Loading...

BUDIDAYA KEDELAI PADA LAHAN PASANG SURUT

BUDIDAYA KEDELAI PADA LAHAN PASANG SURUT
Kedelai merupakan bahan baku makanan yang bergizi seperti tahu dan tempe. Hampir semua lapisan masyarakat menyukai makanan yang terbuat dari kedelai. Bagi petani, tanaman ini penting untuk menambah pendapatan karena dapat segera dijual dan harganya tinggi. Tanaman ini dapat diusahakan di lahan pasang surut. Hasilnya cukup memadai, namun cara mengusahakannya berbeda daripada di lahan sawah irigasi dan lahan kering. Tanaman ini tidak tahan genangan. Oleh sebab itu, tidak dianjurkan menanam kedelai di lahan pasang surut yang bertipe luapan air A yang selalu terluapi baik saat pasang besar maupun pasang kecil.Penataan Lahan dan Pengolahan Tanah. Kedelai dapat ditanam pada lahan yang ditata dengan sistem surjan dan tegalan. Pada sistem surjan, kedelai ditanam di guludan. Pada musim kemarau, kedelai dapat ditanam di guludan dan tabukan. Sedangkan pada sistem tegalan, lahan perlu dilengkapi dengan saluran cacing. Pengolahan tanah bertujuan untuk membuat tanah jadi gembur dan membersihkan lahan dari rumputrumputan, kayu, dan lain-lain. Di lahan pasang surut, sewaktu pengolahan tanah perlu memperhatikan kedalaman lapisan pirit. Lapisan yang beracun ini tidak boleh terangkat ke permukaan tanah karena dapat meracuni tanaman. Alat yang digunakan untuk mengolah tanah antara lain cangkul, bajak ditarik sapi/kerbau atau traktor. Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna (dua kali) dengan kedalaman di lahan potensial dan sulfat masam sekitar 20 cm. Di lahan gambut, kedalaman pengolahan tanah sekitar 10 cm tanpa pembalikan. Tanah diratakan menggunakan garu. Setelah tanah diolah, dibuat saluran cacing (kemalir) dengan lebar 30 cm, kedalaman 30 cm, dan jarak antar-saluran 6-10 m.Pemilihan Benih. Untuk mendapatkan hasil yang tinggi, benih yang digunakan perlu memenuhi persyaratan berikut: daya kecambah tinggi (di atas 80%), murni atau tidak tercampur dengan varietas lain, bersih atau tidak tercampur biji-bijian tanaman lain dan kotoran, tidak keriput, dan tidak luka/tergores, umur benih tidak lebih dari 6 bulan sejak dipanen. Jumlah benih yang diperlukan untuk setiap hektar lahan adalah 40-45 kg.Penanaman. Kedelai dapat dibudidayakan secara tunggal (monokultur) atau ditumpangsarikan (diselingi) dengan jagung. Secara tunggal (monokultur), benih ditanam secara tugal. Jarak tanam 20 cm x 40 cm dan jumlah benih 2-3 biji per lubang tanam. Benih yang sudah ditaruh di lubang tanam ditutup dengan tanah. Untuk tumpangsari dengan jagung, jarak tanam jagung antar-barisan tanaman tidak boleh kurang dari 2 meter, sedangkan jarak tanam dalam barisan 40 cm. Pemupukan. Jumlah takaran pupuk dan saat pemberiannya tidak sama untuk setiap lokasi, tergantung kepada tipologi lahannya. Selain pupuk, kapur juga perlu diberikan untuk mengurangi kemasaman tanah. Kedelai tidak dapat tumbuh baik di lahan yang sangat masam. Pemberian pupuk kandang sangat disarankan karena dapat memperbaiki kondisi tanah dan dapat mengurangi pengunaan pupuk buatan. Dosis penggunaan pupuk kandang untuk tanah yang kurus adalah ± 5 ton/Ha. Dosis pupuk yang akan digunakan Urea 50 kg/ha, SP-18 75 kg/ha dan KCl 50 kg/ha. Pupuk diberikan 2 kali dalam satu musimPemupukan pertama diberikan sebelum tanam dengan cara menaburkan pupuk pada garis tanam kemudian pupuk dicampur dengan tanah secara merata. Dosis pupuk pertama yang diberikan 2/3 dari dosis Urea dan KCl (Urea:33 Kg/Ha ; KCl: 33 Kg/Ha). Sedangkan Pupuk SP-18 diberikan seluruhnya pada pemupukan dasar.Pada pemupukan kedua, pupuk diberikan pada saat tanaman berumur 20–30 HST yaitu menjelang tanaman berbunga dengan cara ditabur mengelilingi tanaman dengan jarak ± 10 cm dari batang. Dosis pupuk yang diberikan 1/3 dari dosis Urea dan KCl (Urea: 17 Kg/Ha; KCl: 17 Kg/Ha).Penjarangan dan Penyulaman. Penjarangan bertujuan untuk mengurangi persaingan antar-tanaman dalam menyerap unsur hara di tanah yang kurang subur, mencegah tanaman kekurangan sinar matahari di tanah yang subur. Penjarangan dan penyulaman dilakukan ketika tanaman berumur 1-2 minggu setelah tanam. Jumlah tanaman yang disisakan setelah penjarangan adalah dua batang per rumpun. Tanaman yang disisakan adalah yang paling baik pertumbuhannya.Penyiangan. Penyiangan bertujuan untuk membebaskan tanaman dari tanaman pengganggu (gulma). Penyiangan dapat dilakukan dua kali, yaitu pada saat tanaman berumur 2-3 minggu clan 5-6 minggu setelah tanam, tergantung pada keadaan gulma. Alat yang digunakan adalah kored atau cangkul kecil. Penyiangan gulma dapat dilakukan dengan menyebarkan jerami (mulsa) di permukaan lahan atau menyemprotkan herbisida (obat-obatan). Penyemprotan herbisida dilakukan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam.Perlindungan Tanaman. Hasil kedelai akan menurun apabila terserang hama dan penyakit. Hama yang sering menyerang tanaman kedelai di lahan pasang surut antara lain lalat bibit, penggerek polong, dan penghisap polong. Jenis penyakit yang sering merusak tanaman kedelai yaitu karat daun. Salah satu cara untuk mencegah serangan hama dan penyakit kedelai adalah menggunakan obat-obatan.Panen dan Pascapanen. Panen dilakukan setelah semua daun tanaman sudah tua atau berwarna kuning. Panen dapat menggunakan sabit gerigi atau alat/mesin pemanen. Setelah dipanen, polong kedelai yang masih melekat dibatangnya untuk segera dijemur. Kemudian biji dirontok dengan cara dipukul atau menggunakan mesin perontok bila tersedia. Setelah dirontok, biji segera dijemur atau dikeringkan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering. Biji kemudian disimpan atau dijual. Biji yang akan dijadikan benih, disimpan dalam kantong plastik yang agak tebal atau kaleng dan ditutup rapat. (Ir. Amirudin Aidin Beng, M.M. Sumber: Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut, Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, http://www.mamud.com/Docs/budi_daya_kedelai.pdf; Ternyata Budidaya Tanaman Kedelai Itu Mudah, Gerbang Pertanian: Wajah Pertanian Indonesia, http://www.gerbangpertanian.com, 2010)