Bawang Merah merupakan salah komoditas Pertanian yang memiliki peranan penting dan selalu dibutuhkan masyaratak Indonesia sebagai rempah utama dalam mengolah masakan. Dikota Bandar Lampung budidaya komoditas ini dapat dikatakan masih jarang dilakukan oleh petani setempat, dikarenakan belum memiliki pengalaman dalam melakukan budidaya dan faktor sebagai petani penggarap sehingga keputusan komoditas budidaya berada pada pemilik lahan. Sehingga, selama ini bawang merah yang ada diKota Bandar Lampung merupakan suplay dari kabupaten ataupun provinsi di luar Lampung. Selain digunakan sebagai bumbu masakan bawang merah ini juga berkhasiat sebagai obat tradisional, misalnya obat demam, masuk angin, diabetes melitus, disentri dan akibat gigitan serangga. Kelurahan Labuhan Dalam merupakan salah satu kelurahan di Kota Bandar Lampung yang masih memliki potensi sawah dengan luasan + 8,1 ha. Berbagai komoditas tanaman dibudidayakan oleh Petani setempat mayoritas Padi Sawah di saat Musim tanam Rendeng. Namun, dikala musim tanam Gadu tiba, beberapa petani melakukan budidaya tanaman hortikultura seperti cabai merah, rampai atau sayuran lainnya. Di awal Bulan Mei 2019 Petani Labuhan Dalam melakukan percobaan budidaya bawang Merah di Lahan sawah yang biasa ditanami Padi seluas + 0,75 ha. Kegiatan ini merupakan kali pertama Petani mencoba berbudidaya Bawang Merah. Lahan dibuat guludan dengan aliran air diantara guludan yang cukup tinggi. Sehingga penyiraman dilakukan dengan pembuatan siring disamping kanan dan kiri guludan bawang merah. Bibit yang digunakan berupa Umbi diperoleh petani dari Brebes yaitu varietas Siem pengguaan + 1 ton/ha. Dalam proses budidaya petani melibatkan beberapa tenaga kerja disetiap kegiatan sejak pengolahan tanah, pembuatan guludan, perawatan tanaman, hingga panen. Budidaya bawang ini dilakukan diareal sawah yang disaat musim rendeng digunakan untuk budidaya padi sawah, sehingga kondisi tanah sangat keras dan dibutuhkan upaya maksimal untuk mengubah tekstur tanah menjadi gembur dan porous. Sejak awal Petugas sudah pesimis dengan kondisi lahan yang digunakan untuk budidaya, dikarenakan tekstur yng begitu keras dan padat diperlukan banyak bahan organik untuk bisa merubah tekstur tanah yang padat agar bisa gembur sesuai kebutuhan Bawang Merah. Penanaman dilakukan sekitar pertengahan bulan Mei 2019 dengan melibatkan 5 petugas tanam wanita tani. Umbi bawang merah ditanam setelah dilakukan pemotongan 1/3 dari pucuk umbi bawang dan ditanam dengan kedalaman kira-kira 3/4 bagian hingga setinggi umbi. Sangat menghindari penanaman umbi yang terlalu dalam karena dapat mengakibatkan pembusukan umbi. Setelah penanaman dilakukan penyiraman pada guludan. Pada saat perawatan tanaman kondisi gulma juga cukup kurang diperhatikan terlihat pertumbuhan bawang merah dan gulma bersaing hebat diatas guludan. Penyiangan idealnya dilakukan minimal dua kali yakni saat usia tanaman 10-15 HST dan 28-35 HST (Sebelum pemupukan susulan). Proses penyiraman tidak ada masalah yang significant, karena kondisi air bisa dikatakan cukup walaupun kualitas air tetap dipertanyakan karena merupakan air yang bersumber dari campuran air limbah rumah tangga.. Walau demikian, petani penggarap tetap berupaya yang terbaik agar bisa menghasilkan panen yang optimal dengan semua keterbatasan yang ada. Pemupukan yang diberikan Urea, TSP dan Gandasil D dengan cara disemprot dan ditaburkan diguludan bawang merah. Panen dilakukan setelah tanaman berusia + 75 HST dilakukan dengan melibatkan beberapa pekerja selama +10 hari dari panen basah disawah hingga perlakuan pasca panen. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut tanaman bersama daunnya dan diusahakan agar tanah yang menempel pada umbi dibersihkan. Biarkan umbi beberapa jam pada bedengan, kemudian diikat (1-1,5 kg/ikat). Umbi yang telah diikat dijemur dengan posisi daun berada di atas (selama 5-7 hari). Setelah daun kering, ikatan diperbesar dengan menyatukan 3-4 ikatan kecil menggunakan tali bambu. Bila umbi telah kering, umbi siap disimpan di gudang atau di para-para.atau dilakukan pengasapan agar tidak mudah busuk dan tahan lama. Pada proses budidaya bawang kali ini umbi hasil panen yang diperoleh siap jual + 600 kg dengan harga jual Rp. 25.000/kg. Perolehan ini masih jauh dari harapan karena biaya produksi yang dikeluarkan lebih dari pendapatan yang diperoleh. Adapun beberapa kelemahan dalam proses budidaya Bawang Merah perdana ini antara lain: Proses pengolahan tanah yang kurang optimal. Kondisi tanah gembur mutlak dibutuhkan untuk pertumbuhan umbi bawang merah agar bisa optimal Terlalu banyak melibatkan tenaga kerja sehingga biaya produksi sangat tinggi Pemilihan dan dosis Pupuk Kimia yang perlu diperhatikan agar tekstur tanah dapat terjaga. Dengan adanya kegiatan budidaya Bawang Merah di Kelurahan Labuhan Dalam, memacu petugas untuk bisa memberikan penyuluhan dan kaji terap mengenai budidaya tanaman bawang kepada petani di kelurahan lain agar mau mencoba melakukan hal yang sama, namun dilokasi berbeda (Tegalan). Sehingga Kota Bandar Lampung dengan luasan lahan pertanian yang sedikit bisa mengoptimalkan penggunaannya dengan budidaya salah satu komoditas unggulan. Penulis Hermika Debataraja dan Mustika Rini