Loading...

BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK YANG AMAN DIKONSUMSI

BUDIDAYA SAYURAN ORGANIK YANG AMAN DIKONSUMSI
Sayuran merupakan bahan makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral untuk menjaga kesehatan tubuh. Zaman modern ini, masyarakat mulai memilih sayuran organik, yaitu sayuran yang dibudidayakan tidak menggunakan bahan kimia sintetis (pupuk, pestisida, herbisida, hormon tumbuh, dan aditif pakan), tetapi menggunakan bahan alam. Mereka mulai sadar akan bahayanya penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dalam budidaya tanaman, karena hasilnya jika dikonsumsi dapat berakibat jelek terhadap kesehatan manusia, antara lain: pemicu kanker dan terkena penyakit syaraf, tremor/gemetaran, lumpuh, hati, ginjal. Bahaya pada anak-anak antara lain memicu kanker otak, leukemia, dan bibir sumbing. Harga sayuran organik lebih mahal dibanding dengan sayuran non organik, maka usahatani sayuran organik sebaiknya diarahkan untuk bisnis. Oleh karena itu jenis sayuran yang akan dibudidayakan secara organik perlu dipilih yang disukai masyarakat agar laku dijual, contohnya bawang merah, cabai, wortel, selada, dan tomat. Adapun cara budidaya sayuran organik sama dengan sayuran non organik, bedanya pada penggunakan bahan-bahan untuk pupuk, obat hama dan penyakit, serta hormon tumbuh. Pada dasarnya, budidaya sayuran organik tidak boleh menggunakan bahan kimia sintetis yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Persiapan LahanLahan untuk budidaya sayuran organik harus bebas dari bahan kimia sintetis. Jika lahan bekas untuk pertanian non organik atau menggunakan bahan kimia sintetis, harus dilakukan konversi agar bebas dari bahan kimia sintetis. Lama konversi selama 2 (dua) untuk bekas tanaman semusim atau minimal 3 tahun untuk bekas tanaman tahunan. BenihBenih yang digunakan harus cocok dengan kondisi setempat, tahan terhadap hama dan penyakit, berasal dari produk pertanian organik, tidak berasal dari produk GMO (Genetically Modified Organism/rekayasa genetik atau sifat keturunan yang direkayasa). Jika tidak ada benih organik, dapat digunakan benih bebas dari penggunaan bahan kimia sintetis atau benih dengan perlakuan bahan-bahan yang direkomendasikan untuk produksi pertanian organik. Kesuburan TanahKesuburan dan aktivitas biologi tanah harus ditingkatkan atau dijaga terutama dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman dan binatang organik ke dalam tanah tersebut. Selain itu, bahan-bahan yang disarankan untuk meningkatkan/menjaga kesuburan tanah, antara lain: kompos organik, kotoran dan urine ternak organik, legum, dan inokulan rhizobium serta mycorrhizae dengan media organik. Sisa-sisa tanaman dan kotoran ternak harus dikomposkan dengan baik sebelum digunakan. Penggunaan pupuk organik tidak boleh sembarangan, harus sudah disertifikasi oleh lembaga sertifikasi organik atau diketahui dan diijinkan penggunaannya oleh lembaga sertifikasi organik. Sedangkan bahan-bahan boleh digunakan secara terbatas: 1) Batuan alam (fosfat, kapur, zeolit, dll); peat (gambut); 2) Kompos (dari kotoran ternak, limbah rumah tangga organik, sisa industri jamur, humus, vermikultur, sisa-sisa tanaman); 3) Limbah kayu (serbuk gergaji, tatal, lainnya); 4) Guano (pupuk dari kotoran burung atau kelelawar); 5) Abu kayu; 6) Produk perikanan/kelautan (Seaweed, Fish by product); 7) Produk hewan (bone meal, meat/blood meal, urine); dan hasil samping industri gula. Bahan-bahan yang dilarang digunakan: 1) Pupuk dan bahan kimia sintetis (Superfosfat, Urea, Ammonium Sulfat, Kalium Klorida/KCl, Kalium Nitrat, Kalsium Nitrat, dan pupuk kimia sintetis lainnya); 2) EDTA chelate; 3) Synthetic rooting agent; 4) Plant growth regulator dan hormone; 5) Biakan mikroba yang menggunakan media kimia sintetis; dan 6) Semua bahan yang berasal dari GMO. Konservasi Tanah dan AirKonservasi tanah dan air merupakan pemeliharaan dan perlindungan terhadap tanah dan air secara teratur untuk mencegah kerusakan, antara lain: 1) Erosi tanah harus diminimalkan dengan cara-cara pengolahan tanah sedikit mungkin, penggunaan penutup tanah, dibuat teras siring untuk tanah miring, dan lainnya; 2) Menjaga kualitas air, menggunakan air secara efisien; 3) Peningkatan bahan organik tanah; dan 4) Pembakaran lahan harus dihindari dalam budidaya organik. Pengendalian Hama, Penyakit dan Gulma Budidaya secara organik dalam pengendalian hama, penyakit dan gulma mengutamakan cara biologis, mekanis dan kultural, antara lain: rotasi tanaman dan pengolahan tanah meskipun secara minimal, pembatas dan perangkap mekanis (termasuk pheromones), Plant-base repellent, menggunakan pestisida nabati, suara (ultra sound) dan pencahayaan (ultra violet), pengendalian suhu dan udara. Kemudian perlu dibatasi dalam penggunakan Bordeaux, sulfur (alam), dan kalium permanganat (untuk seed dressing). Dilarang penggunaan semua pestisida sintetis dan semua bahan yang berasal dari produk GMO. Pencegahan Kontaminasi Sistem pertanian organik harus dijaga dari kontaminasi dengan bahan-bahan terlarang dalam pertanian organik. Penggunaan pembatas fisik (termasuk buffer zone) harus digunakan. Semua alsintan yang dipakai dalam pertanian konvensional harus dibersihkan dahulu sebelum digunakan dalam pertanian organik. Penulis: Susilo Astuti Handayani (Penyuluh Pertanian Pusluhtan)Sumber informasi:1. Prospek Pertanian Organik di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2002. 2. Sayuran Organik. Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian. 2008.3. Pracaya. Bertanam Sayur Organik. Cimanggis-Depok, Jawa Barat. 2009.4. Berbagai sumber dari Internet.