk menampung urine cair yang telah difementasi dijadikannya sebagai bungker/kontainer sekaligus digester penampung gas yang telah dihasilkan dalam proses pembuatan biogasnya. Untuk menyalurkan gas dari tangki serba guna tersebut bukan hal yang gampang awalnya karena ukuran lobang cukup besar tidak dijumpai alatnya, ilham berupa ide cemerlang datang menghampiri sutikno setelah sibuk melakukan rekayasa agar gas dapat keluar secara baik dan bisa disalurkan langsung melalui regulator digunakanlah pipa kepala tabung gas 3 kg yang ditanam pada penutup lobang tangki serba guna tersebut. Alhasil dengan metode sederhana seperti itu gas bisa langsung digunakan, itulah kelebihan yang dimiliki oleh peternak handal kampung tualang kecamatan tualang kabupaten siak itu inovasi terus dicobanya untuk bisa merasakan teknologi biogas guna keperluan memasak sehari-hari. Harapannya pihak pemerintah bisa membantu merealisasikan keinginannya mendapatkan bantuan pembuatan biogas secara lebih bagus agar masyarakat di lingkungan tempat tinggal sutikno bisa merasakan manfaat positif adanya peternakan sapi.