Loading...

Budidayah Tanaman Bawang Merah

Budidayah  Tanaman Bawang Merah
Balai Penyuluhan Pertanian Kelompok Tani Sumber Sari Utama Pak Sukiman Kecamatan Seram Utara Timur Kobi,Desa Waimusi, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku,menyatakan Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat serta memiliki nilai ekonomi tinggi karena dimanfaatkan sehari-hari sebagai bumbu dapur atau bahan masakan dan berbagai kebutuhan rumah tangga yang lain. Bawang merah dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bisnis yang menjanjikan dan juga prospektif. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah dan Asia Tenggara. Berdasarkan Morfologinya tanaman bawang merah merupakan tanaman yang memiliki akar berbentuk serabut, daunnya seperti pipa, berlubang, bagian ujung daunnya meruncing, dan berwarna hijau muda dan hijau tua bunganya tergolong bunga majemuk. Sedangkan secara sistematis Klasifikasi tanaman bawang merah adalah sebagai berikut :Kingdom : Plantae, Divisio : Spermatophyta, Subdivisio : Angiospermae, Class : Monocotyledonae, ordo : Liliaceae, Family : Liliales, Genus : Allium, Species : Allium ascalonicum L. Balai penyuluhan Pertanian sejak tahun 2020, telah menghasilkan aneka jenis Varietas Unggul Baru (VUB) bawang merah, diantaranya mencapai (potensi 2 ton/ha, cocok untuk dataran rendah), Kuning (potensi 3 ton/ha, cocok untuk dataran rendah), desa waimusi (potensi 2 ton/ha, cocok untuk dataran rendah). Teknis Budidaya Tanaman Bawang Merah Budidaya bawang merah memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam sehari. Tanaman ini cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 - 900 meter dari permukaan laut. Suhu optimum untuk perkembangan tanaman bawang merah berkisar 25-32 derajat Celcius. Sedangkan keasaman tanah yang dikehendaki sekitar pH 5,6-7. Keberhasilan yang diperoleh dari budidaya bawang merah ini, tentu saja dihadapkan pada berbagai masalah (resiko) di lapangan diantaranya cara budidaya, serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur mikro, dll yang menyebabkan produksinya menurun. Kuantitas produksi bawang merah berkaitan erat dengan ukuran dan banyaknya umbi yang dihasilkan. Kualitas bawang merah ditentukan oleh aroma yang tajam serta warna kulit umbinya. Untuk memperoleh kuantitas produksi yang optimal dan berkualitas maka perlu diperhatikan langkah-langkah budidaya bawang merah yaitu sebagai berikut. Pemilihan Bibit Bibit bawang merah yang digunakan adalah bibit yang sehat, warnanya mengkilat, tidak keropos, serta kulitnya tidak luka. Bawang merah bisa diperbanyak dengan dua cara, yakni dengan menggunakan bahan tanam berupa biji dan umbi. Bawang merah yang dipilih adalah varietas yang adaptif dengan ukuran kecil atau sedang. Ukuran umbi bibit yang optimal adalah 3 - 4 gram/umbi. Umbi bibit yang baik yang telah disimpan 2 - 3 bulan dan umbi masih dalam ikatan (umbi masih ada daunnya) Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak (tidak keropos), kulit umbi tidak luka (tidak terkelupas atau berkilau) Benih direndam dengan larutan Hormon Organik sehari sebelum tanam selama 10 menit. Setelah bibit ditiriskan, lalu ditaburi merata dengan satu bungkus (100 g) agensia hayati berbahan aktif Gliocladium + Trichoderma (Hendrata dan Murwati, 2008). Sebelum dilakukan penanaman, ujung umbi bawang merah dipotong 1/3 bagian atau sesuai kebutuhan. Pengolahan Tanah Pengolahan dilakukan untuk menciptakan kondisi struktur tanah dan aerasi yang lebih baik langkah - langkahnya adalah sebagai berikut. Lahan diolah dengan kedalaman ± 30 cm lalu diberi campuran kotoran sapi matang (2,5 ton/ha) + agensia hayati berbahan aktif Gliocladium + Trichoderma setelah itu dibiarkan selama seminggu. Selanjutnya tanah diratakan terlebih dahulu lalu dibuat bedengan dengan ukuran tinggi 25-35 cm lebar 70-80 cm dan panjang bedengan menyesuaikan dengan ukuran dan posisi jalan. Pemasangan mulsa plastik dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma. Untuk mempermudah penyiraman jarak antar bedengan di buat dengan dengan lebar ± 50 cm. Penanaman Jarak tanam yang baik digunakan adalah 15 x15 cm, 15 x 20 cm atau 20 x 20 cm tehnik penanaman bawang merah yang benar adalah sebagai berikut, Sebelumnya tanah dibasahi dulu lalu dibuat lubang yang sudah diatur jarak tanamnya. Bibit ditanam dalam keadaan berdiri dengan jumlah bibit sebanyak 1 bibit per lubang. Penanaman sebaiknya jangan terlalu dalam, cukup ditutup tipis dengan tanah/pasi Pemeliharaan Pemeliharaan pada bawang merah dilakukan dengan cara penyiraman, penyulaman, penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit dalam budidaya bawang merah kegiatan pemeliharaan antara lain meliputi: Penyiraman, penyiraman dapat dilakukan dengan gembor atau selang besar, dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) atau sesuai kondisi tanah/tanaman terutama sehabis hujan atau turun embun untuk menghindari penyebaran penyakit Alternaria porii (trotol). Kunci dari penyiraman adalah memberikan air secara baik pada tanaman sehingga tanaman tidak layu atau sebelum tanaman mengalami stress Penyulaman, dilakukan dengan cara mengganti tanaman bawang merah yang tumbuh abnormal atau mati dengan tanaman yang baru. Pengendalian hama dan penyakit, pada dasarnya untuk mengatasi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pestisida kimia dapat digunakan sebagai alternatif terakhir. Hama dan penyakit yang sering melanda tanaman bawang merah antara lain: (a) Bercak ungu (Alternaria porii (ELL) Cif, mengakibatkan daun bawang kering dan mati, umbi berbentuk tidak sempurna (kecil - kecil) dengan gejala serangan bercak kecil, cekung, warna putih hingga kelabu pada daun, jika membesar bercak seperti membentuk cincin. Pengendaliannya dilakukan dengan menyemprotkan air bersih pada tanaman sehabis turun hujan, aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga hidroksida dan Iprodion (kimia), aplikasi agensia hayati berupa Gliocladium dan Trichoderma. (b) Bercak daun (Cercospora duddiae), mengakibatkan klorosis pada daun, gejala serangannya terdapat bercak pada daun berbentuk bulat, berwarna kuning terdapat pada ujung daun. Cara pengendaliannya dengan aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga hidroksida dan iprodiom. (c) Busuk daun (Peronospora destructor) akibat serangan daun menjadi kering dan mati dengan gejala serangan saat tanaman mulai membentuk umbi pada cuaca yang cukup lembab muncul bercak hijau pucat dan selanjutnya berubah menjadi kapang. Pengendaliannya semprot dengan air bersih sehabis hujan atau pada pagi hari sebelum matahari terbit. Aplikasi fungisida berbahan aktif metalaksil dan tebu konazold, aplikasi agensia hayati berupa Gliocladium dan Trichoderma. (d) Rebah bibit (Phytium debaryanum Hesse), akibat serangan tanaman yang baru tumbuh akan busuk dan mati, gejala serangannya yaitu bibit di persemaian busuk, rebah dan selanjutnya akan mati dengan menjaga kelembaban disekitar persemaian agar tidak terlalu tinggi, aplikasi bakterisida, aplikasi agensia Hayati Berupa Gliocladium Dan Trichoderma. (e) Ulat (Spodophtera exigua) akibat serangan daun tanaman menjadi putus-putus atau robek dan rusak. Gejala serangannya terdapat telur ulat di sekitar tanaman, daun bila diteropong tampak bekas dimakan ulat. Pengendaliannya dengan memotong daun yang terserang dan dibuang di lokasi yang berjauhan, aplikasi insektisida yang berbahan aktif Klorpirifos, Tebufenosida, aplikasi agensia hayati yang berbahan aktif SE-NPV (Spodophtera Exigua-Nuclear Polyhedrosis Virus). Pemupukan Tanaman bawang merah sebaiknya dipupuk dengan Urea 150 kg/ha, ZA 200 kg/ha, SP36 150 kg/ha, KCl 150 kg/ha. Pemupukan diberikan 2 kali yaitu umur 7 hst 1/3 bagian dan 2/3 bagian diberikan pada umur 30 hst. Tanaman sebaiknya ditambah dengan Pupuk Organik Padat (POP) dosis 1 sdm untuk 1 gembor kapasitas 10 liter, dosis pupuk kimia dikurangi sepertiganya. Penambahan pupuk organik berupa pupuk kandang, kompos sebelum tanam atau saat pengolahan tanah dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan agregasi, meningkatkan daya memegang air serta memperkaya tanah dengan berbagai macam unsur hara hasil peruraian dari bahan organik yang dimasukkan ke dalam tanah. Umur 7 hst tanaman dapat disemprot dengan Pupuk Organik Cair (POC), dosis 4 - 5 tutup per tangki, selanjutnya tiap 7 – 10 hari sekali hingga 50 hst. (Widyaningsih) Panen dan pasca panen Panen dilakukan saat tanaman berumur 70-80 hari setelah tanam. Bawang merah yang siap panen ditandai dengan daun sudah mulai rebah dan umbi tersembul ke permukaan tanah. Cara memanen adalah dengan mencabut tanaman,bersihkan dari kotoran dan tanah, bawang merah diikat selanjutnya dijemur dibawah terik matahari langsung atau diletakkan diatas para-para. Umbi bawang merah dapat bertahan 1-2 tahun apabila penanganan pasca panen dan penyimpanannya dilakukan dengan baik. Salah satu cara penyimpanan yang baik adalah dengan menggantung di tempat yang kering atau meletakkan diatas para-para. BPP KOBI PENYULUH PERTANIAN STEVANILLA H OROBAYAM,SST