PendahuluanPare putih(Momordica c harantia L) merupakan anggota famili Cucurbitaceae dan tergolong tanaman herba berumur satu tahun atau lebih, tumbuh menjalar dan memanjat. Batangnya mempunyai alat pembelit yang terletak di dekat daun. Bentuk daunnya menjari, berbentuk kaki tanpa daun penumpu. Tanaman ini berkelamin tunggal dan berumah satu/dua (Setiawan dan Trisnawati, 1993).Tanaman pare dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah dataran rendah sampai ketinggian 500 m/dpl. Penanaman pare di dataran tinggi (pegunungan) sering menghasilkan buah berukuran kecil-kecil dan tidak normal. Persyaratan iklim yang dikehendaki tanaman pare, antara lain daerah yang mempunyai suhu antara 18° C-24°C, tempatnya terbuka atau mendapat sinar matahari penuh, kelembapan udara cukup tinggi antara 50%-70% dan Curah hujannya relatif rendah (60mm-200mm/bulan) (Hendro Sunarjono, 2004) Tata Laksana Budidaya Tanaman ParePersiapan lahan tanamLahan untuk kebun pare disiapkan dalam bentuk bedengan atau langsung membuat lubang tanam berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm dengan jarak antar lubang 60 cm – 200 cm. Tata cara penyiapan lahan untuk kebun pare adalah membersihkan lahan dari rumput liar (gulma), lalu olah tanahnya sedalam 30 cm – 40 cm hingga gembur. Tanah dikeringkan selama ±15 hari. Kemudian buat bedengan berukuran lebar 60 cm – 80 cm(sistem 1 baris) atau 2 m – 4 m(sistem 2 baris), tinggi 30 cm – 40 cm, panjang disesuaikan dengan keadaan lahan dan jarak antar bedengan 40 cm – 60 cm. Lalu sebarkan pupuk organik (20 ton/ha) di atas permukaan bedengan. Sebaiknya pupuk ini diberikan 2-3 minggu sebelum penanaman. Lalu sebarkan seluruh dosis pupuk kompos organik dan pupuk SP 36 pada bedengan, lalu dicampur merata dengan lapisan tanah atas. Pasang mulsa pada tiap bedengan. Biarkan bedengan bermulsa plastik dikeringanginkan selama 3-5 hari agar pupuk melarut dengan air tanah (Rukmana, 1997) Jarak antar lubang pada mulsa 200 cm x 60 cm atau 200 cm x 100 cm. Ukuran ini bervariasi tergantung jenis tanaman dan jumlah pemberian pupuk dasarnya. Lubang tanam dibiarkan terjemur matahari selama ± 3 hari agar bibit penyakit yang mungkin ada terbasmi. PenanamanWaktu tanam pare yang paling baik adalah pada awal musim hujan. Namun, di daerah yang keadaan tanah atau pengairannya memadai penanaman dapat dilakukan sepanjang tahun. Pada sistem penanaman melalui persemain, pemindahan bibit ke lahan dapat dilakukan ketika bibit berdaun 3-4 helai. Bibit yang dipilih adalah yang pertumbuhannya subur dan nampak sehat. Waktu tanam bibit pare yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari ketika suhu udara dan terik matahari tidak terlalu tinggi.Cara penanamannya adalah siram media semai dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah. Keluarkan bibit pare bersama akar -akar dan tanahnya dari polybag dengan cara membalikkan posisi bibit, kemudian polybag diambil secara hati-hati. Letakkan bibit dalam lubang tanam yang telah disediakan. Timbunlah dengan tanah di sekelilingnya dan tekan sedikit. Siram tanah di sekitar pangkal batang bibit pare dengan air bersih hingga cukup basah (Anonim, 2009). Pemeliharaan tanaman Penyiraman (pengairan)Pada fase awal pertumbuhan, tanaman pare memerlukan ketersediaan air yang memadai. Penyiraman dilakukan 2 x sehari, tergantung cuaca dan keadaan tanah. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengairan adalah tanah tidak terlalu basah (menggenang) ataupun terlalu kering (Rukmana, 1997). PemupukanSelain pupuk dasar, tanaman pare perlu juga diberi pupuk susulan berupa campuran Urea dan kcl dengan perbandingan 1:2 untuk tanah berpasir. Sedangkan untuk tanah liat komposisinya 1:2. Setiap tanaman diberi 6 gr, berarti untuk setiap tanaman memerlukan 2 gr Urea dan 4 gr ZA Pupuk susulan pertama diberikan ketika tanaman berumur 3 minggu. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara membenamkan pupuk sedalam 5 cm pada jarak 10 cm dari batang tanaman. Pupuk campuran tersebut diberikan lagi 2 minggu kemudian dengan dosis ½ pupuk susulan pertama. Selain pupuk tadi, tanaman pare juga diberi pupuk tambahan berupa pupuk majemuk NPK dengan dosis 5 gr/tanaman. Pupuk majemuk ini diberikan 2 minggu setelah pemberian pupuk susulan yang pertama. Interval pemberiannya 2 minggu sekali sampai tanaman berusia 4 bulan Pupuk daun juga baik diberikan dengan konsentrasi 0,2% (2cc/liter) untuk tiap tanaman. Interval penyemprotannya 1 minggu sekali. Pemupukan melalui daun dilaksanakan untuk menghindari larutnya unsur hara sebelum dapat diserap oleh akar. Beberapa unsur hara yang efektif disemprotkan melalui daun adalah N, P, K, S, Ca, Mg serta unsur -unsur hara mikro. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara pukul 08.00-10.00 atau pada sore hari pada pukul 15.30-16.30. Untuk tanaman pare, biasanya petani menggunakan pupuk daun Lauxin (Setiawan dan Trisnawati, 1993) Pemasangan tempat merambat tanamanTanaman pare merupakan tanaman merambat dan berkulit buah tipis serta halus. Oleh karena itu, perlu tempat merambat untuk menjauhkan buahnya dari tanah agar tidak busuk. Tanaman yang berumur 2-3 minggu harus sudah dibuatkan turus atau para-para. Bentuknya bisa bermacam-macam sesuai dengan jenis tanaman pare PenyianganGulma yang tumbuh di kebun pare merupakan pesaing dalam kebutuhan air, unsur hara, dan sinar matahari bagi tanaman pare. Oleh karena itu, rumput perlu disiangi (dibersihkan). Waktu penyiangan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penggemburan tanah dan pemupukan, yaitu saat tanaman pare berumur 15, 30, 45 atau tergantung keadaan pertumbuhan rumput liar. Penyiangan dilakukan dengan mencabut atau membersihkan semua rumput liar secara hati -hati menggunakan tangan ataupun cangkul (Hendro Sunarjono, 2004) Pemangkasan (perompesan)Pemangkasan tanaman pare dilakukan 2 kali. Pertama saat tanaman berumur 3 minggu. Tunas yang tumbuh kesamping setelah pemangkasan dirambatkan ke kiri dan ke kanan para-para atau ajir. Pangkasan berikutnya dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu. Pada saat ini cabang yang tua dan tidak tumbuh lagi dipotong. Selain itu, daun yang tua dibuang, begitu juga cabang yang rusak, patah atau terkena serangan penyakit PanenPemanenan buah pare tergantung pada tujuan penggunaannya. Buah yang dipetik untuk tujuan konsumsi berbeda dengan buah yang dipetik untuk tujuan pengadaan benih. Untuk tujuan konsumsi, buah dapat dipetik ketika belum tua benar. Ciri-ciri buah pare siap dipanen adalah ukuran buah maksimum, namun tidak terlalu tua. Bintil-bintil permukaan kulit tampak masih agak rapat dengan galur yang belum melebar. Buah berwarna hijau keputih-putihan atau putih susu, tergantung jenis atau varietasnya. Sedangkan ciri-ciri buah pare yang digunakan untuk pengadaan benih adalah buah berwarna kuning, daging buah lunak dan bintil-bintil kulitnya sudah melebar. Sumber : https://eprints.uns.ac.id/10689/1/189590811201111121.pdfPenyadur/Penulis : Rahayu Septi Limawaty, SP (Penyuluh Pertanian BPP Tabir Lintas Kabupaten Merangin)