I. PENDAHULUAN Oyong merupakan tanaman merambat dengan alat pemegang berbentuk pilin. Batang oyong panjang dan kuat. Panjang batangnya dapat mencapai puluhan meter. Pada umumnya daun oyong lebar, berlekuk menjari, dan berbulu halus. Daunnya beraroma segar. Oyong berakar tunggang serta berakar samping yang kuat dan agak dalam. Tanaman oyong biasanya tidak diusahakan secara komersial, tetapi hanya sebagai tanaman sela di pekarangan. Biasanya oyong ditanam di pinggir-pinggir pagar atau dekat dengan pohon besar. Buah oyong banyak mengandung vitamin A, B, dan C, serta memiliki rasa yang segar dan dingin. Buah oyong berbentuk bulat panjang dan berusuk-rusuk (lingir). Jumlah rusuk yang jelas sebanyak 10 buah. Jika buah dipotong melintang, terlihat seperti roda bergerigi. Buah oyong saat masih muda berwarna hijau dan tidak mengandung banyak air. Buah oyong memiliki banyak biji. Setelah tua, buahnya menjadi berwarna kuning keputih-putihan atau abu-abu dan kering. II. BERTANAM OYONG Oyong dapat ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi (pegunungan). Adapun syarat-syarat yang penting untuk pertumbuhan tanaman oyong adalah tanahnya cukup mengandung air tetapi tidak menggenang, iklim harus kering, dan pH tanah antara 6 - 7. a. Cara Tanam Oyong dikembangkan dengan biji. Tanah yang akan ditanami biasanya tidak perlu dicangkul, cukup dibuat lubang tanam dengan lebar 25 x 25 cm dan dalamnya 20 cm. Akan tetapi pada lahan yang banyak rumput/gulma dan alang-alang, perlu dilakukan pencangkulan. Jarak antar lubang tanam 50 - 60 cm dan antar baris lubang 200 cm. Tiap-tiap lubang diisi pupuk kandang atau pupuk organik matang sebanyak 1 kg. Selanjutnya tiap lubang ditanam 2 - 3 biji oyong, lalu ditutup dengan tanah tipis-tipis sekitar 5 cm. Biji akan tumbuh 7 hari kemudian. Setelah tinggi tanaman mencapai 50 cm, dibuatkan tiang/para-para dari bambu yang tingginya 1,5 - 2 m sehingga tanaman dapat dirambatkan. Biji-biji yang ditanam di pinggir-pinggir pagar atau dekat pohon besar dapat dirambatkan pada pagar atau pohon tersebut. Setelah berumur 2 - 4 minggu, biasanya tanaman mulai berbunga betina yang dapat menjadi buah. Pemberian pupuk buatan jarang dilakukan. Walaupun demikian, sebaiknya diberikan pupuk buatan berupa urea, TSP (SP-36), dan KCl dengan perbandingan 1 : 2 : 2 sebanyak 20 g tiap tanaman. b. Pemeliharaan Tanaman Memelihara tanaman oyong dengan cara memangkan dan mengurangi daunnya jika tanaman terlalu rimbun. Beberapa hama dan penyakit juga menyerang tanaman oyong. Dan kecenderungannya, hampir sama dengan tanaman Cucurbit yang lain, seperti mentimun, oyong dan lain-lain. III. PANEN Buah oyong pertama kali dapat dipanen setelah tanaman berumur 1,5 - 2 bulan sejak tanam. Tanaman yang terawat dengan baik dapat menghasilkan 1,5 kg buah setiap pohon. Keterlambatan dalam memungut buah akan menyebabkan buah berserat sehingga rasanya tidak enak. Produksi oyong saat ini masih terbatas untuk konsumen lokal. Buah orong berkhasiat untuk membersihkan darah. Selain berguna untuk obat, buah oyong enak untuk dibuat sayur bening, sambel oyong, sayur lodeh, dan sebagainya. Daunnya yang masih muda (pucuknya) pun dapat disayur. (Oleh: Kres Dahana, S.P.) Referensi Salem, I.B., J. Armengol dan N.B. Mhamdi. 2015. Soil Fungicide Application in Combination with Grafting for the Control of Monosporascus Root Rot and Vine Decline on Cucurbits. Int. J. Curr. Microbiol. App. Sci. 4(9): 511 – 527. Sunarjono, H. 2003. Bertanam 30 Jenis Sayuran. Penebar Swadaya, Jakarta. http://www.ipm.ucdavis.edu/PMG/selecnewpest.cucurbits.html