Loading...

Budidaya Tanaman Wijen

Budidaya Tanaman Wijen
Wijen (Sesamum indicum) merupakan salah satu tanaman tropis yang mudah dibudidayakan dan tahan kering. Budidaya wijen relatif mudah, input rendah dan resiko kegagalan kecil. Wijen termasuk tanaman tahan kering apabila setelah umur 2 bulan tidak mendapatkan air, tanaman akan tetap tumbuh dengan baik sehingga sangat cocok ditanam di musim kemarau sesudah padi.Di Kabupaten Lamongan Jawa Timur, tanaman wijen ditanam pada bulan Juni setelah panen padi MK 1. Sentra tanaman wijen di Kabupaten Lamongan adalah di desa Warukulon Kecamatan Pucuk. Penanaman dilakukan dengan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT). Dengan produktifitas rata-rata1,5 ton per hektar, harga jual sekitar Rp 18.000,- per kg, dan biaya produksi relatif rendah tanaman wijen menjadi salah satu pilihan komoditas yang diminati untuk dibudidayakan di musim kemarauProses budidaya tanaman wijen yang dilakukan di Desa Warukulon Kec Pucuk Kabupaten Lamongan adalah sebagai berikut :1. Persiapan Benih- Ada berbagai macam pilihan varietas wijen yang telah dilepas oleh pemerintah, diantaranya Winas 1, Winas 2, Sumberjo 1, Sumberjo 2, Sumberjo 3, Sumberjo 4. Yang paling banyak digunakan di Kabupaten Lamongan adalah varietas Winas 2. Varietas tersebut lebih diminati karena warna biji yang berwarna putih.- Karena benih wijen berlabel relatif susah didapatkan di pasaran, petani di Kabupaten Lamongan terbiasa menyediakan benih secara mandiri. Benih dipilih dari tanaman yang sehat hasil panen sendiri, kemudian dijemur 2-3 hari agar benar-benar kering. Selanjutnya benih disimpan dalam toples kedap udara dengan ditambahkan beberapa lembar daun jeruk agar benih bisa disimpan lebih lama. Dengan cara tersebut benih wijen masih dapat ditanam hingga musim tanam tahun berikutnya.- Kebutuhan benih kurang lebih 2 kg /ha. Tetapi apabila tenaga tanam belum terbiasa, benih yang dibutuhkan seringkali membengkak dikarenakan jumlah benih dimasukkan ke dalam lubang terlalu banyak. 2. Persiapan Lahan- Lahan bekas tanaman padi tidak perlu di olah (TOT), akan tetapi gulma yang tumbuh perlu untuk dibersihkan dan jerami dipotong pendek. Pembersihan gulma sebaiknya dilakukan secara mekanis untuk menjaga kelestarian tanah. Akan tetapi apabila gulma terlalu banyak, dan membersihkan gulma mekanis dirasa kurang menguntungkan secara ekonomi, maka dapat di aplikasikan herbisida kontak Parakuat diklorida.- Saluran drainase dibuat dengan kedalaman 25 cm dan lebar 20 cm yang bertujuan untuk mengurangi kelebihan air apabila lahan terlalu becek dan sebagai saluran irigasi apabila tanaman membutuhkan pengairan.- Aplikasi pupuk organik dapat dilakukan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Dosis yang dianjurkan adalah 1000-2000 kg pupuk organik per hektar. 3. Penanaman- Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal dengan kedalaman kurang lebih 2 cm.- Jarak tanam sekitar 20 cm dalam barisan dan 35 - 40 cm antar barisan- Jumlah benih di usahakan tidak lebih dari 4 biji / lubang. Karena ukuran biji wijen yang kecil, hal itu akan sangat menyulitkan bagi tenaga tanam yang belum terbiasa. Untuk itu, apabila wijen telah tumbuh, perlu dilakukan penjarangan pada tiap lubang tanam yang jumlah tanaman terlalu banyak. Apabila terdapat lebih dari 4 tanaman dalam 1 lubang, maka kelebihan tanaman perlu dipotong. Jika tidak akan menyebabkan hasil kurang optimal.- Penanaman sebaiknya dilakukan tidak lebih dari 7 hari setelah panen padi untuk menghindari tanah yang terlalu kering. 4. Pemupukan dan Penyiangan- Pemupukan dilakukan pada saat tanaman berumur 14 hari dengan dosis per hektar adalah 100 kg Urea dan 50 kg NPK.- Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur 15 hari. - Selanjutnya pada umur 45 hari jika gulma dirasa masih terlalu banyak, dilakukan penyiangan kedua. Tetapi biasanya apabila tanaman wijen sudah tinggi, populasi gulma dapat tertekan dengan sendirinya. 5. Pengairan- Pengairan dilakukan pada saat tanaman berumur 30 hari atau pada waktu tanaman berbunga.- Pengairan kedua bisa dilakukan pada waktu fase pengisian polong atau saat tanaman berumur sekitar 50 hari untuk meningkatkan hasil dan kualitas biji wijen. Akan tetapi sebagai konsekuensinya, umur tanaman akan bertambah. Tanpa dilakukan pengairan kedua, wijen varietas Winas 2 yang ditanam di kabupaten Lamongan biasa dipanen pada saat umur 75 hari. Apabila dilakukan pengairan kedua, usia panen bisa mencapai 85 hari. 6. Pengendalian Hama dan Penyakit- Tanaman wijen sampai saat ini masih relatif minim serangan hama dan penyakit, sehingga pengendalian seringkali tidak diperlukan. Meskipun demikian ada beberapa hama dan penyakit tanaman yang biasa ditemukan pada tanaman wijen. Untuk hama tanaman wijen antara lain : Ulat grayak, trips, kutu daun dan tikus. Untuk penyakit tanaman wijen diantaranya : Embun tepung, bercak daun dan layu fusarium.- Pengendalian hama yang berupa serangga, menggunakan insektisida (apabila diperlukan) berbahan aktif : dimetoat, lamda sihalotrin, permetrin.- Serangan hama tikus pada wijen hanya terjadi jika tidak ada sumber makanan lain di sekitarnya. Tanaman wijen yang ditanam di hamparan yang terdapat tanaman budidaya lain, cenderung lebih aman dari serangan hama tikus. Tikus cenderung lebih menyukai tanaman pangan lain seperti padi, jagung, kedelai, kacang hijau dan lain-lain.- Pengendalian tikus juga bisa dilakukan dengan pengumpanan yang dilakukan secara serempak pada hamparan luas dan berkesinambungan.- Pengendalian penyakit bercak daun dan embun tepung dilakukan apabila kerusakan lebih dari 10 % dengan menggunakan fungisida kontak berbahan aktif mankozeb, propineb atau ziram. Sedangkan layu fusarium dikendalikan dengan cara mengatur drainase agar tanah tidak terlalu becek serta mencabut dan memusnahkan tanaman yang mati. Apabila diperlukan dapat menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil atau karbendazim. 7. Panen- Dengan perlakuan budidaya yang dilakukan petani di Desa Warukulon, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tanaman wijen dipanen pada umur 75-85 hari.- Pemanenan dilakukan dengan memotong batang wijen sepanjang 10-20 cm di bawah polong.- Selanjutnya batang yang dipotong dijemur di atas terpal hingga polong mengering dan terbuka. - Setelah kering batang wijen diangkat dengan posisi terbalik kemudian digoyang-goyang agar biji wijen berjatuhan dari polong yang terbuka di atas terpal. Bisa juga batang wijen dipuku-pukul agar buah atau polong hancur dan biji wijen keluar- Biji wijen jatuh di atas terpal dikumpulkan kemudian diayak atau dibersihkan dari kotoran sebelum dimasukkan dalam karung untuk diangkut. Penulis : Setiyawan Adi Kuncoro, STP