I. Latar belakang. Padi termasuk jenis tanaman pangan yang merupakan kebutuhan pokok dan komoditas utama dalam kehidupan manusia. Tanaman padi berupa beras yang merupakan makanan sumber karbohidrat yang utama bagi penduduk Indonesia. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin sempitnya lahan pertanian serta sering terjadi gagal panen akibat cuaca ektrim khususnya di Kecamatan Benai dan umumnya di Kabupaten Kuantan Singingi sehingga telah memunculkan kerisauan akan terjadinya keadaan “rawan pangan” dimasa yang akan datang. Untuk memenuhi kebutuhan beras dari produksi dalam negeri, telah ditetapkan sasaran produksi pada tahun 2016 sebesar 76,23 juta ton gabah kering giling (GKG). Banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai sasaran produksi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya peningkatan produksi yang luar biasa (Dirjen Tanaman Pangan,2016). Salah satu terobosan inovasi teknologi yang dapat medongkrak peningkatan produktivitas padi sawah adalah sistem Jajar Legowo (Jarwo) Super. II. Tujuan Sistem Jajar Legowo (Jarwo) Super meningkatkan produktivitas padi sawah. III. Komponen Teknologi dan Teknik Budidaya. Varietas Unggul dan Benih Bermutu. Varietas Unggul merupakan salah satu komponen utama teknologi yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani. Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan vigor yang tinggi. Penerapan Pupuk Hayati (Agrimeth) Pupuk hayati Agrimeth diaplikasikan hanya satu kali, yakni pada saat benih akan disemai, dengan cara : Benih padi yang telah direndam dan diperam selama 24 jam, kemudian ditiriskan kemudian dicampur dengan pupuk hayati Agrimeth. Pencampuran benih dilakukan ditempat teduh. Benih padi yang telah dicampur pupuk hayati Agrimeth segera disemai. Upayakan tidak ditunda lebih dari 3 jam dan tidak terkena paparan sinar matahari agar tidak mematikan mikroba yang telah melekat pada permukaan benih. Benih yang telah terselimuti pupuk hayati disebar di persemaian pada kondisi tidak hujan. Persemaian diawali dengan perendaman dan pemeraman benih padi selama 24 jam kemudian ditiriskan, lalu benih dicampur dengan pupuk hayati dengan takaran 500 gram/25 kg benih, atau setara untuk 1 ha lahan. Benih disebarkan merata dipersemaian yang telah disiapkan terlebih dahulu. Bibit ditanam saat berumur 15-18 hari setelah tanam. Penyiapan Lahan Kegiatan utama dari persiapan lahan adalah pelumpuran tanah hingga kedalaman lumpur minimal 25 cm, pembersihan lahan dari gulma, pengaturan pengairan, perbaikan struktur tanah, dan peningkatan ketersediaan hara bagi tanaman. Lima tahapan penyiapan lahan dengan cara olah tanah basah adalah : Lahan sawah digenangi setinggi 2-5 cm diatas permukaan selama 2-3 hari sebelum tanah dibajak. Pembajakan tanah pertama sedalam 15-20 cm menggunakan hand traktor (Bajak Singkal), kemudian tanah diinkubasi selama 3-4 hari Perbaikan pematang yang dibuat lebar untuk mencegah terjadinya rembesan air dan pupuk, sudut petakan dan sekitas pematang dicangkul sedalam 20 cm, lahan digenangi selama 2-3 hari dengan kedalaman air 2-5 cm. Pembajkan tanah kedua bertujuan untuk pelumpuran tanah, pembenaman gulma dengan aplikasi biodekomposer. Perataan tanah menggunakan garu, sisa gulma dibuang, tanah dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang. Penerapan Pupuk Organik (Biodekomposer) Biodekomposer adalah komponen teknologi perombak bahan organic, diaplikasikan 2-4 kg/ha untuk mendekomposisi 2-4 ton jerami segar yang dicampur secara merata dengan 400 liter air bersih. Setelah itu larutan biodekomposer disiramkan secara merata pada tunggul dan serami pada petakan sawah, kemudian digelebeg dengan traktor, tanah dibiarkan dalam kondisi lembab dan tidak tergenang minimal 7 hari. Tanam Penanaman dilakukan secara manual dengan bantuan caplak. Pencaplakan dilakukan untuk membuat tanda jarak tanam yang seragam dan teratur. Sistem tanam jajar legowo 2:1 merupakan sistem tanam pindah antar dua baris tanaman terdapat lorong kosong memanjang sejajar dengan barisan tanaman dan dalam barisan menjadi setengah jarak tanam antar baris. Sistem tanam jajarlegowo bertujuan untuk peningkatan pupulasi tanaman persatuan luas, perluasan pengaruh tanaman pinggir dan mempermudah pemeliharaan tanaman. Penerapan sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jarak tanam 25 cm X 12,5 cm X 50 cm meningkatkan populasi tanam menjadi 213,333 rumpun/ha atau meningkat 33,3% disbanding dengan sistem tanam tegel 25 cm X 25 cm dengan populasi 160.000 rumpun/ha. Tanam dengan cara manual menggunakan bibit muda ( umur 15-18 hari setelah sebar), ditanam 2-3 batang/rumpun.. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila terjadi kehilangan rumpun tanaman akibat serangan OPT maupun factor lain sehingga populasi tanaman tetap pada tingkat optimal. Penyulaman harus selesai 2 minggu setelah tanam atau sebelum pemupakan dasar. Pengairan Pengelolaan air dimulai dari pembuatan saluran pemasukan dan pembuangan. Tinggi muka air 3-5 cm harus dipertahankan mulai daripertengahan pembentukan anakan hingga satu minggu menjelang panen untuk mendukung periode pertumbuhan aktif tanaman. Saat pemupukan, kondisi air dalam macak-macak. Penyiangan Penyiangan gulma dilakukan pada saat tanaman berumur 21 HST dan 42 HST, baik secara manual maupun dengan gasrok, terutama bila kondisi tanaman belum menutup. Penyiangan dengan gasrok dapat dilakukan pada saat gulma telah berdaun 3-4 helai, kemudian digenangi selama 1 hari agar akar gulma mati. Pemupukan Anorganik Untuk mendapatkan produktivitas > 10 ton GKG/ha diperlukan pemberian pupuk dengan dosis masing-masing Urea 150-200 kg/ha dan NPK Phonska 300 kg/ha. Pupuk NPK Phonska diaplikasikan 100% pada saat tanam dan pupuk urea masing-masing 1/3 pada umur 7-10 HST, 1/3 bagian pada umur 25-30 HST dan 1/3 bagian pada umur 40-45 HST. Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu Konsep pengendalian hama/penyakit secara terpadu yaitu dengan cara tanam serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian hayati, biopertisida dan mempertahankan populasi musuh alami. Penggunaan pestisida kimia selektif apabila cara terakhir jika komponen pengendalian lain tidak mampu mengendalian hama/pemyakit. Panen Panen merupakan kegiatan akhir dari proses produksi padi dilapangan dan factor penentu mutu beras baik kualiatas maupun kuantitas. Panen dilakukan pada saat tanaman matang fisiologis yang dapat diamati secara visual pada hamparan sawah yaitu 90-95% bulir telah menguning atau kadar air gabah berkisar 22-27%. Panen dapat dilakukan dengan dipotong manual atau menggunakan Combine Harvester. Penulis : Marlena , SP/19830318 200903 2 005 BPP Kecamatan Benai.