Urban Farming yang lagi ngetren di kecamatan Kuta Selatan akibat Pandemi covid-19 juga terdapat di Desa Pecatu, dimana akibat sepinya Pariwisata, untuk mengisi kekosongan, dalam mengikuti program betah tinggal dirumah. Di Desa Pecatu yang terkenal dengan kesulitan air, Bapak I Wayan Redana, Pengusaha Muda yang bergerak dibidang pemasaran cofe Luak, yang dikaitkan dengan wisata rumah adat bali, lagi membuat vertikulturn dengan sistem polybag. beliau menyimpulkan pokcay yang ditanam membutuhkan media yang lebih porus dari tomat. dimana campuran pupuk kandang sapi lokal dengan sekam dapat menghasilkan sayur pokcay, sedangkan untuk tomat ditambakna tanah. Kunjungan yang dilaksanakan di desa Pecatu pada Hari jumat tanggal 17 juli 2020 yang dilakukan bersama penyuluh pertanian se kecamatan Kuta selatan, saking asiknya terlena sampai jam 13 wita, salah satunya adalah menerima penjelasan mengenai fibrasi energi yang dipancarkan oleh Rumah Adat yang dikelolanya sebagai salah satu daya tarik wisata, dimana tata letak bangunan, penataan serta filosofi orang kuno dengan keluarga kecil, dibuat berdasarkan lontar Hasta Kosala Kosali dan Hasta Bumi. Disini semua menggunakan perhitungan/Ketekan yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi namun pada saat masa akhir Dharma atau disebut Zaman Kaliyuga, sudah ditinggalkan. Lontar, keris dan seruling disimpan di Menten yaitu bangunan tempat tidur bagi yang dituakan, ditimur disebut Bale, tempat terima tamu, yang diisi dengan gerantang, yaitu gambelan untu joged yang dibuat dari kayu. disebelahnya di tenggara didirikan Lumbung, Dapur di sebelah selatan dan bale dauh/Barat untuk tempat tidur anggota keluarga. diutaranya sember, dan disebelah barat yang sudah dibatasi diletakan teba, ini adalah gudang untuk kegiatan dirumah tanng termasuk tempat menumbuk padi. I Nengah Sujana,SP (Penyuluh Pertanian Madya)