Kunyit (Curcuma domestica Val.) atau kunir merupakan tanaman yang masuk dalam famili zingiberaceae (temu-temuan). Kunyit banyak digunakan sebagai bahan baku jamu tradisional, bumbu dapur dan pewarna alami. Rimpangnya sangat bermanfaat sebagai antikoagulan, menurunkan tekanan darah, obat cacing, obat asma, penambah darah, mengobati sakit perut, penyakit hati, karminatif, stimulan, gatal-gatal, gigitan serangga, diare, dan rematik. Kebutuhan terhadap rimpang kunyit tergolong cukup besar untuk industri jamu sehingga dibutuhkan SOP terkait budidaya kunyit. PERSYARATAN TUMBUHTanaman kunyit tumbuh baik pada tanah jenis latosol, aluvial dan regosol, ketinggian tempat 240 - 1.200 m di atas permukaan laut (dpl) dengan curah hujan 2.000-4.000 ml/tahun. Kunyit juga dapat tumbuh di bawah tegakan tanaman keras seperti sengon, jati yang masih muda sekitar umur 3 - 4 tahun, dengan tingkat naungan tidak lebih dari 30%. BUDIDAYAPersiapan LahanTanah diolah agar menjadi gembur, diupayakan agar drainase sebaik mungkin, sehingga tidak terjadi penggenangan lahan, oleh karena itu perlu dibuat parit-parit pemisah petak. Ukuran petak, lebar 2 - 3 m dengan panjang petak disesuaikan dengan kondisi di lapangan.Jarak TanamJarak tanam kunyit bervariasi antara 50 x 40 cm, 50 x 50 cm, 40 x 40 cm atau 50 x 60 cm, pada sistem budidaya monokultur. Apabila tanaman akan ditanam secara pola tumpang sari dengan tanaman sisipan kacang tanah atau cabe rawit, maka jarak tanamnya menggunakan 75 x 50 cm.PemupukanPupuk kandang 10 - 20 ton/ha sebagai pupuk dasar diberikanpada saat tanam. Pupuk Urea, SP-36 dan KCl, dengan dosis masingmasing 100 kg, 200 kg dan 200 kg/ha untuk pola monokultur, serta 200 kg/ha, untuk pola tumpangsari. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam dan Urea diberikan menjadi 2 agihan yaitu pada umur1 dan 3 bulan setelah tanaman tumbuh.PemeliharaanPemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan, untuk menghindari adanya kompetisi perolehan zat hara dengan gulma dan menjaga kelembapan, suhu dan kegemburan tanah. Pembumbunan dilakukan juga untuk memperbaharui saluran drainase pemisah petak, tanah dinaikkan ke petak-petak tanam, biasanya dilakukan setelah selesai penyiangan.Pengendalian Organisme Pengganggu TanamanJarang terjadi serangan hama dan penyakit. Namun untuk menghindari munculnya serangan perlu diantisipasi dengan cara pencegahan. Tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya bibit penyakit busuk rimpang yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, dilakukan dengan cara penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari pelukaan (rimpang diberi arang sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi dan drainase serta inspeksi kebun secara rutin. PANENUmur PanenPanen yang tepat berdasarkan umur tanaman perlu dilakukauntuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, yaitu pada tanamaumur 10 - 12 BST, biasanya daun mulai luruh atau mengering. Dappula dipanen pada umur 20 - 24 BST.Cara PanenPanen dilakukan dengan cara menggali dan mengangkat rimpang secara seluruhan. PASCA PANENPembersihan/PencucianRimpang hasil panen dicuci dari tanah dan kotoran, kemudian dikering anginkan sampai kulit tidak basah lagi.Perajangan RimpangSetelah itu, rimpang diiris dengan irisan membujur dengan ketebalan setipis mungkin lebih kurang 2 mm.Pengeringan SimplisaRajangan rimpang dijemur dengan menggunakan energi matahari diberi alas yang bersih, atau bisa dengan pengering oven dengan suhu 40 - 60oC, hingga mencapai kadar air 9 - 10%. Penulis : SurosoSumber : Raharjo M, Rostiana O. 2013. SOP Budidaya Kunyit.Balittro http://balittro.litbang.pertanian.go.id/?p=379