Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan swasembada kedelai nasional. Rencana mulia ini sebenarnya sudah cukup lama diprogramkan namun sampai sekarang belum dapat terealisasikan. Berbagai persoalan dihadapi untuk mewujudkannya. Menurut Ringkang Gumiwang dalam tirto.id, ada tiga persoalan dalam mewujudkan swasembada kedelai yaitu : rendahnya produktivitas kedelai, keterbatasan lahan pertanian dan profitabilitas kedelai yang lebih rendah dibandingkan dengan komoditas tanaman pangan lain.Keterbatasan lahan pertanian mengakibatkan persaingan antar komoditas. Pola tanam petani secara umum pada saat ini adalah Padi–Padi–Jagung/ Kacang hijau atau Jagung–jagung–bera. Penambahan tanaman kedelai mengakibatkan salah satu komoditas hilang atau tergantikan. Petani sebagai pengelola kegiatan usaha tani sulit menerima komoditas kedelai sebagai pengganti karena tingkat profitabilitas atau keuntungannya yang sangat rendah bahkan merugi. Disamping produktivitas yang rendah harga kedelai saat panen juga belum bisa memberi keuntungan yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian Sri Karuniari Nuswardhani dalam artikel Ringkang Gumiwang disebutkan margin profit kedelai minus 0.01, artinya dari biaya Rp 1, petani mendapatkan Rp 0,99, sedangkan untuk komoditas padi sawah, padi ladang dan jagung masing masing sebesar 0,35, 0,32 dan 0,32. Artinya setiap biaya Rp 1, akan diperoleh penerimaan Rp 1,35 untuk padi sawah, Rp 1,32 untuk padi ladang dan Rp 1,32 untuk jagung.Budidaya kedelai sistem "Methuk" dapat dijadikan solusi terhadap permasalahan tersebut di atas. Methuk dalam Bahasa Jawa dapat diartikan menjemput atau menyusul. Budi daya sistem methuk yang dikembangkan di wilayah BPP Kecamatan Tawangharjo ada dua pola. Pertama Kedelai Methuk Jagung , yaitu tanam jagung terlebih dahulu baru di susuli tanaman kedelai, pola ini biasa diterapkan oleh petani di Desa Tarub. Pola kedua Jagung Methuk Kedelai yaitu kedelai ditanam terlebih dahulu baru disusuli tanaman jagung, pola ini biasa ditanam di Desa Kemadohbatur.Keuntungan yang diperoleh dengan sistem methuk adalah : Tanaman kedelai tetap dapat tertanam 100 % sesuai potensi lahan, tidak mengurangi tanaman utama yaitu jagung, mendapatkan dua keuntungan dari tanam kedelai dan jagung.Budidaya Kedelai Methuk Jagung dilakukan dengan menanam jagung terlebih dahulu. Jarak tanam, pemeliharaan dan dosis pemupukan disesuaikan dengan kebiasaan petani. Pada saat tanaman jagung umur kurang lebih 70 hari, daun dibawah tongkol dibersihkan dari batang dan gulma mulai dibersihkan dari lahan untuk persiapan tanam kedelai. Memasuki umur 85 -90 hari dilakukan pangkas pucuk dengan memotong batang jagung diatas tongkol. Selanjutnya dilakukan penanaman kedelai di sela-sela tanaman jagung seperti halnya tanam kedelai monokultur. Pemeliharaan tanaman kedelai terus dilakukan sambil menunggu tongkol jagung kering lapang dan siap panen.Budidaya "Jagung Methuk Kedelai" dilakukan dengan cara menanam kedelai terlebih dahulu, menggunakan jarak tanam 40 cm x 20 cm atau 40 cm x 15 cm dua tanaman per lubang tanam. Pada saat tanaman kedelai berumur 2-3 minggu disusul dengan penanaman jagung di antara barisan tanaman kedelai dengan jarak 75 cm. sehingga diperoleh jarak tanam jagung 75 cm x 40 cm dua tanaman per lubang tanam. Penulis : Sri Mulyadi, SP. Penyuluh pertanian Muda Kecamatan Tawangharjo