Loading...

Budidaya Tanaman Kakao

Budidaya Tanaman Kakao
Penulis : Tumpal Hutabarat BPP Kecamatan Pahae Jae 1. Persiapan Lahan Bersihkan alang-alang dan gulma lainnya, gunakan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides & C caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan. Gunakan juga tanaman pelindung seperti Lamtoro, Gleresidae dan Albazia, tanaman ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao (1 : 3). 2. Pembibitan kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur. Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok. Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan, pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan dilakukan penyiraman 3 kali sehari siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan, Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag, Sebelum kecambah dimasukkan tambahkan 1 gram pupuk TSP/SP-36 ke dalam tiap-tiap polibag, benih dapat digunakan untuk bibit jika 2-3 hari berkecambah lebih 50% Jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 10. Tinggi naungan buatan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga sinar masuk tidak terlalu banyak Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari Penyiangan gulma melihat keadaan areal pembibitan. Pemupukan dengan N P K ( 2 : 1 : 2 ) dosis sesuai dengan umur bibit, umur 1 bulan : 1 gr/bibit, 2 bulan ; 2 gr/bibit, 3 bulan : 3 gr/bibit, 4 bulan : 4 gr/bibit. 3. Penanaman a. Pengajiran Ajir dibuat dari bambu tinggi 80 - 100 cm, pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama b. Lubang Tanam Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada akhir musim hujan Berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per lubang. c. Tanam Bibit Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik, dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa, bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanam setelah bibit umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush). 4. Pemeliharaan Tanaman Tabel Pemupukan Tanaman Coklat. UMUR (bulan) Dosis pupuk Makro (per ha) Urea (kg) TSP (kg) KCl (kg) KIESERITE (MgSO4) (kg) 2 15 15 8 8 6 15 15 8 8 10 25 25 12 12 14 30 30 15 15 Dst Dilakukan analisa tanah 5. Pengendalian Hama Penyakit a. Ulat Kilan ( Hyposidea infixaria; Famili : Geometridae) menyerang pada umur 2-4 bulan. Serangan berat mengakibatkan daun muda tinggal urat daunnya saja. Pengendalian dengan PESTONA dosis 5 - 10 cc / liter. b. Ulat Jaran / Kuda ( Dasychira inclusa, Familia : Limanthriidae ) Ada bulu-bulu gatal pada bagian dorsalnya menyerupai bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapat pada marke 4 dan 5 berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklat kehitam-hitaman. Pengendalian dengan musuh alami predator Apanteles mendosa. c. Parasa lepida dan Ploneta diducta (Ulat Srengenge) Serangan dilakukan silih berganti karena kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkan kokonnya, sehingga masa berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang merupakan pusat kehidupan dan bunga yang masih muda. Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan, d. Kutu - kutuan ( Pseudococcus lilacinus ) Kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut hitam. Gejala serangan : infeksi pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya perusakan ke bagian buah yang masih kecil, buah terhambat dan akhirnya mengering lalu mati. Pengendalian : tanaman terserang dipangkas lalu dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus sp, Semut hitam. e. Helopeltis antonii Menusukkan oviposito untuk meletakkan telurnya ke dalam buah yang masih muda, jika tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, bagian menyerupai tanduk tampak lurus. Ciri serangan, kulit buah ada bercak-bercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah kaku dan sangat keras serta jelek bentuknya dan buah kecil kering lalu mati. f. Penyakit Busuk Buah (Phytopthora palmivora) Gejala serangan dari ujung buah atau pangkal buah nampak kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan langsung mati. Pengendalian : membuang buah terserang dan dibakar, pemangkasan teratur. 6. Pemangkasan Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik. Pemangkasan ada beberapa macam yaitu : Pangkas Bentuk, dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris. Pangkas Pemeliharaan, bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya. Pangkas Produksi, bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau. Pangkas Restorasi, memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air tau dapat dilakukan dengan side budding. 7. Pengolahan Hasil Fermentasi, tahap awal pengolahan biji kakao Bertujuan mempermudah menghil angkan pulp, menghilangkan daya tumbuh biji, merubah warna biji dan mendapatkan aroma dan cita rasa yang enak. Pengeringan, biji kakao yang telah difermentasi dikeringkan agar tidak terserang jamur dengan sinar matahari langsung (7-9 hari) atau dengan kompor