Kehilangan hasil pada usahatani kedelai secara umum masih tinggi. Perkiraan kehilangan hasil kedelai yang dipanen pada kadar air tinggi 30 – 40 % basis basah (bb) mencapai 15,5 % dan yang dipanen pada kadar air rendah 17 – 20 % bb sebesar 10%. Disamping kehilangan hasil secara fisik, susut mutu/viabilitas benih kedelai dalam penanganan pascapanen juga cukup tinggi, 2,5 – 8,0%. Hal ini disebabkan karena benih kedelai mudah rusak dan cepat turun daya tumbuhnya, sehingga memerlukan cara penanganan yang cepat, tepat dan teliti. Oleh karena itu, tujuan teknologi penanganan pascapanen kedelai adalah menjaga viabilitas benih kedelai supaya tetap sama mendekati seperti pada waktu panen dan mengurangi kehilangan hasil pada semua proses kegiatan yang dilakukan.Penanganan pascapanen kedelai adalah tahapan kegiatan yang dimulai sejak pemanenan sampai siap disimpan atau dipasarkan. Teknologi penanganan pascapanen kedelai membantu mengurangi kehilangan hasil dan mempertahankan viabilitas benih kedelai sehingga didapat harga jual yang tinggi.Kegiatan penanganan pascapanen kedelai umumnya dilakukan oleh petani, kelompok tani, koperasi, penangkar benih dan pedagang pengumpul. Kegiatan tersebut didukung oleh berbagai lembaga dalam masyarakat : Penyuluh pertanian, Lembaga Penelitian /Perguruan Tinggi, Industri Pangan, Industri Peralatan Bengkel Lokal, Penjual Jasa Alsintan dan kebijakan pemerintah (perkreditan, pelatihan, harga jual kedelai dll) yang dalam satu kesatuan dapat disebut sebagai sistem penanganan pascapanen kedelai. Dalam perspektif pendekatan sistem, sinergi antara komponen/pelaku sangat menentukan tercapainya tujuan sistem penanganan pascapanen benih kedelai. Hal ini sangat diperlukan, sejalan dengan upaya pemerintah untuk mencapai sasaran swasembada kedelai.Panen kedelai hendaknya dilakukan pada saat mutu fisiologi benih maksimal, yang ditandai bila sekitar 95 % polong telah berwarna coklat dan sebagian besar daun sudah rontok.Umur tanaman kedelai dapat juga dijadikan pedoman saat panen yang optimal. Keragaman umur panen disebabkan antara lain oleh perbedaan musim tanam, tinggi tempat, suhu udara dan ketersediaan air. Umur panen kedelai secara taksonomik thermal adalah, umur genjah ( 1022 + 24 hingga 1049 + 14, degree-days), umur tengahan (1073 + 13 hingga 1081 + 12, degree-days) dan umur dalam (1154 + 33 hingga 1184 + 57, degree-days) Untuk mendapatkan mutu benih yang baik, memperkecil risiko pecahnya polong dilapang, serta menghindari benih bercendawan, panen kedelai sebaiknya dilakukan segera setelah kadar air benih dibawah 18% bb, sebelum terjadi pembasahan kembali oleh air hujan.Panen dapat dilakukan dengan sabit tajam atau bergerigi dengan memotong pangkal batang. Cara panen ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan cara dicabut, karena cepat, dapat diterapkan pada kondisi kering maupun basah, Rhizobium tetap tertinggal dalam tanah dan brangkasan bersih dari tanah. Untuk pemanenan seluas 100 meter persegi, panen dengan sabit bergerigi, sabit biasa, dan dicabut berturut-turut membutuhkan waktu 40, 60, dan 90 menit.Untuk mempercepat panen kedelai, dapat juga digunakan alat panen dengan penggerak traktor tangan Model Thailand, yang kapasitasnya sekitar enam kali dari cara panen secara manual. Namun demikian penerapannya di Indonedia masih perlu dikaji lebih lanjut mengingat adanya perbedaan varietas kedelai yang ditanam.Panen kedelai dapat juga dilakukan dengan Combine dimana proses pemotongan batang kedelai, perontokan kedelai brangkasan dan pembersihan benih kedelai dilakukan sekaligus dalam satu kesatuan. Hal ini sangat memungkinan karena saat benih kedelai telah kering dibatangnya, kadar airnya kurang dari 14 – 16 % bb. Untuk kondisi iklim di Indonesia, kadar air benih kedelai saat panen umumnya masih > 16% bb sehingga pemanenan dengan menggunakan Combine masih perlu penelitian lebih mendalam. Disamping itu, dengan rata-rata pemilikan lahan petani yang sempit ( Ditulis kembali oleh : Ir. Kukuh Wahyu W (Penyuluh BBP2TP)e-mail : widjajantokukuh@yahoo.comSumber : Balai Penelitian Kacang Kacangan dan Umbi Umbian (Balitkabi)Gambar : Balai Penelitian Kacang Kacangan dan Umbi Umbian (Balitkabi)