BUDIDAYA BAWANG MERAH DENGAN MULSA PADA MUSIM HUJAN"PRODUKSI MENINGKAT, PETANI SEJAHTERA"Emi Hudria (Jafung Kabupaten Enrekang) Bawang merah termasuk salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Akan tetapi hasil produksi di Indonesia masih kurang dibandingkan dengan besarnya permintaan pasar domestik maupun ekspor. Dengan demikian untuk meningkatkan produktifitas dan mendukung pengembangan budidaya bawang merah diperlukan teknik budidaya yang tepat dan inovatif. Kabupaten Enrekang merupakan salah satu sentra bawang merah di wilayah timur Indonesia harus terus berinovasi menuju petani yang sejahtera.Siapa tak kenal umbi bernama bawang merah, Umbi tanaman yang satu ini digunakan hampir di seluruh jenis masakan Indonesia. Masakan serasa tak lengkap tanpa bumbu ini. Selain untuk masakan bawang merah juga kerap digunakan sebagai obat. Produksi dalam negeri tahun 2016 rata-rata produksi bawang merah di Kabupaten Enrekang mencapai 85.194 ton per ha, sementara potensi produksi sesungguhnya mencapai 10-12 ton/ha. Untuk meningkatkan produktivitas bawang merah, penggunaan mulsa plastik merupakan salah satu langkah yang dapat ditempuh.Adapun budidaya bawang merah menggunakan mulsa menurut Suwandi (BALITSA) sebagai berikut : 1. Pengolahan Lahan dan PemulsaanUsahatani bawang merah di musim hujan disarankan untuk penanamannya dilakukan di lahan kering atau lahan tegalan dengan lokasi yang terbuka dan tidak terlindung oleh pohon, karena pertanaman bawang menghendaki cahaya dan penyinaran langsung/penuh. Saat ini telah banyak varietas yang cukup adaptifditanam pada ekosistem dataran rendah sampai dataran tingi (>1000 m dpl.).Pertanaman bawang merah di dataran tinggi memiliki umur panen relatif lebih panjang yaitu > 70 hari dibandingkan dengan tanaman di dataran rendah.2. PenanamanBenih bawang merah yang digunakan adalah varietas unggul dan adaptif untuk ditanam di musim hujan pada lahan kering atau lahan tegalan. Benih bawang adalah umbi yang sudah disimpan sekitar 2,5–4,0 bulan dan daya tumbuhnya mencapai 80–90%, kondisi umbi segar, kekar, tidak cacat dan bebas dari hama/penyakit pada umbi bawang. Seleksi ukuran umbi yang akan ditanam dilakukan untuk setiap areal tanam, supaya pertumbuhan tanaman seragam. Umbi benih tersebut dirompes dari ikatannya atau lakukan pemotongan ujung umbi apabila benih bawang merah belum siap untuk ditanam (pertumbuhan tunas dalam umbi Penanaman bawang off-season pada lahan kering/tegalan menggunakan jarak tanam 15 cm x 20 cm untuk umbi ukuran agak besar dan 15 cm x 15 cm untuk umbi benih ukuran kecil (3. PemupukanPupuk dasar yang dianjurkan pada usahatani bawang merah off-season di lahan kering meliputi pemberian pupuk kandang atau kompos, untuk dosis pupuk kandang sapi (10–15 ton/ha) atau kotoran ayam (5–6 ton/ha) atau kompos (2–3 ton/ ha) dan pemberian kaptan/dolomite dengan dosis (1,5 ton/ha). Dosis pupuk NPK (15-15-15) atau Fonska sebanyak (500-600) kg ditambah pupuk fosfat asal TSP atau SP-36 (150–200 kg/ha). Cara aplikasi pupuk dasar, kaptan/dolomit diberikan saat pengolahan tanah dalam bedengan, kemudian pupuk organik dan pupuk fosfat, dan dapat pula diaplikasikan pupuk hayati efektif, kemudian diaduk rata sebelum mulsa plastik perak dipasang. Penggunaan mikroba Trichoderma sp. isolate tertentu efektif untuk sayuran/bawang merah berdasarkan hasil uji efektivitasnya dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia 4. PanenMasa panen bawang merah off-season di lahan kering bervariasi bergantung pada ekosistem dan ketinggian tempat, makin tinggi tempat makin lama umur panen bawang merah. Beberapa ciri fisik tanaman bawang merah yang siap dipanen (Musaddad & Sinaga 1995), adalah daun tanaman sudah agak kuning (>70%), pangkal daun tanaman sudah lemas/kempes, umbi bawang sudah muncul jelas dipermukaan dan berwarna merah, dan juga sebagian besar tanaman sudah ada rebah. Pada ekosistem dataran tinggi (> 1.000 m dpl.), bawang merah mulai menua dan dapat dipanen sekitar umur > 70 hari. Tanaman dipanen dengan cara dicabut pangkal daunnya, umbi dibersihkan dari tanah yang menempel, kemudian diletakkan di atas bedengan, dikumpulkan dan diangkut ke tempat penjemuran