Memanfaatkan tanaman biofarmaka (tanaman obat) untuk mengendalikan OPT (Organisme Pengganggu Tnaman), dengan mengolah jadi biopestisida (pestisida nabati), lebih menguntungkan karena produknya aman untuk dikonsumsi, menjaga kelestarian lingkungan, pengolahannya mudah serta bahannya banyak tersedia disekitar lingkungan. Tanaman biofarmaka selama ini hanya digunakan untuk pemeliharaan kesehatan dan kebugaran, pengobatan alternatif, kosmetika, perawatan kecantikan, makanan penguat dan makanan tambahan maupun bahan untuk pembuatan parfum.Penggunaan biofarmaka sebagai biopestisida untuk mengendalikan OPT sangat potensial, sayangnya masih jarang digunakan oleh petani. Padahal penggunaan biopestisida untuk mengendalikan OPT dalam beberapa hal lebih menguntungkan dibanding penggunaan pestisida kimia. Keuntungannya antara lain produk tanaman lebih aman untuk dikonsumsi, kelestarian lingkungan dan sistem produksi pertanaman yang berkelanjutan lebih terjamin. Apalagi Indonesia memiliki jenis biofarmaka tidak kurang dari 7000 spesies, dari jumlah itu baru sekitar 300 (4,5%) yang telah dimanfaatkan, dimana dari 300 spesies ini baru sekitar 50 jenis tanaman yang dibudidayakan sedang selebihnya masih diperoleh dan diambil langsung dari alam. Cara Penggunaan Berdasarkan Jenis OPT Dan Jenis Tanaman BiofarmakaJenis OPT yang dapat dikendalikan dengan biopestisida antara lain: Hama secara umum, hama thrip pada cabai, hama belalang dan ulat, hama wereng coklat dan penggerek batang. Hama dan penyakit pada tanaman bawang merah dan hama tikus. Sedang tanaman biofarmaka yang digunakan tergantung dari jenis OPT-nya. Adapun cara penggunaannya adalah sebagai berikut:1. Hama secara umumSiapkan daun mimba (Azadiraahta indica) 8 Kg, lengkuas 6 Kg, sabun detergen/sabun colek 20 gram dan air 80 liter. Bagian tanaman ini ditumbuk halus, kemudian dicampur detergen/sabun colek. Setelah itu masukan 20 Lt air dan diaduk sampai rata. Adonan ini didiamkan selama 24 jam, kemudin disaring dengan kain halus dan hasil saringannya diencerkan dengan 60 Lt air. Larutan ini sudah dapat digunakan untuk mengendalikan hama seluas kurang lebih 1 hektar tanaman.2. Hama Thrip pada cabai Daun sirsat (Annona muricata) 50-100 lembar setelah ditumbuk halus kemudian dicampur dengan 15 gram detergen atau sabun colek. Masukkan 5 liter air dan diaduk sampai rata dan diamkan selama 24 jam, kemudian disaring dengan kain halus. Apabila larutan akan digunakan, setiap satu liter larutan diencerkan dengan 10-15 liter air, kemudian disemprotkan keseluruh bagian tanaman cabai yang terserang hama Thrips.3. Hama belalang dan ulatDaun sirsat (Annona muricata) 50 lembar dan daun tembakau (Nicotiana Tabacum) satu genggam ditumbuk halus, setelah itu tambahkan 20 gram detergen /sabun colek dan 20 liter air, kemudian diaduk sampai rata. Setelah itu adonan didiamkan/diendapkan selama 24 jam kemudian disaring dengan kain halus. Jika larutan tersebut akan digunakan, encerkan dulu dengan 50-60 Liter air, lalu semprotkan pada tanaman yang terserang hama belalang dan ulat.4. Hama wereng coklat, penggerek batang dan nematodeCaranya 50 gram biji mimba ditumbuk halus dan diaduk dengan 10 cc alkohol, kemudian diencerkan dengan 1 liter air. Setelah dibiarkan selama 24 jam dan disaring dengan kain halus kemudian disemprotkan pada tanaman yang terserang hama wereng coklat, penggerek batang dan nematoda.5. Hama dan penyakit pada tanaman bawang merahDaun mimba 1 kg dan 2 buah umbi gadung, setelah ditumbuk halus, tambah sedikit detergen/sabun colek dan diaduk sampai rata. Tambahkan 20 liter air dan endapkan selama 24 jam, kemudian disaring. Larutan ini siap untuk disemprotkan pada tanaman bawang merah yang terserang hama. Penyakit yang menyerang tanaman bawang merah, bisa juga dikendalikan dengan limbah daun tembakau sebanyak 200 kg (untuk tabnaman bawang merah seluas 1 ha). Caranya limbah daun tembakau ini dihancurkan/ditumbuk halus dan ditaburkan bersamaan dengan waktu pemupukan. Limbah daun tembakau ini efektif untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri dan nematoda.6. Hama tikusUntuk mengendalikan hama tikus, siapkan 1 kg umbi gadung racun (Diaskorea hispida) 10 kg dedak padi, 1 ons tepung ikan, kemiri sedikit dan air secukupnya. Umbi gadung yang sudah dikupas ditumbuk sampai halus, kemudian semua bahan yang sudah disiapkan itu dicampur jadi satu sambil diaduk hingga rata sehingga berbentuk pellet. Pelet ini dipasang dengan wadah yang terlindung dari air hujan dan dipasang dipematang sawah atau tempat tikus bersarang.Gunakanlah biopestisida guna pengendalian hama dan penyaskit pada usaha tani ,diperoleh hasil yang baik dan ramah lingkunganOleh: Sunarto, SP Penyuluh Pertanian Madya BPP Banyuurip DINPPKP Kab.Purworejo