Loading...

BUDIDAYA MENTIMUN YANG MENGUNTUNGKAN DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN

BUDIDAYA MENTIMUN YANG MENGUNTUNGKAN  DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN
Oleh : Agung Lili Saputra, SST*) PENDAHULUAN Mentimun (cucumis sativus) adalah salah satu jenis sayuran yang dikenal hampir disetiap negara. Tanaman ini berasal dari Himalaya di Asia Utara. Saat ini, budidaya mentimun sudah meluas ke seluruh dunia baik wilayah tropis maupun subtropis. Mentimun memiliki berbagai nama daerah seperti timun (Jawa), bonteng (Jawa Barat), temon atau antemon (Madura), ktimun atau antimun (Bali), hantimun (Lampung) dan timon (Aceh). Pusat penanaman mentimun di Indonesia adalah Jawa Barat, Aceh, Bengkulu, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Klasifikasi botani tanaman mentimun adalah sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledone Famili : Cucurbitaceae Genus : Cucumis Spesies : Cucumis sativus L Buah mentimun mengandung mineral seperti kalsium, fosfor, kalium dan besi disamping vitamin A, B dan C. mentimun muda dijadikan sayuran mentah atau bahan makanan yang diawetkan seperti acar. Selain dikonsumsi buah ini juga dapat dimanfaatkan untuk perawatan kecantikan dan pengobatan tradisional seprti memperlancar buang air kecil dan tekanan darah tinggi. Walaupun di Indonesia tanaman ini dapat dibudidayakan dengan mudah, tetap saja diperlukan pemahaman tentang cara membudidayakannya. Jika penanaman dilakukan saat musim kemarau pontensi hasil lebih besar dibanding musim hujan dan serangan hama penyakit juga sangat minim oleh karena itu biasanya banyak petani melakukan penanaman saat musim hujan berakhir dan panen di musim kemaru. Keadaan seperti ini dapat mempengaruhi harga jual di pasar, karena para petani melakukan panen yang bersamaan akibatnya harga timun menjadi murah dibeli dari petani. Keadaan menguntungkan bagi petani justru terjadi jika budiddaya mentimun dilakukan pada musim penghujan. Kondisi ini dikarenakan petani cenderung menghindari resiko usaha, sehingga jumlah petani yang menanam sedikit. Dampaknya permintaan tetap akan tetapi jumlah barang sedikit maka harga jual tinggi. Resiko menanam mentimun di musim hujan antara lain : Serangan penyakit busuk akar dan buah Pembungaan berkurang sehingga produksi buah ikut berkurang Lahan kebanjiran (menanam di lahan sawah) Biaya produksi meningkat (biaya pembelian saprodi seperti pestisida dan tenaga kerja) TEKNIS BUDIDAYA A. Syarat Tumbuh Tanaman mentimun dapat tumbuh dengan baik pada iklim tropis dengan ketinggian tempat sampai dengan 1.000 mdpl. Tanaman mentimun menghendaki kondisi tanah yang subur, gembur, dan sirkulasi air yang baik dengan pH tanah 6 – 7. a. Persiapan Tanam Ada beberapa persiapan yang perlu diperhatikan ketika akan membudidayakan tanaman mentimun yaitu : Persiapan lahan/lokasi penanaman Lahan dan lokasi salah satu komponen penting karena akan menentukan hasil dari buah mentimun yang akan ditanam dan biaya operasional kegiatan. Lahan yang digunakan adalah lahan sawah tadah hujan dan dekat sumber air serta jalan raya. Tujuannya adalah agar memudahkan dalam penyiraman serta mobilisasi barang dan kegiatan panen. Persiapan sarana produksi Sarana produksi yang dimaksud adalah benih mentimun, pupuk, racun pestisida, mulsa plastik, bambu, mesin air, selang air, ember, cangkul, tali, pisau, dan handsprayer. Semua sarana tersebut harus dapat dimnafaatkan semaksimal mungkin di lahan budidaya mentimun. 3. Persiapan tenaga kerja Tenaga kerja dalam budidaya mentimun hendaknya dipilih sesuai kemampuan dan pengalaman budidaya tanaman mentimun. Jika salah dalam mempekerjakan orang di lahan tersebut maka kerugian yang akan kita peroleh. Tenaga kerja bisa diambil dari keluarga sendiri jika usaha tersebut akan dikelola sendiri oleh petani. Pemanfaatan tenaga kerja perlu disesuaikan dengan skala usaha budidaya dan ketersediaanya di sekitar lokasi. b. Pengolahan tanah Pengolahan tanah sawah tadah hujan untuk menanam mentimun tidak perlu diolah semuanya, akan tetapi langsung saja dibuatkan bedengan-bedengan. Ukuran bedengan dapat dibuat dengan lebar 80 – 120 cm dan tinggi 30 – 40 cm. Antara bedengan dibuat saluran drainase ukuran lebar 30 – 50 cm dengan kedalaman disesuaikan kondisi cuaca pada saat penanaman. Tidak lupa di taburkan pupuk kadang yang sudah matang dan atau pupuk organik sebanyak 2 – 3 kg di setiap lubang tanam. Bedengan yang sudah jadi dibiarkan selama 2 minggu, setelah itu taburkan pupuk NPK dan TSP sebanyak 100 gram/ 1 M2 kemudian tutup dengan mulsa plastik c. Penanaman Penanaman mentimun dilakukan dengan cara membuat lubang tanam terlebih dahulu. Terdapat beberapa rekomendasi ukuran lubang tanam salah satunya adalah ukuran 50 cm x 100 cm. Untuk setiap lubang tanam diisi satu biji mentimun. Setelah ditanam tutup dengan tanah tipis-tipis atau abu jerami/sekam. Tunas mentimun akan tumbuh setelah 4 -7 haris setelah tanam. Untuk luas lahan 1 hektar dibutuhkan 3 kg biji mentimun. Setelah tanaman mentimun berumur 15 hari dilakukan pemasangan turus atau ajir sebagai tempat merambatnya batang mentimun. Berikan tali si sekeliling ajir sebagai tempat menggantungnya buah mentimun dan mengikat batang agar tidak merambat ke permukaan tanah. d. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman mentimun terdiri dari pemupukan susulan, penyiraman, pengikatan sulur, dan pengendalian hama penyakit. Kebutuhan pupuk dalam budidaya tanaman mentimun antaralain 100 kg urea, 200 kg TSP, dan 100 kg KCL. Jika pupuk KCL tidak tersedian dapat digantikan dengan pupuk NPK. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara di cairkan terlebih dahulu kemudian disiramkan de bagian bawah tanaman (dikocor). Waktu dan frekuensi pemupukan untuk tahap awal dimulai sejak tanaman berumur 10 hari setelah tanam, kemudian diulang setiap 7 hari. Ketika sudah berbuah diulang setiap 4 hari sekali. Pada saat pemupukan lokasi lahan diberikan air setinggi 15 cm. Untuk kegiatan penyiraman di lahan sawah tadah hujan cukup dengan menggenangi bedengan setinggi 15-20 cm selama 3 – 4 hari, setelah itu diamkan selama 5 hari begitu seterusnya (sistem pengairan berselang). Sulur-sulur yang sudah mulai keluar harus segera dirapihkan dengan cara mengikatnya pada lanjaran atau tali-tali disekeliling lanjaran. Pengikatan dilakukan sebanyak 2 – 3 kali tergantung jumlah sulur setiap batang. Hama dan penyakit sudah mengancam sejak biji di tanam oleh karena itu pengontrolan lokasi setiap harinya harus dilakukan. Beberapa hama dan penyakit penting tanaman mentimun yaitu oteng-oteng, ulat pucuk, dan krapak atau serangan cendawan Pseudoperonospora cubensis Berk & Curt (Rostow). Pengendalian hama seperti oteng-oteng dan ulat pucuk dapat menggunakan insektisida berbahan aktif Albamektin. Sedangkan untuk penyakitnya dapat menggunakan fungisida sistemik. PANEN DAN PASCA PANEN Buah mentimun dapat di panen pada umur 30 hari setelah tanam, buah pertama yang dipanen biasanya adalah buah yang berada pada bagian bawah dari tanaman tersebut. Mentimun dapat dipanen berkali-kali, bahkan ada yang bisa mencapai 30 kali petik (jika ditanam di lahan sawah). Potensi hasil buah mentimun dapat mencapai 20 ton/hektare, jika harga di tingkat petani sebesar Rp. 2.000 maka petani mendapatkan uang sebanyak Rp 40.000.000,- hanya dalam waktu 3 – 4 bulan saja. Bisa dibandingkan jika menanam padi tentu akan jauh berbeda hasilnya. Oleh karena itu menanam mentimun di lahan sawah tadah hujan setelah tanam padi sangat menguntungkan. DAFTAR PUSTAKA Hendro Sunarjono. 2013. Bertanam 36 Jenis Sayur . Jakarta : Penebar Swadaya Setiawati, Wiwin, dkk. 2007. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Sayuran. Lembang : Balai Penelitian Tanaman Sayuran