Loading...

BUDIDAYA BAWANG PUTIH DATARAN TINGGI PRANTEN

BUDIDAYA BAWANG PUTIH DATARAN TINGGI PRANTEN
Sutoyo, SP. Desa pranten adalah desa terjauh dan tertinggi dari kota kecamatan Bawang, dengan ketinggian tempat 900 meter dari permukaan laut. Petani berbudidaya tanaman hortikultura ( Kentang, Kobis, wortel, bawang putih ) maka sangat potensial wilayah tersebut dikembangkan untuk perluasan dan intensifikasi komuditas bawang putih spesifikasi lokasi/kearifan lokal dengan varietas Lumbu Hijau. Komoditas bawang putih merupakan sayuran rempah yang digunakan sebagai bumbu/penyedap masakan sehari-hari dan dipergunakan sebagai obat. Budidaya bawang putih yang dilakukan petani di indonesia umumnya belum menerapkan sepenuhnya kaidah budidaya yang benar hal ini mengakibatkan usaha agribisnis bawang putih belum memberikan hasil yang optimal bagi pelakunya, oleh sebab itu perbaikan cara - cara budidaya mulai dari persiapan lahan, penerapan teknik budidaya, perbaikan pasca panen, prosesing dan pemasaran perlu dilakukan agar hasil panen bawang putih mempunyai nilai tambah, menghasilkan produksi yang bermutu dan berdaya saing. Dalam rangka meningkatkan produksi yang bermutu dan berdaya saing untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan eksport kedepannya. Maka proses produksi perlu dilakukan secara baik sesui standar operasional prosedur (SOP) berbasis norma budidaya yang baik dan benar ( Goog Agriculture Practice). Target yang akan dicapai melalui penerapan SOP budidaya bawang putih adalah : Produktifitas lebih dari 6 ton umbi basah ( ditanam secara tumpangsari ) Produktifitas lebih dari 10 ton umbi basah ( ditanamsecara mono kultur ) Diameter umbi grade A lebih dari 3 cm ( 30 % ), grade B, 2 -3 cm ( 60 %) dan Grade C, kurang dari 2 cm ( 10 % ) Keseragaman bentuk dan warna umbi mencapai minimal 90 %. Rendemen hasi lebih dari 75 %. A. Syarat Tumbuh Ketinggian tempat lebih dari 700 dpl, Temperatur rata-rata kurang dari 250 C, pembentukan dan pembesaran umbi (18-200C) tanam bulan mei-Juli Jenis tanah ideal struktur gembur dan tekstur tanah sedang (lempung- lempung berpasir) pH tanah ideal pada kisaran agak masam sampai masal ( 5.5 - 7.0) B. Persiapan Beniberian Jaminan kemurnian mutu benih/varietas ( Lumbu putih, lumpu kuning, lumbu hijau, gunung kidul, jatibarang, sembalun, tawang mangu baru, gombloh dll) tapi untuk daerah pranten yang sudah biasa ditanam dan cocok adalah varietas Lumbu Hijau. Benih sudah tua dan bermutu (umbi sedang-besar, pangkal batang padat berisi, siung bernas dan besar ( 1.5 - 3.0 gr) Benih bebas dari hama dan penyakit Potensi dan produktifitas tinggi Daya tumbuh seragam. C. Persiapan Lahan Pengolahan tanah dilakukan 2 - 3 kali dengan kedalaman olah 25 - 30 cm. Pembuatan bedengan dengan ukuran lebar 60 atau 120 cm, tinggi 20 - 50 cm, parit 30 - 40 cm dan panjang menyesuiakan lahan Pemberian dolomit 0.5 - 1 ton per hektar bila pH tanah kurang dari 5.5 dan pupuk kandang 15 - 20 ton perhektar pada saat kurang dari 1 minggu sebelum tanam dengan diaduk merata. Pemulsaan dilakukan untuk mengurangi pengaruh fluktuasi perubahan iklim mikro dan makro serta mengendalikan gulma. Jarak tanam dengan mempertimbangkan ukuran umbi bibit yaitu bila bibit lebih dari 1.5 gr maka 15 x 10 cm atau 15x15 cm sesuai kearifan lokal. D. Penanaman Kedalaman tanam akan berpengaruh terhadap kecepatan bibit beradaptasi dengan lingkungan untuk daya tumbuh dan pembentukan umbi. Bila penanaman terlalu dalam mengakibatkan pembentukan umbi tidak maksimal sedangkan bila terlalu dangkal maka tanaman yang baru tumbuh rentan terhadap perubahan suhu, curah hujan tinggi, tanaman lambat membentuk akar, mudah layu, terlempar/ hanyut karena air hujan. Kedalaman tanam yang optimal adalah kurang lebih 1.5 cm dari permukaan tanah. E. Pemupupukan Pemupukan selain pupukorgani pupuk kimiapun dilakukan dengan dosis : Umur 15 - 25 HST pupuk NPK dosis 300 kg per hektar Umur 30 - 40 HST pupuk NPK dosis 200 kg dan ZA 200 kg per hektar Umur 50 - 60 HST Pupuk ZA dosis 250 kg per hektar F. Pengairan Frekuensi pemebrian air pada awal pertumbuhan sekitar 2-3 hari sekali, frekuensi pada masa pembentukan tunas sampai berumbi dilakukan sekitar 7 - 15 hari sekali dan pengairan dihentikan pada saat pembentukan umbi maksimal atau 10 hari menjelang panen. G. Pengendalian Gulma, Hama dan Penyakit Perlakuan pengendalian gulma dengan penyiangan yang dilakukan setiap 20 hari sekali atau disesuaikan dengan keadaan gulma, sedang masa generatif tidak perlu dilakukan penyiangan. Pengendalian organisme penggangu dilakukan dengan teknih pengendalian hama terpadu yaitu dari pengamatandan identifikasi sebagai langkah untuk mengambil keputusan yang akan lakukan sesuai dengan OPT yang menyerang. H. Panen Pemanenan dilakukan apabila tanaman sudah berumur 112 - 120 HST, dengan ciri daun sudah menguning dan lemas, pangkal batang sudah empuk serta warna umbi putih keunguan. Produksi bawang putih kering panen di daerah pranten rata-rata 8 ton per hektar