Budidaya jagung menggunakan bioTRIBA merupakan metoda yang cukup efektif dalam menekan penggunaan pupuk kimia, bahkan dapat menghasilkan produksi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan budidaya jagung biasa. Bio TRIBA adalah formula bentuk cair yang mengandung spora Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae, masing-masing dengan kepadatan populasi ±106cfu/ml dan ±104 cfu/ml formula Bio TRIBA. Kegunaan Bio TRIBA tersebut adalah untuk meningkatkan produktivitas tanaman yaitu biopestisida, biofertilizer, biodekomposer limbah organik dan pestisida nabati. Cara budidaya jagung organik dengan penggunaan teknologi BioTRIBA.Pengolahan Tanah: Terdapat perbedaan cara pengolahan tanah yang dilakukan pada tanah berat dan tanah ringan. Pengolahan tanah berat dengan struktur mampat dilakukan dua kali, sedangkan untuk tanah ringan (porous) seperti tanah Alfisol, Regosol, Etisol, dan Oxixol dapat dilakukan dengan pengolahan tanah minimum yaitu pengolahan tanah sepanjang baris tanaman atau tanpa pengolahan tanah (TOT). Untuk memperbaiki kesuburan tanah, perlu diberi pupuk organik yang telah diolah dengan Bio TRIBA sebanyak 2 ton /ha 1-2 minggu sebelum tanam.Cara tanam: Penanaman dilakukan dengan cara ditugal dan mengikuti alur bajak atau traktor. Jarak tanaman diusahakan teratur. Populasi tanaman optimal berkisar antara 62.500-100.000 tanaman/ha. Penanaman dengan 2 tanaman per lubang, digunakan jarak tanam 75 cm x 40 cm, sedangkan untuk 1 tanaman per lubang digunakan jarak tanam 75 cm x 20 cm. Untuk varietas lokal, pada musim penghujan dapat menggunakan jarak tanam 75 cm x 30 cm dengan 2 tanaman per lubang, sedangkan untuk jagung hibrida , jarak tanam yang ideal 75 cm x 20 cm untuk 1 tanaman per lubang. Penanaman dapat dilakukan dengan sistem dua baris (double row), yaitu jarak tanam (100 cm x 50 cm) x 20 cm dengan 1 tanaman / lubang. Sebelum benih ditanam dengan cara ditugal, terlebih dahulu direndam dalam Bio TRIBA selama 20-30 menit (untuk 1 liter Bio TRIBA dapat dilarutkan dalam 20 liter air bersih). Setelah perendaman tersebut, benih siap ditanam.Pemupukan: Setelah benih jagung ditanam, selanjutnya ditutup dengan pupuk Organo-Triba sebanyak 5-10 g/lubang (400 kg – 600 kg/ha). Pupuk yang digunakan dapat diberikan hanya 50% dari dosis anjuran, Organo TRIBA Plus 600 kg/ha. Pemberian pupuk Organo Triba Plus 300 kg/ha dilakukan 7 hari setelah tanam. Kemudian setelah berumur 30-35 hari setelah tanam diberikan Organo TRIBA Plus 300 kg/ha. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal ±7-10 cm di sekitar tanaman atau goretan (parit) yang dibuat disamping tanaman sepanjang barisan. Setelah pupuk diberikan, kemudian ditutup dengan tanah.Penyiangan dan Pembumbunan: Untuk mengurangi pengaruh gulma terhadap penurunan produksi jagung, perlu dilakukan penyiangan sebanyak 2 kali, yaitu pada umur 10-15 hari dan pada umur 28-35 hari, bersamaan dengan dilakukannya pembumbunan dan pemupukan kedua.Pengendalian hama dan penyakit: Penggunaan jagung varietas unggul yang tepat dapat mengurangi serangan hama penyakit seperti BS2, Peonic, Lmuru, Srikandi Putih dan lain-lain. Penyakit yang tahan terhadap penyakit tersebut sudah banyak dipasarkan sampai pada tingkat petani. Selain dengan penggunaan varietas yang tepat, pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan menerapkan kaidah pengendalian hama terpadu (PHT) yang komponennya terdiri dari penanaman varietas tahan, pengelolaan kultur teknis yang tepat dan penggunaan pestisida organik seperti Mitol 20 EC, ekstrak Nimba, dan Mikoria. Jika serangan hama dan penyakit cukup berat maka dapat dibantu dengan pestisida sintesis.Panen: Panen dilakukan setelah biji pada tongkol masak, yang ditandai dengan terbentuknya lapisan hitam pada lembaga dan tongkol telah menguning. Kegiatan panen ini merupakan tahap awal yang penting dari seluruh rangkaian penanganan pasca panen jagung karena berpengaruh terhadap jumlah dan mutu hasil. Panen yang dilakukan terlalu awal akan menyebabkan jumlah bulir muda lebih banyak sehingga mutu biji dan daya simpannya rendah. Sebaliknya, penen yang terlambat dilakukan dapat mengakibatkan penurunan mutu dan peningkatan kehilangan hasil. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP, Jakarta) Sumber:Bertani Organik dengan Teknologi Biofob oleh Prof. Mesak Tombe dan Hendra Sipayung, SP,MM. 2010