Ada berbagai macam cara menanam jagung salah satunya dengan menerapkan metode tanpa olah tanah ( TOT ). Pengertian tanpa olah tanah ( TOT ) disini adalah cara penanaman tanpa perlakuan persiapan lahan seperti pembalikan dan penggemburan tanah terlebih dahulu, hanya diperlukan lubang untuk membenamkan benih kedalam tanah. Perlu diketahui cara menanam jagung tanpa olah tanah ini tidak bisa diterapkan disemua jenis lahan. Hanya lahan yang memiliki tingkat kegemburan tertentu yang cocok untuk metode ini. Tanah yang keras tidak bisa menerapkan metode tanpa olah tanah.Biasanya metode tanpa olah tanah cocok diterapkan di lahan sawah, bekas tanman padi yang telah selesai di panen. Bisa diterapkan di sawah tadah hujan maupun sawah irigasi tekni yang ingin menerapkan rotasi tanaman. Persiapan Lahan 1. Penyiapan Mulsa JeramiBersihkan jerami sisa panen padi dari lahan dengan cara merajang atau mencacahnya. Kemudian taburkan secara merata di atas permukaan lahan. Jerami ini berguna sebagai mulsa penutup tanah.2. Penyiapan DrainaseDrainase dibuat berbentuk garis lurus dengan jarak antar ruas sekitar 2 meter. Tujuan pembuatan drainase ini untuk membuangkelebihan air, karena tidak ada pengolahan tanah, seperti peninggian bedeng tanaman jangan sampai lahan terendam air.3. Pembersihan GulmaBila lahan yang digunakan ditumbuhi gulma sebaiknya terapkan pembersihan gulma dengan herbisida. Setelah 3 hari kontrol kembali lahan, apakah masih terdapat gulma atau tidak. Bila masih terdapat gulma lakukan lagi penyemprotan. Seminggu setelah penyemprotan herbisida, lahan siap untuk ditanami.4. Pemupukan dan PengapuranDosis pupuk organik untuk tanaman jagung sekitar 500 kg per hektar. Bila perlu bisa dilakukan pengapuran, dengan cara menebarkan kapur dalam bentuk larikan. Dosis pengapurang 300 – 400 kg per hektar. Tahapan Penanaman 1. Penyiapan benih Gunakan benih unggul yang memiliki tingkat keberhasilan tumbuh lebih dari 95 %. 2. Pengaturan jarak tanam Jarak tanam untuk tanaman jagung dalam satu baris sekitar 20 cm, sedangkan jarak antar baris 70 – 75 cm. 3. Penanaman Lubang tanam dbuat dengan tugal. Kedalaman lubang tanam sekitar 3 – 5 cm. Masukkan 2 benih jagung dalam satu lubang tanam. Kemudian tutup dengan tanah jangan dipadatkan. Siapkan juga tempat penyemaian benih secara terpisah, gunanya untuk menyulam tanaman jagung yang gagal tubuh. Agar tanaman hasil sulaman memiliki umur yang sama dengan tanaman yang telah ditanam di lahan. Periksa pertumbuhan benih seteah satu minggu. Kemudian sulam benih yang gagal tumbuh dengan bibit yang telah disemaikan di tempat terpisah. Usahakan penyulaman dilakukan dengan tanaman yang seumur. 4. Pemberian pupuk tambahan Pemupukan tambahan dilakukan sebanyak 2 – 3 kali dalam satu masa tanam tergantung dari tingkat kesuburan tanah dan jenis benih yang digunakan. Jenis pupuk yang dibutuhkan tanaman jagung harus memenuhi unsur N, P dan K. Takaran pupuk untuk budidaya jagung berdasarkan anjuran BPTP per hektarnya dalah 250 kg Urea, 200 kg NPK, 50 kg ZA, 50 kg SP36, 500 kg organik. Untuk frekuensi pemupukan dua kali diberikan pada 10 dan 35 hst. Untuk frekunsi pemupukan tiga kali diberikan pada umur 7 – 10 hst, 28 – 30 hst dan 40 - 45 hst. 5. Pengairan Pengairan yang paling mudah digunakn untuk penanaman jagung di lahan sawah adalah dengan sistem penggenangan. Caranya alirkan air ke saluran drainase yang telah dibuat. Biarkan air meresap pada tanah bedengan. Setelah tanah tampak basah keluarkan kembali air dari saluran drainase. Ada 5 fase pertumbuhan tanaman jagung yang memerlukan pengairan yaitu fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan vegetatif, fase pembungaan, fase pengisian biji dan fase pematangan. 6. Panen dan pasca panen Tanaman jagung bisa dipanen 100 hst tergantung dari jenis benih yang digunakan.secara fisik jagung yang siap di panen terlihat dari daun klobotnya yang mengering, berwarna kekuningan.Setelah panen jagung harus dikeringkan terlebih dahulu. Jagung yang masih basah sangat rentan dengan serangan jamur atau cendawan. Jamur bisa merusak hasil panen hingga lebih dari 50 %.