Seperti halnya tanaman pada umumnya, padi juga memiliki cara-cara dan teknik tertentu dalam menanamnya. Cara ini tentu saja akan menjadi salah satu faktor penentu berhasil tidaknya sebuah budidaya. Hal yang sama juga berlaku dalam memproduksi berbagai jenis benih sumber padi. Kendatipun cara menanam dan memproduksi benih sumber padi dianggap mudah akan tetapi kegagalan masih sering terjadi. Untuk itu, diperlukan penguasaan pengetahuan yang cukup sehingga upaya memproduksi benih sumber padi dapat berhasil dengan baik sekaligus meningkat produktivitasnya. Berikut ini akan dibahas mengenai bagaimana cara memproduksi benih sumber padi mulai dari pemilihan lahan hingga panen dan pengolahan hasil.Pemilihan Lahan: Lahan yang dipilih sebaiknya lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama. Tanahnya harus subur dengan air irigasi yang baik. Isolasi jarak minimal antara dua varietas yang berbeda adalah 3m. Isolasi waktu dapat dilakukan untuk memperoleh waktu pembungaan berbeda bagi pertanaman dari varietas yang mempunyai umur relatif sama. Isolasi ini sekitar 4 minggu.Persemaian: Lahan persemaian sebaiknya lahan bera atau bekas pertanaman varietas yang sama. Teknik pembuatan persemaian: 1)Tanah diolah, dicangkul atau dibajak, kemudian dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 2 hari, kemudian dibiarkan mengering sampai 7 hari kemudian agar gabah yang ada di tanah tumbuh. Setelah itu tanah diolah untuk kedua kalinya sambil membersihkan lahan dari gulma dan tanaman liar; 2)Buat bedengan dengan tinggi 5-10cm, lebar 110cm dan panjang disesuaikan dengan ukuran petak dan kebutuhan; 3)Luas lahan persemaian 4% atau sekitar 400m2 untuk setiap hektar tanamannya; 4)Pupuk lahan persemaian adalah urea, TSP, dan KCl. Takaran masing-masing 15g/m2. Sebelum disebar, benih direndam dan diperam terlebih dahulu masing-masing 24 jam; 5)Benih yang mulai berkecambah ditabur di persemaian dengan kerapatan 25-50g/m2 atau 0,5-1,0g benih/m2 lahan; 6)Kebutuhan benih untuk 1ha areal pertanaman adalah 10-20kg.Penyiapan Lahan: 1)Tanah diolah secara sempurna, yaitu dibajak pertama, digenangi selama dua hari dan dikeringkan selama 7 hari, lalu dibajak yang kedua, digenang selama dua hari dan dikeringkan lagi selama 7 hari. Terakhir tanah digaru untuk pelumpuran dan perataan; 2)Untuk menekan pertumbuhan gulma, setelah diratakan lahan disemprot dengan herbisida dan dibiarkan selama 7-10 hari.Penanaman: 1)Penanaman dilakukan saat bibit berumur 15-21 hari. Satu bibit per lubang; 2)Bibit yang ditanam sebaiknya memiliki fisiologi yang sama, dicirikan oleh jumlah daun yang sama, misalnya dua atau tiga daun per batang; 3)Jarak tanam 20x20cm atau 25x25cm bergantung pada kondisi lahan dan varietas yang ditanam; 4)Bibit ditanam pada kedalaman 1-2cm; 5)Penyulaman dilakukan 7 hari setelah tanam dengan bibit dari varietas dan umur yang sama; 6)Setelah tanam, air irigasi dibiarkan macak-macak (1-3m) selama 7-10 hari.Pemupukan: 1)Takaran pupuk tergantung kondisi lahan setempat. Untuk pupuk SP36 dan KCl takarannya disesuaikan dengan ketersediaan hara P dan K dalam tanah. Takaran dan waktu pemberian pupuk urea, sesuai kebutuhan tanaman menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Teknik pemupukannya: a)Pupuk dasar 50-75kg urea/ha diberikan sebelum 14 hari setelah tanam; b)Mulai 25-28 hst sampai 50 hst lakukan pengukuran tingkat kehijauan warna daun tanaman padi dengan alat BWD dengan selang waktu 7-10 hari sekali. Bila tingkat kehijauan daun tanaman dibawah skala 4 pada BWD, maka berikan urea dengan takaran antara 50-100kg/ha; 2)Pupuk P diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar urea; 3)Pupuk K, diberikan seluruhnya bersamaan dengan pemberian pupuk dasar, atau 50% diaplikasikan sebagai pupuk dasar dan sisanya diberikan pada saat primordia berbunga; 4)Dapat juga dilakukan sesuai anjuran umum, yaitu 120-240 kg urea, 100-120 kg SP36 dan 100-150 kg KCl.Pengairan: 1)Selesai tanam, ketinggian air sekitar 3cm selama tiga hari; 2)Setelah itu, air dibuang sampai kondisi macak-macak dan dipertahankan sampai 10 hari; 2)Dari fase pembentukan anakan sampai fase primordia bunga lahan digenangi dengan ketinggian air 3cm; 3)Menjelang pemupukan susulan ke I dilakukan lagi drainase dan sekaligus penyiangan; 4)Pada fase primordia bunga hingga fase bunting, lahan harus digenangi dengan ketinggian air 5cm, untuk menekan pertumbuhan anakan yang baru; 5)Seminggu menjelang panen, sawah dikeringkan agar gabah lebih cepat matang dan lahan tidak becek sehingga memudahkan saat panen.Penyiangan: Penyiangan dilakukan minimal 2-3 kali tergantung keadaan gulma. Penyiangan dapat mengunakan landak atau gasrok. Penyiangan dilakukan pada saat pemupukan susulan pertama atau kedua. Hal ini dimaksudkan agar pupuk yang diberikan hanya diserap oleh tanaman padi, dan tidak terjadi persaingan penyerapan pupuk dengan gulma karena gulma sudah dibersihkan.Pengendalian Hama dan Penyakit: Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara terpadu. Wereng coklat dan tungro merupakan hama dan penyakit utama. Yang harus diperhatikan: 1)Hindari penanaman di daerah endemis hama dan penyakit; 2)terapkan teknologi PHT dengan pemantauan keberadaan tungro dan populasi wereng secara intensif; 3)Gunakan insektisida fipronil dan imidakloprid untuk mengendalikan hama wereng; 4)lakukan pemantauan penyakit tungro melalui pengamatan terhadap hama wereng hijau sejak di persemaian.Rouging atau Seleksi/Pemurnian: Salah satu syarat benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi. Oleh karena itu diperlukan rouging yaitu kegiatan membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang benihnya diproduksi. Pelaksanaan rouging dapat dilakukan mulai stadia vegetatif sampai stadia generatif.Panen dan Pengolahan Hasil: 1)Lakukan panen waktu gabah telah masak fisiologis, atau apabila 90-95% malai telah menguning; 2)Pengeringan benih harus mencapai kadar air 10-12,5%; 3)Pada saat panen, dua baris tanaman yang paling pinggir dipanen terpisah, dan gabah dari dua baris tanaman pinggir tidak digunakan sebagai benih; 4)Lakukan pengukuran kadar air gabah saat tanaman dipanen menggunakan moisture meter; 5)Benih yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam kantong/karung dan diberi label yang memuat nama varietas, kelas benih, bobot benih, kadar air benih dan daya tumbuh benih. (Inang Sariati)Sumber: 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan2) https://www.google.co.id/search?q=padi