MATERI PENYULUHAN BUDIDAYA TANAMAN SAYURAN DENGAN SISTEM VERTIKULTUR DI KWT SRI REJEKI DESA BATIOMBO KEC. BANDAR KAB. BATANG Oleh : NAMA : WINDRIATI, S.P. NIP : 19811124 201706 2 002 BALAI PENYULUHAN PERTANIAN KEC. BANDAR DINAS PANGAN DAN PERTANIAN KAB BATANG BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Lahan pekarangan merupakan suatu aset nasional yang dimiliki oleh setiap keluarga yang telah mempunyai rumah dan tempat tinggal yang tetap. Lahan ini sebenarnya mempunyai peran yang besar bagi keluarga bila dikelola secara tepat. Potensi besar yang dimiliki ini, secara umum belum tergali dan termanfaatkan secara maksimal. Pertumbuhan populasi penduduk yang sangat cepat telah mendesak pertumbuhan kebutuhan akan lahan, baik sebagai mediatempat bermukim ataupun sebagai tempat penyediaan sarana dan prasarana serta sebagai sumber mata pencaharian. Untuk mengatasi kelangkaan dan keterbatasan lahan yang semakin meningkat, sudah saatnya masyarakat memberdayakan lahan pekarangan secara baik dan tepat, terutama untuk menyediakan sebagian kebutuhan harian keluarga. Bertanam sayuran organik di halaman rumah yang luasnya relatif terbatas memang memerlukan perencanaan yang bijaksana harus memikirkan dan memperhatikan berbagai aspek halaman rumah, karena itu diketahui apa yang akan dibuat dengan luasan halaman rumah yang tersedia, lalu sayuran apa yang hendak ditanam. Lahan yang sempit memang membuat kegiatan berkebun jadi kurang leluasa, namun dengan memanfaatkan ruang secara vertikal, berkebun menjadi lebih menyenangkan dengan kuantitas yang dapat ditingkatkan. Vertikultur adalah pola bercocok tanam yang menggunakan wadah tanam vertikal untuk mengatasi keterbatasan lahan. Oleh karena itu penulis berinisiatif untuk membuat karya tulis ilmiah yang membahas “Cara Mengatasi Keterbatasan Lahan dengan Sistem Tanam Vertikultur “ 1.2 Permasalahan Berdasarkan latar belakang dapat di ambil permasalahan sebagai berikut : Bagaimana cara mengatasi presoalan terbatasnya lahan yang tersedia dipekarangan rumah? Bagaimana cara bercocok tanam dengan memanfaatkan bambu sebagai media vertikultur ? 1.3. Tujuan Dan Manfaat Tujuan dan manfaat dari pembuatan media vertikultur adalah untuk mengatasi keterbatasan lahan yang tersedia dipekarangan rumah sehingga dapat memanfaatkan pekarangan rumah secara optimal. Sedangkan manfaat dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini yaitu Melalui kegiatan ini diharapkan memberi manfaat kepada masyarakat yang ada, berupa pengetahuan tentang cara pembuatan media vertikultur sehingga masyarakat dapat mempraktekannya sebagai penyaluran hobi dilapangan/pekarangan rumah, sehingga dapat mewiujudkan keinginan dalam mengatasi persoalan pemikiran masyarakat “Berkebun tidak semestinya dilahan yang luas”. Berkebun bisa dilakukan dilahan yang sempit dengan memanfaatkan bambu sebagai media vertikultur. BAB II ISI 2.1. Sistem Bertanam Vertikultur Vertikultur berasal dari kata “vertical” yang artinya ke atas atau bertingkat, dan “cultur” artinya budidaya atau bertanam. Jadi, vertikultur adalah sistem bertanam secara bertingkat. Tujuannya, untuk memberikan solusi pemanfaatan pekarangan rumah seoptimal mungkin agar dapat memenuhi sebagian kebutuhan pengan secara mandiri (Benny Sanusi, 2010). Vertikultur merupakan sebuah cara bercocok tanaman dengan susunan vertikal atau keatas menuju udara bebas, untuk tempat media tumbuhnya sendiri biasanya disusun secara vertical juga. Penempatan media tanamnya biasanya bisa menggunakan kaleng, paralon, bambu, riul, maupun papan kayu yang bisa digunakan sebagai alternative tempat media tanam. Penggunaan cara bercocok tanaman dengan metode vertikultur ini sangat cocok diterapkan pada lahan yang sempit terutama dipekarangan rumah yang tidak mempunyai lahan luas. Sistem vertikultur ini juga memberikan keuntungan dalam dunia pertanian karena selama ini banyak sekali isu mengenai alih fungsi lahan. Dengan menerapkan sistem pertanian vertikultur ini juga diharapkan menambah produksi para petani yang terkendala permasalahan adanya alih fungsi lahan. Di Indonesia sendiri sistem pertanian vertikultur dikembangkan pada tahun 1987 (Wartapa, 2010). Vertikultur bukan hanya sekadar kebun vertikal, namun vertikultur ini akan merangsang seseorang untuk menciptakan suatu biodiversitas di pekarangan yang sempit sekalipun. Struktur vertikal, memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya. Pertanian vertikultur tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga menciptakan suasana alami yang menyenangkan (Sastro, 2011). Model, bahan, ukuran, wadah vertikultur sangat banyak, disesuaikan dengan kondisi dan keinginan. Pada umumnya adalah berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga, dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak. Ada pula model gantung, model tempel, model tegak dan model rak(Maya, 2012). Bahan dapat berupa bambu atau pipa paralon, kaleng bekas, bahkan lembaran karung beras pun bisa, karena salah satu filosofi dari vertikultur adalah memanfaatkan benda-benda bekas di sekitar kita. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur pendek, dan berakar pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikultur antara lain selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun dan tanaman sayuran daun lainnya. Untuk tujuan komersial, pengembangan vertikultur ini perlu dipertimbangkan aspek ekonomisnya agar biaya produksi tidak melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman. Sedangkan untuk hobi, vertikultur dapat dijadikan sebagai media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas (Lukman, 2012).Jenis tanaman yang cocok untuk dibudidayakan secara vertikultur jumlahnya banyak sekali, mencapai ribuan tanaman. Secara umum tanaman yang cocok untuk divertikulturkan adalah hampir semua jenis tanaman semusim yang pertumbuhannya tidak terlalu tinggi, maksimal 1 m. Kebanyakan tanaman semusim merupakan jenis sayuran dan buah-buahan, dapat juga jenis tanaman hias. Ini termasuk tanaman merambat yang pertumbuhannya dapat diatur dengan ajir dari tali rafia atau bambu (Widarto, 1996). 2.2. Fungsi dan Manfaat Vertikultur Upaya pengembangan dan pemasyarakatan vertikultur di daerah perkotaan, antara lain mempunyai fungsi dan manfaat sebagai berikut : Menciptakan keasrian, keserasian, dan keindahan lingkungan kota yang dipenuhi dengan berbagai sarana dan prasarana perkotaan dan pemukiman padat penduduk Konservasi sumber daya tanah, yaitu dengan mengelola dan memanfaatkannya secara bijaksana agar ketersediaanya dapat terus berlanjut. Konservasi sumber daya air, sebab dengan penghematan penggunaan air berarti ketersediaan air dapat terjamin pada masa-masa yang akan datang. Mempengaruhi dan memperbaiki iklim mikro perkotaan, sehingga kondisi perkotaan menjadi lebih sejuk dan nyaman5. Berjalannya proses daur ulang limbah perkotaan yang dimanfaatkan sebagai kompos atau pupuk kandang. Sebagai upaya pemenuhan bahan pangan perkotaan dan menjaga keberlanjutannya (Sutarminingsih, 2003). 2.3. Kelebihan Dan Kekurangan Sistem Pertanian Vertikultur Menurut Andoko (2004) ada beberapa kelebihan dari teknik budidaya secara vertikultur, di antaranya sebagai berikut. Populasi tanaman per satuan luas lebih banyak karena tanaman disusun ke atas dengantingkat kerapatan yang dapat diatur sesuai keperluan. Media tanam yang disterilisasi meminimalkan risiko serangan hama dan penyakit sehinggamengurangi biaya untuk pengendalian hama dan penyakit. Kehilangan pupuk oleh guyuran air hujan dapat dikurangi karena jumlah media tanamyang sudah ditentukan hanya berada di sekitar perakaran tanaman di dalam wadah terbatas. Perlakuan penyiangan gulma sangat berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali karenasedikit media tanam terbuka yang memungkinkan media tanam tersebut ditumbuhi gulma. Berbagai bahan di sekitar rumah seperti karung bekas, batang bambu, pipa peralon, danbekas gelas air mineral dapat dimanfaatkan sebagai wadah budi daya vertikultur. Tempat dibangunnya bangunan vertikultur menampilkan nilai estetika, atau dapat dikatakan sebagai tanaman hias. Bangunan vertikultur dapat dipindah-tempatkan ke tempat yang diinginkan, terutama untuk vertikultur dengan konstruksi yang dapat dipindah-pindahkan. Di samping banyaknya nilai kelebihan, teknik budidaya vertikultur ini punmemiliki beberapa kelemahan, diantaranya sebagai berikut. a) Investasi atau biaya awal yang diperlukan cukup tinggi karena harus membuat srtruktur bangunan khusus dan penyiapan media tanam. b) Oleh karena jarak tanamnya rapat, tercipta suatu kondisi kelembapan udara yang tinggi. Hal ini menyebabkan tanaman rentan terhadap serangan penyakitakibat cendawan. 2.4. Tahapan Budidaya dengan Media Tanam Vertikultur Vertikultur dapat dibuat dengan cara memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar kita. Disamping itu, mudah dalam penyiapannya berikut cara membuat media tanam vertikultur (Benny Sanusi, 2010) tahapan tahapannya adalah : Pembuatan rak vertikultur Pembuatan media tanam Persemaian tanaman Proses pindah tanaman (transplanting) Pemeliharaan BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa budidaya tanaman sawi dengan menggunakan sistem vertikultur memiliki beberapa manfaat sebagai berikut : Efisiensi dalam penggunaan lahan Penghematan pemakaian pupuk dan pestisida Dapat dipindahkan dengan mudah karena tanaman diletakkan dalam wadah tertentu Mudah dalam hal monitoring / pemeliharaan tanaman . 3.2. Saran Semoga teknik menanam secara vertikultur dapat dikembangkan Mahasiswa dan pemerintah bisa membantu perkembangan menanam secara vertikultur dengan sosialisasi ke masyarakat atau petani agar mengetahui cara budidaya dan keuntungan menanam secara vertikultur. DAFTAR PUSTAKA Andoko Agus. 2004. Budi Daya Tanaman Sawi Secara Vertikultur Organik. Penebar Swadaya. Jakata Benny Sanusi, 2010. Sukses Bertanam Sayuran Di Lahan Sempit. AgroMedia. Jakarta. Sutraminingsih, 2003. Vertikultur Pola Bertanam Secara Vertikal. Kanisius, Yogyakarta.