Kabupaten Gowa memiliki wilayah dataran rendah dan sebagian besar dataran tinggi yang menjadi salah satu daerah di Sulawesi selatan dengan kekayaan yang begitu melimpah. Selain lahan pengunungan yang subur dan menghasilkan beragam sayuran yang segar, juga ada satu daerah yang di kenal sebagai penghasil beras. Daerah itu bernama Bulutana, sebuah kelurahan di antara tujuh Kelurahan yang berada di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kondisi alam yang sejuk dan dingin serta didukung lahan yang subur menjadi faktor pendukung utama keberhasilan masyarakat Bulutana dalam memproduksi tanaman padi. Jadilah, Bulutana terkenal sebagai daerah penghasil beras terbaik dataran tinggi. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peranan Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. Gowa yang selalu memberikan dukungan pemberdayaan petani melalui kegiatan Penyuluhan Pertanian untuk mengetahui sistem budidaya tanaman padi yang baik dan benar di beberapa Kelompok Tani dan Petani yang ada di Kelurahan Bulutana. Pembukaan tanah dan penanaman padi diteruskan dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi sehingga sawah-sawah terasering ini nampaknya sebagai satu gambar artistik yang megah di lereng-lereng bukit. Bersama dengan pembentukan sawah-sawah terasering, selama beberapa tahun ini, menurut proses pemukiman menetap dan penanaman padi sawah, maka penduduk di daerah Kelurahan Bulutana telah berangsur-angsur terbentuk banyak aktivitas kebudayaan, terutama budaya gotong royong yang terkait dengan aktivitas produksi pertanian. Dinamakan sawah terasering, karena sawah ini punya banyak teras, setiap teras adalah satu sawah yang kecil, semua teras sambung-menyambung, semakin banyak teras semakin memperlihatkan teknik cocok tanam dari pemiliknya. Sawah terasering disambungkan dari yang tinggi ke yang rendah sesuai dengan posisi topologinya dan berbagai bentuk. Karena di daerah pegunungan, maka tanah cocok tanam yang rata sangat langka, maka para penanam padi telah mengatasinya dengan memilih lereng bukit dan gunung untuk menciptakan sawah-sawah terasering ini, itu merupakan kekreatifan sehingga menciptakan hal-hal baru dalam bercocok tanam. Setelah sawah-sawah terasering telah berhasil dibuka, maka masyarakat setempat memperbaikinya menjadi sawah yang bisa ditanami padi juga manjadi sagatt penting. Pekerjaan pertama dari proses ini ialah membuat saluran air untuk sawah yang baru saja dibuka, Air disalurkan dari sawah yang tinggi ke sawah yang rendah, setiap sawah merupakan sebagian dari saluran air yang khusus ini. Bagi sawah yang dimiliki oleh banyak orang, maka pembelaan, pengelolaan dan pembagian sumber air dipikul bersama-sama. Dilihat dari sudut manapun, sawah terasering juga mempunyai bermacam-macam keindahan berlainan. Pada bulan Mei Juni, yaitu waktu panenan, sawah-sawah padi yang berwarna kuning memberikan indikasi tentang satu masa tanam yang sukses. Yang berselang-seling dengan warna kuning dari padi ada sawah-sawah terasering yang masih berpindah ke warna hijau-kuning. Semuanya bagaikan satu panorama warna-warni yang hidup-hidup sehingga menciptakan keindahan dari daerah pegunungan Tinggimoncong, Penulis Hariyadi S, SST (PPL Kec. Tinggimoncong)