Loading...

Cara mendapatkan bibit yang baik

Cara mendapatkan bibit yang baik
Keterbatasan pasokan daging antara lain disebabkan karena produksi sapi bakalan di dalam negeri secara kualitatif dan kuantitatif masih sangat terbatas. Peningkatan produksi daging dapat dilakukan dengan mendorong peningkatan populasi sapi produktif yang dibarengi dengan peningkatan produktivitas. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya konkrit untuk mengurangi pengurasan sapi produktif, peningkatan mutu genetik ternak, penyediaan pakan lokal berkualitas dan murah serta memperbaiki manajemen sistem pemeliharaan termasuk pencegahan dan pemberantasan penyakit.Sampai saat ini belum ada peternak komersial yang berusaha menghasilkan sapi bakalan, sehingga hampir 99% pengadaan bakalan dilakukan oleh peternak kecil. Usaha dalam bidang breeding, ternyata kurang menarik bagi petani karena kurang memberi keuntungan yang memadai, bahkan cenderung merugi. Bila seekor sapi dara (siap kawin) harga Rp.3-4 juta, biaya pakan dan pemeliharaan Rp.4.000/hari dan jarak beranak sekitar 15-18 bulan (500 hari) maka untuk menghasilkan pedet yang nilainya sekitar Rp.1-1,5 juta memerlukan biaya (bunga bank dan perawatan) sekitar Rp. 2,5 juta. Pengembangan pembibitan ternak sapi saat ini mulai diarahkan pada peningkatan mutu genetik ternak, sumber daya ternak, daya dukung wilayah, pengawasan mutu dan penguasaan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ternak. Untuk mendapatkan bibit sapi potong yang berkualitas, perlu dilakukan pengawasan mutu bibit sesuai dengan standar pemilihan dan penilaian sapi potong. Seleksi atau pemilihan sapi yang akan dipelihara merupakan salah satu faktor penentu dan mempunyai nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan daging sehingga diperlukan upaya pengembangan pembibitan sapi potong secara berkelanjutan. Dalam melakukan pemilihan calon bibit, selain menentukan jenis kelamin, usia dan bobot badan, pemilihan bakalan dapat dilakukan dengan pengamatan fisik atau penilaian (Judging) seperti berikut (1) Pandangan dari samping ,Penilaian dilakukan pada jarak 3,0-4,5m.Serta Perhatikan kedalaman tubuhnya, keadaan lutut, kekompakan bentuk tubuh. (2) Pandangan Belakang :Penilaian dilakukan pada jarak + 3,0 m dan Perhatikan kelebaran pantat kedalaman otot, kelebaran dan kepenuhannya (3) Pandangan Depan, Penilaian pada jarak + 3,0 mdan Perhatikan bentuk dan ciri kepalanya kebulatan bagian rusak, kedalaman dada dan keadan pertulangan serta keserasian kaki depan (4) Perabaan :Penilaian ini untuk menentukan tingkat dan kualitas akhir melalui perabaan yang dirasakan melalui ketipisan, kerapatan, serta perlemakannya. Bagian-bagian daerah perabaan pada penilaian (judging) ternak sapi seperti Bagian rusuk, Bagian Tranversusprocessus pada tulang belakang, Bagian pangkal ekor,Bagian bidang bahu .Penilaian tersebut dilakukan pada setiap individu ternak sapi yang akan dipilih dengan cara mengisikan skor yang sesuai dengan penilaian melalui pengamatan, pandangan dan perabaan. Dalam hal ini penilaian harus dilakukan seobjektif mungkin. Untuk menunjang hasil yang lebih akurat, penilaian tersebut lazimnya dilengkapi lagi dengan pengukuran bagian-bagian tubuh yaitu tinggi pundak/ gumba, panjang badan, lingkar dada dan dalam dada. Pemilihan terhadap bibit sapi potong meliputi : Sifat kualitatif dan kuantitatif . UntukSifat Kualitatif meliputi : Warna bulu jantan dan betina , Bentuk tanduk jantan dan betina ,Bentuk tubuh jantan dan betina sedangkan untuk Sifat Kuantitatif meliputi :Berat badan jantan dan betina,Tinggi gumba jantan dan betina ,Umur jantan dan betina, Lingkar dada jantan dan betina, Lebar dada jantan dan betina, Panjang badan jantan dan betina, Lingkar skrotum jantan Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah: (1). Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.(2). Matanya tampak cerah dan bersih.(3). Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.(4). Kukunya tidak terasa panas bila diraba.(5). Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.(6). Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.(7). Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.(8). Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari. Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:(1). tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.(2). kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.(3). laju pertumbuhannya relatif cepat.(4). efisiensi bahannya tinggi. Pejantan yang baik memiliki ciri (1) Bentuk tubuh : besar kuat dan sehat, ukuran perut dan lingkar dada lebar (2) Bentuk kepala : besar pendek dan lebih besar daripada betina (3) Punggung : lurus kuat dan lebar, pinggangnya pun lebar (4) Tulang rusuk : jarak antar rusuk lebar, ukuran rusuk besar dan panjang (5) Paha : rata antara kedua paha tersebut juga cukup terpisah (6) Kaki : kuat terlebih kaki belakang Penulis : Sad Hutomo Pribadi (BBP2TP)Sumber Bacaan :Loka Penelitian Sapi Potong, Jawa Timurhttp://sigid.blog.ugm.ac.id/2010/04/12/ciri-eksterior-bibit-sapi-potong-yang-baik/