Budidaya padi di lahan pasang surut memerlukan teknologi dan sarana produksi yang spesifik karena kondisi lahan dan lingkungan tumbuhnya tidak sama dengan sawah irigasi. Lahan pasang surut berbeda dengan lahan irigasi atau lahan kering yang sudah dikenal masyarakat. Perbedaanya menyangkut kesuburan tanah, ketersediaan air dan teknik pengelolaannya. Pengelolaan tanah dan air ini merupakan kunci keberhasilan usaha tani di lahan pasang surut. Dengan upaya yang sungguh-sungguh lahan pasang surut ini dapat bermanfaat bagi petani dan masyarakat luas.Beberapa kendala ditemui di lahan pasang surut seperti kendala fisik (rendahnya kesuburan tanah, pH tanah dan adanya zat beracun Fe dan Al), kendala biologi (hama dan penyakit) dan kendala sosial ekonomi (keterbatasan modal dan tenaga kerja). Di Kecamatan Kapoiala, khsusnya pada empat desa yang memiliki potensi pengembangan padi pasang surut yaitu desa Kapoiala Baru, Ulu Lalimbue, Lamendora dan Kelurahan Kapoiala dengan total luas areal lahan sebanyak 222,6 hektar. Areal pertanaman padi pasang surut telah dikembangkan oleh petani dengan berbagai macam tantangan untuk memenuhi kebutuhan pangan di Kecamatan kapoiala. Yang menjadi tantangan pertanian padi pasang surut di kecamatan Kapoiala diantaranya ketersediaan benih varietas adaptif pada lahan pasang surut terutama yang toleran terhadap salinitas, ketersediaan air khususnya air tawar, serangan organism pengganggu tanaman (OPT), ketersediaan tenaga kerja dan kesuburan tanah serta pengolahan tanah termasuk alat mesin pertanian yang masih terbatas.Penulis Artikel :Muh. AdamBPP Kecamatan Kapoiala