Kadar air biji kedelai (17 – 20% bb) hasil perontokan masih perlu dikeringkan sampai kadar air aman (9 – 12 % bb) untuk penyimpanan, khususnya biji kedelai yang akan diperuntukan untuk tujuan benih. Salah satu alat pengering yang dapat digunakan adalah alat pengering resirkulasi untuk biji-bijian , yang mengeringkan biji kedelai secara bertahap sehingga mutu dan kadar airnya lebih seragam. Sumber panas alat pengering ini adalah kompor minyak tanah otomatis dengan tingkat konsumsi bahan bakar 1 – 2 galon/jam (1 galon = 3,785 l). Mesin pengering ini menggunaakan dua unit motor listrik untuk menggerakan conveyor (0,12 kW/1.400 rpm) dan elevator (0,55 kW/1.400 rpm). Analisis biaya dengan asumsi : harga alat Rp 20.000.000/unit; umur ekonomi 5 tahun; bunga bank 16 %/tahun; nilai faktor perbaikan alat 0,05; harga minyak tanah Rp 600/l; jasa pengeringan alat Rp 375/kg; jumlah operator 4 orang; upah operator Rp 20.000/orang/hari; jam kerja alat 10 jam/hari; hari kerja alat 30 hari/tahun; kapasitas alat 2.000 kg/operasi menunjukkan bahwa biaya pokok pengeringan Rp 305.085 setiap kali operasi dengan keuntungan Rp 750.000 dan B/C = 2,46. Aplikasi alat ini sesuai untuk tingkat KUD, karena memerlukan daya listrik 2.070 watt yang jarang dimiliki petani perorangan. Dalam pengoperasian alat pengering benih kedelai perlu diperhatikan ketahanan terhadap deraan suhu pengeringan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya perbedaan sifat fisik dan thermal biji kedelai untuk varietas yang berbeda. Sebagai contoh, untuk mencapai standar mutu benih sebar (daya tumbuh 70%) suhu optimum pengeringan benih kedelai varietas Kaba lebih besar ( 52 – 55 oC) dibandingkan dengan varietas Argomulyo (50.4 oC) Sortasi benih kedelai secara manual dengan cara menampi dan menyilir searah hembusan angin, membutuhkan waktu lama dan mahal. Biaya sortasi benih kedelai sekitar Rp 550/kg dengan kapasitas 40 kg/hari tenaga wanita, sedang untuk benih kedelai konsumsi sekitar Rp 150/kg. Untuk meningkatkan kapasitas sortasi dan mutu benih kedelai dapat menggunakan mesin sortasi benih kedelai tipe saringan lonjong model Balitkabi. Kapasitas alat sortasi benih kedelai dengan menggunakan tipe saringan lonjong mencapai 500 kg input benih/jam. Kelas mutu benih dengan tipe saringan lonjong lebih banyak dibandingkan dengan tipe saringan bulat. Pada tingkat harga alat Rp 16 juta/unit, secara finansial Grader Balitkabi masih mempunyai prospek cukup besar diterapkan di tingkat penangkar benih kedelai; dengan biaya pokok pengoperasian alat (BP) sebesar Rp 54/kg; titik impas (BEP) sebesar 107 t/tahun; waktu pengembalian modal (PBP) selama 7,2 bulan; nilai keuntungan (NPV) selama lima tahun umur ekonomis alat sebesar Rp 64,9 juta; nisbah keuntungan dengan biaya (B/C) sebesar 1,59 dan tingkat pengembalian modal (IRR) sebesar 179,7 %. Disamping itu mempunyai prospek diterapkan dalam bentuk penjualan jasa penyortiran, agar benih kedelai yang dihasilkan petani mutunya sama dengan mutu kedelai impor utamanya dari keseragaman ukuran (diameter) benih.Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor, kondisi kulit dan kadar air awal benih. Faktor eksternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan. Kadar air awal dan bahan kemasan merupakan kombinasi yang baik dalam mempertahankan kadar air dan memperkecil tingkat kerusakan benih selama penyimpanan. Benih kedelai yang dimasukan kedalam kantong plastik kemudian dibungkus dengan karung goni, pada kadar air awal 7 - 8% bb tidak berubah selama 5 bulan penyimpanan dibandingkan dengan yang dimasukkan kedalam karung goni. Disamping itu, benih kedelai yang disimpan pada kadar air benih 9 - 12 % bb mengalami laju kerusakan lebih kecil dibandingkan dengan yang disimpan pada kadar air awal 16% bb. Urgensi penurunan kadar air agar siap simpan dengan mutu tinggi dapat ditunjukkan dari berbagai macam contoh kadar air awal penyimpanan benih (10 %bk, 16 %bk dan 22 %bk). Benih dengan kadar air awal 10 %bk dapat mempertahankan viabilitas benih sebesar 90 % hingga lama penyimpanan 120 bulan.Selain menggunakan kantong plastik, penyimpanan benih kedelai untuk tujuan benih di tingkat petani dapat menggunakan beberapa wadah sederhana. Semua wadah diberi alas seng yang dilubangi secukupnya dengan paku seukuran setengah diameter benih kedelai. Di bawah alas diberi kantong-kantong berisi kapur hidup yaitu bongkahan kapur yang masih kuat menyerap air, atau abu sekam padi kering yang warnanya keputih-putihan. Kain bahan kantong tersebut sebaiknya dari cita yang berlubang-lubang kasar. Setiap bulan isi kantong perlu diganti, guna mengefektipkan penyerapan uap air yang dihasilkan dari benih kedelai yang disimpan. Kapasitas penyimpanan benih kedelai dengan menggunakan Gentong, Termos dan Kaleng pedaringan adalah sebesar 50 kg, 10-15 kg dan 200 kg. Ditulis kembali oleh : Ir. Kukuh Wahyu W (Penyuluh BBP2TP)e-mail : widjajantokukuh@yahoo.comSumber : Balai Penelitian Kacang Kacangan dan Umbi Umbian (Balitkabi)Gambar : Balai Penelitian Kacang Kacangan dan Umbi Umbian (Balitkabi)