Budidaya Padi Gogo Integrasi Sawit, merupakan pengalaman penulis di Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian Tadu Ateuh F yang dilaksanakan oleh penyuluh pertanian swadaya. Dilihat dari komodity unggulan yang dibudidayakan di oleh masyarakat Kabupaten Nagan Raya maka penanaman padi gogo di Kabupaten Nagan Raya seharusnya relative luas. Maksud penulis tanaman Primadona Kabupaten Nagan Raya adalah Tanaman Kelapa Sawit. Sekitar 10% tanaman kelapa sawit masyarakat, merupakan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Mengapa tidak seluruh lahan petani dilakukan integrasi? Padahal ini akan sangat menguntung ditinjau dari segi penambahan pendapatan dan dari segi menyahuti program pemerintah dan kementrian pertanian dalam rangka menambah luas tambah tanam? Secara umum letak bukaan baru areal perkebunan kelapa sawit rakyat jauh dari pemukiman sehingga untuk memaksimalkan pengelolaan lahan sulit dilakukan. Lahan bukaan baru hampir semuanya tidak memiliki akses jalan, untuk membiayai infrasruktur bagi petani tentu tak mampu. Budidaya tanaman padi gogo butuh tenaga ekstra saat penanaman dan pemeliharaan. Saat penanaman misalnya jika dilakukan sendiri pada proses tanam benih langsung akan butuh waktu berhari-hari. Untuk mendatangkan tenaga dari luar akan sulit jarak tempuh. Secara umum bukaan baru tidak butuh pemupukan yang lengkap karena lahan masih menyediakan unsur hara yang cukup. Kondisi bukaan lahan baru saat ini pun tidak lagi boleh membakar secara otomatis kebersihan lahan pun tidak langsung dapat ditanami.Lahan bukaan baru yang jauh dari pemukiman mengalami banyak kendala hama, saat usia tanaman padi gogo mengalami fase vegetatif hama babi akan membuat sarang dalam tanaman dengan cara mencabut tanaman padi untuk bahan sarang. Saat malai udah mulai keluar akan terjadi serangan hama burung pipit. Hama utama integrasi padi gogo dilahan kelapa sawit adalah serangan burung pipit. Dari segi budidaya tidak terlalu sulit akan tetapi untuk menjaga burung pipit yag akan memakan butir – butir hijau tanaman padi. Untuk menjaga seragan hama pipit setiap hari selama lebih dari satu bulan sampai panen harus di jaga ketat. Kondisi inilah yang tidak mampu dilakukan oleh petani Kabupaten Nagan Raya. Ada waktu petani menghadiri acara sosial di Desa tempat tinggalnya tanaman padi tidak ada yang jaga. Karena letak lahan berjauhan dengan petani lain (tersebar) jadi tidak ada tempat minta tolong untuk menjaga tanaman padi. Tanaman padi yang telah di serang hama pipit tidak berisi lagi, dan tersebar tidak satu tempat. Pipit gunung (rimba) berbeda karakternya dengan pipit yang telah berada disekitar pemukiman atau di daerah mana yang telah dilakukan budidaya tanaman padi secara serentak. Pipit gunung tidak terlalu takut dengan orang-orangan yang dipancang dalam tanaman padi atau tali – tali penakut burung.Saat panen tiba, untuk mendatangkan alsintan akan sulit seperti thresert atau combin harvester. Memikul thressert ke lokasi penanaman yang jauh, bekas batang kayu yag bergelimpangan tidak dapat dilalui combin harvester karenan lahan bukaan baru. Hampir semua kegiatan budidaya dilakukan sendiri oleh petani dan ini belum mampu dilakukan, pembukaan lahan baru tidak mengikutkan keluarga (istri dan anak) karena istri tetap dirumah untuk mengurus anak sekolah. Hal – hal seperti inilah yang dialami, dijalani oleh petani yang membudidayakan tanaman kelapa sawit integrasi padi gogo. Para petani mengetahui akan penambahan penghasilan dan perawatan tanaman kecil yang teratur akan sangat baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman utama. Semoga bermanfaat. Penulis Tarmizi, SP dan Jumino, Penyuluh Pertanian pada BPP Darul Makmur Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya.