Loading...

Budidaya Kedelai di Lahan Pasang Surut Tipe C dan D

Budidaya Kedelai di Lahan Pasang Surut Tipe C dan D
Lahan pasang surut yang luas mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan tanaman pangan. Lahan pasang surut tipe C (tidak terluapi air pasang, kedalaman air tanah Budidaya kedelai di lahan Pasang Surut Tipe C dan D dapat dilakukan setelah panen padi guna meningkatkan keuntungan usahatani. Dengan penggunaan varietas unggul baru yang sesuai dan teknologi yang tepat maka kedelai dapat memberikan hasil yang optimum. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan teknologi pengelolaan air, pemberian bahan amelioran, pemupukan dan varietas yang adaptif hasil kedelai di lahan pasang surut dapat mencapai > 2 t/ha.Adapun cara pengelolaan tanah dan tanaman kedelai di lahan pasang surut Tipe C dan D dapat diuraikan sebagai berikut :1. Penyiapan Lahan• Setelah panen padi, jerami dibabat kemudian dihamparkan dan dibiarkan selama 3 hari agar kering, kemudian dibakar.• Dua minggu setelah jerami dibakar, lahan disemprot dengan herbisida.• Pada lahan yang pembuangan airnya sulit, dibuat saluran drainase setiap 3–4 m.2. Penanaman• Gunakan varietas kedelai yang sesuai, misalnya Anjasmoro atau Tanggamus.• Untuk daerah endemik serangan lalat kacang, sebaiknya benih diberi perlakuan dengan insektisida berbahan aktif fipronil (misal Reagent) untuk mencegah serangan lalat kacang.• Cara tanam tugal dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm, 2 biji/lubang.3. Perbaikan Lahan (Ameliorasi Lahan)• Ameliorasi lahan dengan pupuk kandang dosis 1 t/ha dan dolomit dosis 750 kg/ha. Sebelum diaplikasikan, pupuk kandang dicampur rata dengan dolomit.• Aplikasi dilakukan setelah tanam dengan cara disebar sepanjang barisan tanaman, sekaligus untuk menutup lubang tanam.4. Pemupukan• Dosis pupuk 150 kg/ha Phonska + 50 kg SP36/ha atau 50–75 kg Urea + 100 kg SP36 50–100 kg KCl/ha. Pupuk-pupuk tersebut dicampur rata dan diaplikasikan saat tanaman berumur 15 hari dengan cara dilarik/disebar di samping barisan tanaman dengan jarak 5–7 cm dari tanaman.• Setelah pupuk diaplikasikan, diupayakan pupuk dapat ditutup dengan tanah.5. Penyiangan• Penyiangan dilakukan dua kali. Penyiangan I dengan herbisida saat tanaman berumur 20 hari. Penyiangan II (jika diperlukan) dengan tenaga manusia saat tanaman berumur 40–45 hari.6. Pengendalian hama dan penyakitPengendalian hama dan penyakit sedapat mungkin menggunakan teknik budidaya, seperti penggunaan varietas tahan, sanitasi atau membersihkan lahan dan sekitarnya, pemberian mulsa, pergiliran tanaman, dan tanam serentak.7. Panen dan Pasca Panen• Panen dilakukan apabila 95% polong pada batang utama telah berwarna kuning kecoklatan.• Panen dapat dimulai pada pukul 09.00 pagi, pada saat air embun sudah hilang.• Panen dilakukan dengan memotong pangkal batang dengan sabit. Hasil panenan segera dijemur beberapa hari, kemudian dikupas dengan thresher atau pemukul (digeblok).• Butir biji dipisahkan dari kotoran/sisa kulit polong dan dijemur kembali hingga kadar air biji mencapai 10–12% saat disimpan; • Untuk keperluan benih, biji kedelai perlu dikeringkan lagi hingga kadar air mencapai 9-10 %, lalu disimpan dalam kantong plastik tebal atau dua lapis kantong plastik tipis. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.comSumber : 1) Didik Harnowo, 2013, Teknologi Produksi Kedelai, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.2) http://balitkabi.litbang.deptan.go.id3) kalsel.litbang.deptan.go.id