BUDIDAYA TANAMAN KUNYIT(Curcuma domestica Val.)PENDAHULUANKunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan salah satu tanaman obat potensial, selain sebagai bahan baku obat juga dipakai sebagai bumbu dapur dan zat pewarna alami. Berdasarkan hasil survei tahun 2013, kebutuhan rimpang kunyit berdasarkan jumlahnya yang diserap oleh industri obat tradisional di Jawa Timur menduduki peringkat pertama dan di Jawa Tengah termasuk lima besar bersama-sama dengan bahan baku obat lainnya. Rimpangnya sangat bermanfaat sebagai antikoagulan, menurunkan tekanan darah, obat cacing, obat asma, penambah darah, mengobati sakit perut, penyakit hati, karminatif, stimulan, gatal-gatal, gigitan serangga, diare, rematik. Kandungan utama di dalam rimpangnya terdiri dari minyak atsiri, kurkumin, resin, oleoresin, desmetoksikurkumin, dan bidesmetoksikurkumin, damar, gom, lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi. Zat warna kuning (kurkumin) dimanfaatkan sebagai pewarna untuk makanan manusia dan ternak. Kandungan kimia minyak atsiri kunyit terdiri dari ar-tumeron, ? dan ?-tumeron, tumerol, ?-atlanton, ?-kariofilen, linalol, 1,8 sineol. Teknologi budidaya yang mengikuti anjuran, dengan mengacu kepada penerapan SPO yang tepat, produksi rimpang kunyit segar mencapai 11 ton/ha, dengan kadar kurkumin 8 –11%. PERSYARATAN TUMBUH Tumbuh baik pada tanah jenis latosol, aluvial dan regosol, ketinggian tempat 240 – 1200 m di atas permukaan laut (dpl), dengan curah hujan 2000 – 4000 ml/tahun. Kunyit juga dapat tumbuh di bawah tegakan tanaman keras seperti sengon, jati yang masih muda sekitar umur 3 – 4 tahun, dengan tingkat naungan tidak lebih dari 30%. BAHAN TANAMAN Bahan tanaman harus tepat dan jelas nama jenis, varietas dan asal usulnya. Kunyit (Curcuma domestica Val.; turmeric) termasuk tumbuhan berbatang semu, basah yang dibentuk dari pelepah daun. Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 m, berbunga majemuk berwarna putih sampai kuning muda. Berdaun tunggal, berbentuk lanset lebar, ujung dan pangkalnya runcing, tangkainya panjang, tepinya rata, bertulang menyirip, panjangnya 20 – 40 cm, lebar 8 – 12,5 cm, warna hijau pucat. Tanaman menghasilkan rimpang berwarna kuning jingga, kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan. Rimpang terdiri dari rimpang induk dan anak rimpang, rimpang induk berbentuk bulat telur, disebut empu atau kunir lelaki. Anak rimpang letaknya lateral dan bentuknya seperti jari, panjang rimpang 2 – 10 cm, diameter 1 – 2 cm. Selain jenis dan varietas yang jelas, bahan tanaman berasal dari rimpang yang sehat dari tanaman yang sehat berumur 11 – 12 bulan, untuk benih daunnya harus sudah mengering (masuk periode senescens). Hasil seleksi dan uji daya adaptasi diberbagai lingkungan tumbuh telah diperoleh 10 nomor harapan kunyit dengan potensi produksi masing-masing Cudo 21 (18 – 25 ton/ha), Cudo 38 (18 – 25 ton/ha) dan kadar kurkumin Cudo 21 (8,70 %), Cudo 38 (11 %) dan siap dilepas sebagai varietas unggul. PEMBENIHAN Untuk benih bisa menggunakan rimpang induk dan anakrimpang. Rimpang induk digunakan seperempat bagian (satu rimpang induk dibelah menjadi empat bagian membujur), sedangkan anak rimpang, dengan ukuran 15 – 20 g/potong. Sebelum ditanam benih ditumbuhkan dahulu sampai mata tunasnya tumbuh dengan tinggi tunas 0,5 - 1 cm, sehingga diperoleh tanaman yang seragam. BUDIDAYA Penerapan teknologi budidaya yang mengacu kepada SPO yang dimulai dari pemilihan jenis, varietas unggul/harapan, lingkungan tumbuh, pembenihan, pengolahan lahan, cara tanam, pemeliharaan, pengendalian hama penyakit, cara panen dan pengolahan pasca panenakan menghasilkan bahan baku yang bermutu tinggi dan terstandar. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Persiapan lahan Tanah diolah agar menjadi gembur, diupayakan agar drainase sebaik mungkin, sehingga tidak terjadi penggenangan air pada lahan, oleh karena itu perlu dibuat parit-parit pemisah petak. Ukuran petak, lebar 2 – 3 m dengan panjang petak disesuaikan dengan kondisi dilapangan. Jarak tanam Jarak tanam kunyit bervariasi antara 50 cm x 40 cm, 50 cm x 50 cm, 40 cm x 40 cm atau 50 cm x 60 cm, pada sistem budidaya monokultur. Apabila tanaman akan ditanam secara pola tumpang sari dengan tanaman sisipan kacang tanah atau cabe rawit, maka jarak tanamnya menggunakan 75 cm x 50 cm. Pola tanam Tanaman kunyit bisa juga ditanam dengan sistem pola tumpangsari dengan kacang tanah, dengan menggunakan jarak tanam antar barisan lebih lebar yaitu 75 cm dan jarak dalam barisan 50 cm. Tanaman kacang tanah atau cabe rawit ditanam bersamaan dengan menanam kunyit, pada umur 3 BST kacang tanah sudah dapat dipanen dan umur 2 bulan cabe rawit sudah mulai menghasilkan. Tumpang sari dengan kacang tanah dapat menambah kesuburan tanah khususnya dapat menambah unsur N tanah. Pemupukan Pupuk kandang 10 – 20 ton/ha sebagai pupuk dasar diberikan pada saat tanam. Pupuk Urea, SP-36 dan KCl, dengan dosis masingmasing 100 kg, 200 kg dan 200 kg/ha untuk pola monokultur, serta 200 kg/ha, untuk pola tumpangsari. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam dan Urea diberikan menjadi 2 agihan yaitu pada umur 1 dan 3 bulan setelah tanaman tumbuh. Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan, untuk menghindari adanya kompetisi perolehan zat hara dengan gulma dan menjaga kelembaban, suhu dan kegemburan tanah. Pembumbunan dilakukan juga untuk memperbaharui saluran drainase pemisah petak, tanah dinaikkan ke petak-petak tanam, biasanya dilakukan setelah selesai penyiangan. Pengendalian organisme pengganggu tanaman Jarang terjadi serangan hama dan penyakit. Namun untuk menghindari munculnya serangan perlu diantisipasi dengan cara pencegahan. Tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit busuk rimpang yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, dilakukan dengan cara penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari pelukaan (rimpang diberi abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat, inspeksi kebun secara rutin.PANEN Umur panenPanen yang tepat berdasarkan umur tanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, yaitu pada tanaman umur 10 – 12 bulan setelah tanam, biasanya daun mulai luruh atau mengering. Dapat pula dipanen pada umur 20 – 24 bulan setelah tanam.Cara panenPanen dilakukan dengan cara menggali dan mengangkat rimpang secara seluruhan. PASCA PANEN Pembersihan/pencucianRimpang hasil panen dicuci dari tanah dan kotoran, kemudian dikering anginkan sampai kulit tidak basah lagi.Perajangan rimpangSetelah itu, rimpang diiris dengan irisan membujur dengan ketebalan setipis mungkin lebih kurang 2 mm. Pengeringan simplisaRajangan rimpang dijemur dengan menggunakan enerji matahari diberi alas yang bersih, atau bisa dengan pengering oven dengan suhu 40 – 60o C, hingga mencapai kadar air 9 - 10%. PENGANEKARAGAMAN PRODUK Sebagai bahan baku obat, zat pewarna dan rempah, selain berupa simplisia irisan kering juga bisa diolah berupa tepung, minyak atsiri, oleoresin dan zat pewarna kurkuminoid. USAHATANIUntuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam teknologi budidaya perlu diperhitungkan. Berikut analisis usahatani kunyit dengan teknologi budidaya anjuran Balittro.Hasil Usahatani Budidaya Kunyit pada Luasan 1 HektarI. PENGELUARAN UPAH1. Pengolahan tanah I 90 HOK 15.000,- 1.350.000,-2. Pengolahan tanah II 90 HOK 15.000,- ,- 0.000,-5. Pemeliharaan 100 HOK 15.15.000,- 1.350.000,-7. Prosesing hasil panen 60 HOK 15.000,- 900.000,-TOTAL UPAH 7.800.000,- 2.000,- 1.500.00 DAFTAR PUSTAKA Mono Rahardjo dan Otih Rostiana, 2005. Pemanfaatan lahan Pekarangan dengan Budidaya Kunyit. Agro Media Pustaka, Jakarta. Departemen Pertanian, 2005. Budidaya Kunyit. Badan Penelitian Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika Internet, 2010. Budidaya Kunyit. E-mail : balittro@telkom.net. Homepage : http://www.balittro.go.id 0,- Ggggg G Gema, 14 Juli 2018 Penyadur Mengetahui Kepala BPP Kampar Kiri Hulu TONI PRIBADI. SP Nip.19820426 2007 01 1 001 SUPARDI. SP Nip.19590806 198903 1 005 GTOTAL BAHAN 17.350.000,- GemGGGaTOTAL PENGELUARAN (I+II) 25.150.000,- III. PENDA kg 2.0 BUDIDAYA TANAMAN KUNYIT(Curcuma domestica Val.) DISUSUN OLEHTONI PRIBADINIP: 19820426 2007 01.1001BPP KAMPAR KIRI HULU DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURAKABUPATEN KAMPAR00,- 36.000.000,-IV. KEUNTUNG TONI PRIBADI. SP Nip.19820426 2007 01 1 001 DAFTAR PUSTAKA 8 AN 10.850.000,-Ratio biaya dengan pendapatan atau benefit cost ratio (B/C)B/C merupakan salah satu cara untuk mengukur kelayakan usaha kunyit. B/C merupkan pembanding antara hasil penjualan dengan total pengeluaran biaya produksi, B/C usahatani kunyit = 1,43.Titik balik modal atau break even point (BEP)Titik ba