Baru-baru ini bapak Bupati Lampung Selatan DR Zainudin Hasan, M.Hum telah melaksanakan panen buah kelengkeng yang berada di desa Sukatani, Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan pada hari selasa 25 Juli tahun 2017. Bupati sangat antusias bila tanaman kelengkeng ini dapat dikembangkan, melihat prospek pengembangan tanaman kelengkeng di Kecamatan Kalianda masih terbuka luas mengingat Kalianda adalah ibu kota Kabupaten Lampung Selatan, dimana posisi berada di jantung kota tersebut. Luas lahan tanaman kelengkeng tersebut 12 ha yang ditanam secara monokultur sebanyak 2.300 batang. Managemen pengaturan kapan tanaman itu berbuah dan panen dapat diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi kelebihan produksi dan tidak kesulitan dalam pemasaran hasil panen. Rotasi pergiliran jadwal panen tiap batang tanaman dapat diatur dari sekarang ke buah berikutnya sekitar satu tahun.Pemasaran hasil masih terbuka luas, dimana hasil panen hanya mampu memasok ke 3 kecamatan seputarnya, yaitu Kecamatan Kalianda, Sidomulyo dan Pematang Pasir. Kecamatan lain yang berada di seputarnya masih belum tersentuh pemasaran, oleh karena itu peluang pengembangannya masih terbuka luas. Menurut bapak Bupati Lampung Selatan, peluang ini harus dimanfaatkan agar kesejahteraan petani meningkat dan setiap kecamatan memiliki unggulan produk masing-masing. Kalau kecamatan seputarnya sudah mampu terpenuhi, kita juga bisa mengisi pasar ke daerah lain seperti Jakarta, karena Lampung termasuk penyangga ibu kota Jakarta. Menurut pemiliknya, sampai saat ini juga belum mampu memenuhi permintaan pasar dari daerah lain karena terbatasnya produksi, jadi potensi tanaman kelengkeng ini masih terbuka cukup luas untuk dikembangkan. Terlebih, permintaan pasar akan buah kelengkeng yang cenderung meningkat, maka tidak ada salahnya jika masyarakat juga mengikuti jejaknya. Di desa lain sudah ada yang tanam kelengkeng seluas 1 ha di Desa Merak Belantung, sampai saat ini tanaman belum berproduksi.Pemilik tanaman kelengkeng ini adalah bapak Jayadi warga Kecamatan Pematang Pasir dan tempat usahanya berada di Kecamatan Kalianda. Awal merintis tanam kelengkeng mulai dari diversifikasi dengan pepaya dan sekarang sudah monokultur. Varietas kelengkeng yang ditanam juga sudah berganti, pertama yang ditanam adalah varietas pingpong, karena dirasa kurang tepat maka beralih ke varietas Diamond. Bapak Jayadi ini pengusaha yang cukup gigih, sudah mengalami jatuh bangun sampai akhirnya ditemukan varietas yang tepat yaitu Diamond dimana daging buahnya tebal, rasa buahnya manis. Adapun harga bibit kelengkeng saat itu Rp. 70,000 per batang, ditanam dengan jarak tanam 7 meter x 7 meter, dengan luas lahan 12 hektar maka jumlah tanaman mencapai 2,300 batang. Modal awal pembelian bibit kelengkeng sebanyak 2,300 batang = Rp.70,000 x 2,300 = Rp. 161,0000,000, cukup besar. Karena tanaman kelengkeng mulai berbuahnya cukup lama, maka untuk mensiasati itu di awal tanam dilakukan deversifikasi dengan tanaman pepaya supaya ada pendapatan untuk membantu biaya pemeliharaan tanaman kelengkeng.Nilai ekonominya juga cukup baik, dimana harga buah dijual per kg 30.000 rupiah. Kalau jumlah tanamannya 2.300 batang dan masing-masing batang rata-rata mampu menghasil buah sebanyak 50 kg maka produksinya = 115.000 kg. Maka pendapatan kotornya sebesar Rp.30.000 x 115.000 kg = Rp.3,450,000. dalam setiap tahunnya.Secara analisa usaha tani prospek tanam kelengkeng keuntungannya cukup baik. Usaha ini masih merupakan salah satu usaha yang bergelut di bidang hortikultura (tanaman kelengkeng) di desa ini dan membawa dampak yang baik, yaitu mampu menyerap tenaga kerja sekaligus menjadi unggulan dibidang hortikultura.Untuk mengembangkan tanaman kelengkeng sebaiknya perlu mempelajari karakteristik pasar, pemilihan varietas yang disukai oleh konsumen sebagimana pengalaman bapak Jayadi telah melakukan pergantian varietas untuk menyesuaikan dengan selera komsumen. Boleh memilih varietas lain asal disukai oleh konsumen karena muaranya adalah pemasaran hasil, dengan harga sesuai dan rasa buahnya disukai maka pemasaran akan berjalan lancar. Jika ingin ekspansi pemasaran ke daerah lain maka memperhitungkan kompetitor produk sejenis dari daerah lain supaya laku dan unggul dalam pemasaran. Penulis : A. NASIH ALQUDZI ( Penyuluh Pertanian Kalianda)