Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran penting. Cabai merah dikenal sebagai bahan penyedap masakan dan pelengkap berbagai menu masakan khas Indonesia. Kebutuhan akan komoditas ini semakin meningkat sejalan dengan makin bervariasinya jenis dan menu masakan yang memanfaatkan produk ini. Cabai merah tidak hanya mengandung zat rasa pedas tetapi juga banyak mengandung vitamin dan mineral yang berguna untuk kesehatan tubuh manusia. Cabai juga banyak mengandung gizi berupa protein dan vitamin yang berguna bagi tubuh. Kandungan gizi cabai merah segar per 100 gram terdiri dari 31,0 kal; 1,0 gram protein; 0,3 gram lemak; 7,3 gram karbohidrat; 29,0 mg Kalsium; 24,0 mg Fosfor; 0,5 mg Besi; 470 mg Vitamin A; 18,0 mg Vitamin C; 0,05 mg Vitamin B1; 0,03 mg Vitamin B2; 0,20 mg Niasin; 0,1-1,5% kapsaikin; 2,33% pektin; 8,57% pentosan; 0,8-1,4% pati. Produk cabai umumnya dikonsumsi masyarakat dalam bentuk segar. Konsumsi dalam bentuk olahan belum berkembang, sehingga kelebihan atau kekurangan pasokan sesuai dengan kebutuhan akan berakibat terjadinya fluktuasi harga yang besar. Fluktuasi harga cabai relatif lebih tajam dibanding komuditas lain, dengan CV antara 20 – 50 %. sehingga pertumbuhan dan produksi di lapangan cukup bagus. Adanya serangan OPT yang cenderung meningkat telah mampu dikendalikan oleh petani dengan penggunaan pestisida relatif cukup tinggi. Hal ini menyebabkan biaya produksi meningkat . Usaha pemerintah untuk meningkatkan produksi pertanian salah satunya dengan sapta usaha tani yang merupakan program bercocok tanam dengan syarat-syarat pengolahan tanah, penggunaan bibit unggul, pengairan, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, pengolahan pasca panen, dan teknologi pertanian,salah satu contoh dengan penerapan SL GAP.Sifat-sifat dari suatu varietas tidak selalu tetap, tetapi telah mengalami perubahan, sehingga suatu varietas yang unggul pada suatu waktu dan tempat yang berbeda, kadang-kadang varietas unggul baru menghendaki syarat-syarat pembudidayaan yang berlainan dengan varietas yang lama dan masih memiliki sifat-sifat yang jelek tertentu untuk daerah penanaman baru. Sebelum disebar, benih direndam dalam air bersuhu 30-400C. Selama kurang lebih 24-48 jam, kemudian benih di tanam pada setiap polybag (satu polybag di isi satu benih) yang telah di isi media yang berisi campuran berupa tanah subur dan pupuk organik padat fine compost dengan perbandingan 2 : 1. Ke dalam media ditambahkan 80 gram NPK serta 75 gram Furadan. Selama pembibitan berlangsung, kelembaban media dijaga dengan cara menyiram dengan hati-hati agar media tidak terlalu becek.Tehnik budidaya tanama cabea.Pengolahan Tanah Pengolahan tanah dilakukan dengan membajak seluruh lahan penelitian dengan kedalaman 20-25 cm. Kemudian dilakukan penggemburan tanah dan dilanjutkan dengan pembuatan blok dan petak perlakuan. Pada pembuatan blok dan petak, lahan dibagi menjadi tiga (3) blok dengan arah tegak lurus dengan arah kesuburan tanah. Tiap-tiap blok dibagi menjadi 12 petak perlakuan dengan ukuran tiap petak 300 cm x 240 cm dengan jarak antar petak 40 cm dan tinggi petak 50 cm sedangkan jarak antar blok 70 cm. b.Pemberian Mulsa Pemasangan mulsa dilakukan setelah lahan selesai diolah dan sudah diberikan pupuk dasar, yaitu dengan cara menutup petak-petak penelitian dengan Mulsa plastik hitam perak (mulsa yang berwarna perak berada diluar). Kemudian mulsa dilubangi dengan diameter 8-10 cm dengan jarak antar lubang 60 cm x 60 cm (sesuai jarak tanam). c.Penanaman Penanaman dilakukan setelah bibit berumur 28 hari setelah penyemaian, dengan tinggi bibit kira-kira 5-10 cm, yaitu dengan cara dipindahkan ke lahan penelitian dan ditanam pada lubang tanam yang telah siapkan. Bibit yang akan ditanam diseleksi terlebih dahulu di pilih yang sehat dan pertumbuhannya seragam. d.Pemeliharaan Perempelan : perempelan dilakukan dengan membuang tunas-tunas baru pada batang utama atau disetiap ketiak daun cabai dan membuang daun cabai yang sudah tua pada batang utama beserta bunga pertama. Dilakukan pada saat 2 minggu setelah pemindahan bibit;Penyulaman : penyulaman dilakukan jika ada tanaman yang mati, rusakkurang sehat dan diakhiri 1 minggu setelah tanam; Pengajiran : pemasangan ajir dilakukan pada saat tanaman belum tumbuh lanjut (kira-kira 1 minggu setelah pemindahan bibit) dengan tujuan agar tidak mengganggu perakaran. Pengajiran dilakukan dengan model 1:1 yang artinya satu ajir untuk satu tanaman; Pemupukan : pemupukan dilakukan menggunakan pupuk fine compost dan pupuk kimia urea, SP 36, KCl dan NPK Sesuai perlakuan. Mengenai dosis, waktu dan cara pemberian pupuk: ( Pupuk kompos : dosis Sesuai perlakuan : D1 = 8.4 kg/petak ,D2 = 10.08 kg/petak ,D3 = 11.76 kg/petak. Cara pemberian : ditebar dan dicampur merata dipermukaan tanah. Waktu pemberian : sesaat sebelum tanam; Pupuk urea : dosis Sesuai perlakuan : 285.6 g/petak (untuk 4 kali pemberian). Cara pemberian : dilarutkan dalam air, dikocorkan di sekeliling lubang tanam. Waktu pemberian : sesaat sebelum tanam, 30 HST, 60 HST, 80 HST; Pupuk SP-36 : 210 g/petak (untuk 4 kali pemberian). Cara pemberian : dilarutkan dalam air, dikocorkan di sekeliling lubang tanam. Waktu pemberian : sesaat sebelum tanam, 30 HST, 60 HST, 80 HST; Pupuk KCl : 243 g/petak (untuk 4 kali pemberian). Cara pemberian : dilarutkan dalam air, dikocorkan di sekeliling lubang tanam. Waktu pemberian : sesaat sebelum tanam, 30 HST, 60 HST, 80 HST; Pupuk NPK : 134 g/petak. Cara pemberian : dikocorkan dan diberikan pada daerah perakaran. Waktu pemberian : setelah 20 HST, 40 HST, 80 HST, 120 HST); Pengairan : pengairan dengan menggunakan sistem leb pada got-got yang telah dibuat dengan interval 2 minggu sekali yang dikerjakan; Penyiangan : penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang ada pada lubang tanam dan tempat kosong (tanpa mulsa) dan dilakukan 1 minggu sekali; Pengendalian hama dan penyakit : pengendalian hama Aphis Sp dan Trips dilakukan dengan menggunakan insektisida Agrimec dengan dosis 1 cc/12 liter air dan Curacron dengan dosis 1-2 cc/ 1 air. Diberikan pada saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam sampai 1 minggu sebelum panen, dengan interval 10 hari sekali untuk insektisida Agrimec, 5 hari sekali insektisida Curacron. Pengendalian hama ulat dan kutu daun dilakukan dengan menggunakan insektisida Marshal 200 EC dengan dosis 1 cc / liter air. Diberikan pada saat ada gejala serangan. Pengendalian penyakit bercak daun dan penyakit antrak nose dilakukan dengan menggunakan Dithene M45 dengan dosis 0,5 – 1 cc/ 1 air dan Kadilak 80 WP dengan dosis 0,5 – 1 cc / 1 diberikan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam dengan interval 1 minggu sekali. Pemungutan Hasil Panen dilakukan pada saat tanaman berumur antara 75 hari setelah tanam untuk varietas interval 3 hari sekali, sedangkan untuk varietas TM 999. Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 75 hari setelah tanam, panen dilakukan enam belas kali dengan interval 3 hari sekali.Penulis : PriyonoSumber : Juknis SL GAP Cabai Merah