Loading...

BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH DENGAN PEMBERIAN AIR KELAPA (Cocos nucifera) DI KEC. SP PADANG KAB. OKI SUMATERA SELATAN

BUDIDAYA JAMUR TIRAM PUTIH DENGAN PEMBERIAN AIR KELAPA (Cocos nucifera) DI KEC. SP PADANG KAB. OKI SUMATERA SELATAN
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan jenis jamur pangan dari kelompok Basidiomycota. Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur kayu yang tumbuh di permukaan batang pohon yang sudah lapuk. Jamur ini banyak diminati karena cita rasanya yang lezat dan bisa dibuat menjadi berbagai macam olahan masakan. Budidaya jamur biasanya menggunakan media serbuk gergaji. Selain serbuk gergaji ada beberapa media yang dapat digunakan untuk budidaya jamur tiram, antara lain substrat kayu, ampas tebu, atau sekam. Pembiakan jamur tiram biasanya menggunakan baglog, yang didalamnya sudah terdapat media dan nutrisi yang mendukung pertumbuhan jamur. Pertumbuhan jamur tiram putih dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, temperatur, cahaya, dan nutrisi seperti sumber C, N, juga vitamin dan mineral yang biasanya diserap dari media pertumbuhannya. Sumber makanannya dapat berasal dari bermacam-macam limbah (sisa) tumbuhan. Kelapa merupakan tanaman serba guna yang dapat tumbuh dengan subur di hampir seluruh wilayah Indonesia. Semua bagian kelapa dapat dimanfaatkan kecuali air kelapa. Karna pemanfaatnya yang masih terbatas, sering kali air kelapa ini langsung dibuang ke lingkungan. Melihat komposisi air kelapa yang kaya zat-zat aktif yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan jamur, air kelapa dapat dimanfaatkan untuk membantu pertumbuhan beberapa organisme yang dibutuhkan senyawa tersebut misalnya untuk pertumbuhan jamur tiram putih. Dengan mengunakan air kelapa diharapkan meningkatkan produksi jamur tiram putih. Persiapan media tanam jamur tiram putih Siapkan alat-alat : kantong plastik polypropylene, paralon, kapur dolomite, aliminium foli, karet gelang. Siapkan bahan-bahan : serbuk kayu 100%, air 60 atau 70%, kapur dolomite 2%, dan dedak 10%. Campur serbuk kayu, kapur dolomite dan dedak sampai merata (homogen). Tambahkan air pada campuran media tersebut hingga diperoleh kadar air sekitar 60 atau 70%. Masukkan media yang sudah dicampur kedalam kantong plastik polyprolylene, padatkan. Beri cincin paralon pada bagian atas kantong plastik, lalu tutup dengan kapas, lapisi dengan aluminium foil dan ikat dengan karet. Sterilisasi Sterilisasi menggunakan drum dengan ukuran 100 liter yang telah diisi air sebanyak ¾ bagian. Sterilisasi dilakukan dengan cara baglog yang telah padat dan diikat dengan karet dimasukkan kedalam drum sterilisasi dan susun hingga rapi. Tutup bagian atas drum dengan plastik dan ikat. Diamkan hingga 8 jam dengan api yang membara agar media steril dengan merata setelah suhu mencapai 60oC. Penanaman (Inokulasi) Sebelum tanam, siapkan alat-alat seperti pinset, api dari spritus dan alkohol ruang sterilisasi. Buka penutup log dan masukkan bibit kedalam media tanam dengan pinset yang terlebih dahulu dicelupkan ke dalam alkohol dan dipanaskan diatas nyala lampu spiritus. Biarkan pinset selama lima belas detik untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari udara luar, baru ambil bibit dan ikat ke dalam log. Tutup kembali penutup log dan ikat dengan karet. Pindahkan media tanam yang telah ditanami bibit tersebut kedalam ruangan inkubasi sampai tumbuh miselium jamur, lamanya penumbuhan miselium jamur adalah 4-5 minggu. Cirinya, miselium jamur tiram yang berwarna putih menyelimuti seluruh media tanam (baglog). Pemeliharaan Setelah media tanam ditumbuhi miselium jamur dengan ditandai perubahan warna dari coklat (warna serbuk kayu) menjadi putih penuh / merata seperti warna tempe, kemudian melakukan penyobekan plastik bagian atas ±2cm. Penyorokan dapat dilakukan pada satu atau dua tempat dengan menggunakan cutter atau dengan menggunakan alat lain. Untuk menjaga kelembaban, dilakukan penyiraman 2 sampai 3 sehari dengan sprayer. Perlakuan penyiraman dengan air kelapa Penyiraman dengan menggunakan air kelapa pada media tanam dimulai setelah baglog ditumbuhi miselium jamur dan penutup baglog dibuka, yaitu sekitar 4–5 minggu setelah penanaman bibit. Volume air kelapa yang digunakan untuk penyiraman media tanam adalah 1 ml untuk setiap baglog dengan interval waktu penyiraman air kelapa pada miselium tanam yaitu 3 hari sekali. Panen Jamur yang telah siap untuk dipanen berkisar 50 hari setelah pembibitan. Panen dapat dilakukan dengan cara mencabut jamur hingga kepangkal tangkai buah, agar tidak menjadi kering dan menghalangi tumbuhnya pinhead berikutnya. Jamur tiram putih dapat dipenen sebanyak 6 kali. Melalui perlakuan penyiraman dengan air kelapa per tiga hari sekali, diketahui dapat menghasilkan jumlah tubuh jamur tiram yang cukup banyak, yakni 1,55 dibanding dengan tanpa penyiraman air kelapa yang hanya menghasilkan 1,4 badan buah. Selanjutnya, berat basah badan buah jamur tiram juga mengalami peningkatan sebesar 13%. Pemberian air kelapa muda dapat meningkatkan berat basah tubuh buah jamur tiram putih, karena pada air kelapa memiliki kandungan hormon auksin dan sitokinin yang dapat mempengaruhi kualitas hasil panen. Auksin sendiri berfungsi membantu memacu proses terbentuknya akar serta pertumbuhan akar dengan baik, sedangkan sitokinin berfungsi mempengaruhi pertumbuhan akar, mendorong perkecambahan dan panen. Dengan pemberian air kelapa ini, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanaman jamur tiram dan menjadi sumber penghasilan petani. Disusun oleh: Wahyuni (Penyuluh Pertanian Penyelia) Hamna Zulwahyuni, SP (Penyuluh Pertanian Pertama) Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kab. OKI, Sumsel.