BUDAYA MEMUNUH DI SUBAK TELAGA DESA ULAKAN KECAMATAN MANGGIS
BUDAYA MEMUNUH DI SUBAK TELAGA DESA ULAKAN KECAMATAN MANGGIS Ada hal yang sering terlihat saat pemanenan padi di Subak Telaga Desa Ulakan Kecamatan Manggis. Terlihat barisan ibu-ibu yang sedang asik memukul-mukul jerami sisa panen yang telah terbuang. Dengan memakai Capil (Topi Petani), beralaskan terpal, beratapkan payung dengan sigapnya ibu-ibu tersebut memukul-mukul jerami sisa panen dengan Pengetesan (stik besi). Panas terik matahari pun tidak menyurutkan semangat para ibu-ibu tersebut untuk Memunuh. Memunuh atau Munuh dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kegiatan mengumpulkan padi. Memunuh atau mengumpulkan sisa-sisa padi dari jerami yang telah dibuang merupakan kebiasaan yang telah dilakukan sejak zaman dahulu. Kegiatan tersebut banyak ditemukan di Subak Telaga atau secara umum Subak di Bali pada saat melakukan panen padi. Memunuh merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para wanita berumur sekitar 50 th sampai 80 th. Bekerja dari pukul 09.00 wita sampai dengan 16.00 wita setiap harinya merupakan kegiatan sampingan setelah berdagang di pasar. Selama kurang lebih 7 jam tersebut, 1 orang memunuh dapat mengumpulkan 1-2 kg jijih (padi yang belum dikeringkan dan digiling). Apabila 1 orang melakukan kegiatan memunuh selama 14 hari, maka dapat dihitung akan mendapatkan sebanyak 14-28 kg jijih. Padi yang telah dikumpulkan pada saat akhir panen akan dikumpulkan dan dikeringkan, setelah itu padi tersebut akan digiling. Rata-rata per orang akan mendapatkan beras sekitar 1 sak atau setara 25 kg beras. Budaya memunuh di Subak Telaga merupakan salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat, selain mendapatkan penghasilan tambahan pemilik lahan secara tidak langsung juga dapat membantu sesama. Kegiatan memunuh seperti ini juga diharapkan dapat diteruskan dan dilanjutkan sebagai warisan luhur budaya Indonesia di Bali khususnya di Subak Telaga Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem . (Ni Kadek Nita K.A,PPL Kec.Manggis)